Handaru Arya Adhyasta
Sudutnalar.com, 7 Oktober 2026

Sumber : Dokumentasi Aflah Hafiz Amanullah
PURBALINGGA, SUDUT NALAR — Aflah Hafiz Amanullah masih ingat betul rasa itu: tangan yang gemetar tepat sebelum ia bicara di depan audiens untuk pertama kalinya sebagai duta. Hari ini ia dikenal sebagai Duta Generasi Berencana (GenRe) Purbalingga, sosok yang bertugas menjadi teladan sekaligus penyambung informasi bagi remaja di daerahnya. Tetapi bagi Aflah, yang paling berkesan dari perjalanan itu bukan gelarnya. Yang paling berkesan adalah sebuah pertanyaan yang muncul di kepalanya sendiri.
“Tentunya gemetar, bukan karena tidak percaya diri, tapi seolah diri saya menanyakan kepada saya apakah saya sudah pantas menjadi duta,” tuturnya.
Jika ditelaah, gemetar itu memperlihatkan cara Aflah memandang perannya. Ia tidak menganggap gelar duta sebagai hadiah yang boleh dinikmati begitu saja, melainkan amanah yang harus dibuktikan. Pertanyaan “sudah pantaskah aku?” menjadi semacam pengingat yang menjaganya tetap berhati-hati sejak langkah pertama.
Pengakuan itu terdengar janggal jika melihat kepribadiannya. Aflah mengaku tidak pernah menjadi anak yang pemalu. Rasa percaya diri sudah ia tanamkan sejak kecil dan menurutnya itulah yang membuat orang mau memercayainya. “Sudah pede, sedari kecil saya selalu menanamkan karakter percaya diri, karena hal itulah saya dapat dipercaya oleh banyak orang,” katanya. Jadi, gemetar itu bukan soal nyali. Ia lebih mirip tanda bahwa Aflah sadar sedang memikul tanggung jawab yang tidak ringan.
Meski begitu, keraguan terhadap dirinya tidak pernah berubah menjadi keinginan berhenti. Pertanyaan tentang itu ia jawab tanpa berpikir lama. “Tidak pernah ragu, karena niat saya adalah untuk berdampak, dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain,” ujarnya.

Sumber : Dokumentasi Aflah Hafiz Amanullah
Dukungan tidak datang dari semua arah sejak awal. Sebagian temannya belum paham apa itu Duta GenRe dan menganggapnya hanya sebatas kegiatan atau ajang. Ada pula yang menjadikannya bahan candaan. “Ada juga yang sempat bercanda dan meledek,” ucapnya. Di rumah, keadaannya berbeda. Keluarga mendukung dan terus mengingatkannya agar menjalankan peran itu dengan sungguh-sungguh. Waktu pelan-pelan mengubah pandangan teman-temannya. “Mereka mulai memahami bahwa peran ini punya tanggung jawab untuk mengedukasi dan menjadi contoh yang baik bagi remaja lainnya,” kata Aflah.
Titik balik yang paling ia ingat justru datang dari percakapan biasa. Seorang temannya pernah menyimpan banyak keresahan tentang masa depan, tetapi tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Aflah mendengarkan. Dari situ ia mengerti bahwa tugas seorang duta tidak berhenti pada penyampaian materi. “Menjadi Duta GenRe bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang menjadi seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi,” tuturnya. “Kadang, hal sederhana seperti didengarkan dan diberi ruang untuk bercerita bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian.”
Kata “menghakimi” muncul lagi dan lagi dalam jawaban-jawabannya. Ia menyebutnya saat menceritakan temannya, lalu mengulanginya ketika membicarakan lingkungan yang ia impikan. Seolah bagi Aflah, rasa takut dihakimi adalah tembok pertama yang harus diruntuhkan sebelum remaja berani bicara tentang masa depan.
Dari pengalaman itu, Aflah menunjuk satu persoalan remaja Purbalingga yang menurutnya jarang dibicarakan, yaitu kebingungan menentukan arah masa depan. Banyak remaja punya potensi, katanya, tetapi belum punya ruang untuk berdiskusi, mencari informasi, dan mengenali diri. “Padahal, keputusan yang dibuat di usia remaja bisa sangat berpengaruh terhadap masa depan mereka,” ujarnya.
Karena itu, yang ia impikan bukan acara besar atau program megah. Aflah ingin mengubah cara remaja memandang diri sendiri. Ia berharap mereka berani mengenali potensi, punya cita-cita, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. “Saya ingin menciptakan lingkungan di mana remaja merasa nyaman untuk bertanya, bercerita, dan belajar tanpa takut dihakimi,” katanya.
Pada akhir percakapan, saya bertanya tentang kesan yang ingin ia tinggalkan setelah masa jabatannya selesai. Aflah tidak menyebut piala atau penghargaan. “Saya ingin diingat sebagai duta yang hadir, bukan hanya terlihat. Bukan hanya dikenal karena selempang atau gelarnya,” ujarnya. “Saya ingin ketika masa jabatan saya selesai, ada remaja yang merasa pernah mendapatkan sesuatu yang berarti dari kehadiran saya.”
Saya terdiam sebentar. Di depan saya duduk seorang pemuda yang dulu gemetar karena merasa belum pantas, dan kini justru paling lantang menolak ukuran “pantas” yang hanya dilihat dari selempang di bahu.
Mungkin itulah jawaban atas pertanyaan yang dulu membuat tangannya gemetar. Rasa pantas ternyata tidak datang dari selempang di bahu, tetapi dari seberapa sering seseorang bersedia duduk, diam, dan mendengarkan sampai orang di depannya merasa tidak sendirian.
Editor : Muhammad Yayan Maulana
