sudutnalar.com, 22 September 2026

SEMARANG, SUDUT NALAR — Menjaga Kota Semarang agar tetap aman dan saling menghargai antargolongan bukan hanya urusan pemerintah. Di tengah masyarakat, ada tokoh-tokoh yang terus bergerak tanpa lelah. Salah satunya adalah Bapak Ahmad Sanusi, S.Pd., M.Pd. Selaku Takmir Masjid Nushrat Jahan Simpang Lima, pria yang akrab disapa Pak Sanusi ini terlibat aktif dalam dialog lintas iman untuk mencari solusi bersama atas permasalahan Kota Semarang sepanjang tahun 2026.
Bagi Pak Sanusi, urusan agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk masalah lingkungan. “Tokoh agama merasa terpanggil untuk ikut aktif dalam menyelesaikan masalah-masalah lingkungan, karena pada dasarnya teologi harus bersinergi dengan ekologi. Misalnya prinsip kebersihan sebagian dari iman, itu artinya lingkungan yang bersih merupakan cerminan keimanan seseorang,” ujar Pak Sanusi.
Prinsip ini bukan sekadar kata-kata. Pada 23 April 2026 di UIN Walisongo Semarang, Pak Sanusi ikut berpartisipasi dalam diskusi tokoh agama dan masyarakat untuk membahas bahaya sampah plastik dan pencemaran air. Tidak berhenti di situ, pada 5 September 2026 di Hotel Noormans Semarang, ia kembali hadir sebagai salah satu tokoh lintas agama guna membahas penanganan banjir dan rob yang sering menyusahkan masyarakat pesisir.
Dari dua pertemuan tersebut, para tokoh agama sepakat mengirim tuntutan resmi ke Pemkot Semarang. Mereka meminta pemerintah segera mengeruk sungai yang dangkal, menyediakan tempat sampah sementara yang memadai, dan menindak tegas siapa saja yang membuang sampah sembarangan ke sungai

Selain masalah lingkungan, Pak Sanusi juga ikut bersuara tegas dalam urusan kemanusiaan. Menanggapi kasus penyiraman air keras oleh oknum aparat terhadap aktivis Andre Yunus, ia bersama para pemuka agama lain berkumpul di Vihara Tanah Putih pada 16 Mei 2026. Di sana, mereka sepakat mengeluarkan siaran pers bersama yang menolak keras segala bentuk kekerasan oleh aparat di Kota Semarang.
Kepedulian Pak Sanusi dalam ikut merawat toleransi di Kota Semarang dengan terlibat dalam advokasi pembangunan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Leyangan. Dengan memfasilitasi para penggerak lintas iman untuk bermusyawarah di Masjid Nushrat Jahan, pertemuan tersebut menghasilkan solusi yang menyejukkan. Para tokoh lintas iman sepakat untuk mendampingi dan membantu pihak gereja mengurus kembali surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sesuai aturan yang berlaku.
Ditambah dengan diskusi rutin merawat keberagaman yang digelar di Masjid Nushrat Jahan Erlangga Barat pada 10 Januari 2026 lalu, seluruh aksi nyata ini menunjukkan bahwa toleransi di tangan Pak Sanusi bukan sekadar slogan. Toleransi adalah kerja nyata yang menyentuh langsung urusan lingkungan, keadilan, dan kedamaian warga Semarang sehari-hari.
Penulis : Taheera Putri
Penyunting : Hilmaida Nailal Karomah
