

PURWOKERTO, SudutNalar – Fadya Rhaida, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, berhasil meraih prestasi dengan terpilih sebagai Putri Kampus Indonesia kategori Komunikasi. Pencapaian tersebut diraih setelah Fadya mengikuti rangkaian seleksi dan karantina yang berlangsung hingga Agustus lalu di Ibu Kota Nusantara (IKN). Perjalanan Fadya menuju ajang nasional tersebut dimulai dari inisiatifnya untuk mendaftarkan diri secara mandiri. Meskipun mendaftar secara pribadi, Fadya tetap membawa tanggung jawab untuk mengharumkan nama almamaternya di tingkat nasional.
“Persiapannya cukup panjang, kurang lebih tiga bulan. Mulai dari pembekalan, penyusunan program advokasi, hingga latihan presentasi dan catwalk,” ujar Fadya.
Menurut Fadya, proses penilaian dalam ajang tersebut tidak hanya berfokus pada penampilan peserta, tetapi juga mempertimbangkan substansi advokasi yang disampaikan oleh masing-masing peserta. Dalam ajang tersebut, Fadya menyampaikan advokasi yang berfokus pada pemanfaatan platform digital untuk pengembangan diri serta keberanian mahasiswa dalam menyuarakan isu-isu penting di lingkungan perguruan tinggi. Fadya secara khusus memusatkan pada pentingnya penanganan terhadap tiga dosa besar pendidikan, yaitu perundungan (bullying), intoleransi, dan kekerasan seksual.
“Tiga hal itu masih sering terjadi di lingkungan kampus. Melalui peran ini, saya ingin mendorong pemahaman yang lebih luas agar kampus menjadi tempat yang aman dan kondusif bagi seluruh mahasiswa untuk belajar,” tegasnya.
Selain mengangkat isu lingkungan kampus, Fadya juga mengajak mahasiswa untuk berani mengekspresikan potensi diri melalui media sosial. Menurutnya, di era digital, keberanian menunjukkan kemampuan dan keunikan diri dapat menjadi modal awal untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan diri di bidang profesional. Menjalankan peran sebagai mahasiswa aktif sekaligus Putri Kampus Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi Fadya, terutama dalam mengatur waktu. Fadya sempat menghadapi jadwal yang berbenturan antara kegiatan perkuliahan dan agenda karantina. Tetapi Fadya bisa melalui atau menghadapi semuanya dengan baik.
“Kuncinya ada pada skala prioritas. Kita harus memetakan mana yang paling penting dan mendesak. bagaimanapun, pendidikan tetap menjadi prioritas utama saya,” jelasnya.
Fadya memberikan motivasi kepada mahasiswa yang ingin mencoba hal baru atau mengikuti ajang yang sama, tetapi masih merasa ragu.
“Jangan takut untuk melangkah. Sekecil apa pun langkah yang kita ambil hari ini akan memberikan dampak yang lebih besar di masa depan. Jika dari awal merasa ragu, dobrak saja ketakutan itu karena kita tidak akan pernah tahu hal baik apa yang menunggu di depan jika tidak berani mencoba.”
Penulis: Mimma Kani Aprisa
Editor: Isyana Nur Fadhillah
