
CILACAP, SudutNalar – Aroma minyak telon dan beras kencur menyeruak lembut di sebuah sudut ruangan, membawa kehangatan yang tak asing bagi mereka yang mengenal sosok Sanis. Dengan jemari keriput namun penuh kelembutan, perempuan tua itu dengan cermat mengusapkan minyak hangat ke tubuh mungil seorang bayi. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, hanya ada pengalaman berpuluh tahun yang telah mengalir dalam darahnya secara turun-temurun.
Sanis telah mengabdikan hidupnya sebagai dukun bayi sekitar tahun 2005. Keahlian ini bukan sekadar profesi yang dipelajarinya dari buku, melainkan warisan leluhur yang mengalir di keluarganya. Dahulu, di era ketika akses kesehatan modern masih terbatas, peran dukun bayi seperti Sanis begitu krusial. Warga desa menggantungkan harapan keselamatan ibu dan anak di tangan-tangan hangat mereka saat persalinan tiba.
​”Dulu kan keturunan. Dulu kan suka ngelahirin sendiri, sekarang kan enggak boleh,” kenang Sanis saat menceritakan awal perjalanan profesinya.
Namun, zaman terus bergerak maju. Regulasi kesehatan kini melarang persalinan dilakukan secara mandiri oleh dukun bayi guna menekan angka kematian ibu dan bayi. Alih-alih merasa tersisih atau gigit jari, Sanis memilih untuk beradaptasi. Sanis memeluk perubahan zaman dengan penuh kerendahan hati. Ia tidak lagi memimpin proses persalinan secara mandiri, melainkan bertransisi menjadi mitra setia bagi para bidan dan dokter di desanya.
Kini, fokus pengabdian Sanis beralih pada perawatan pascapersalinan. Setelah bidan atau dokter menyelesaikan proses medis terutama di tengah maraknya prosedur persalinan sesar saat ini Sanis hadir untuk melengkapi. Ia bertugas memandikan bayi yang baru lahir, merawat tali pusat (nyepat), hingga memberikan stimulasi pijat laktasi bagi sang ibu agar air susu ibu (ASI) dapat keluar dengan lancar.
Bagi Sanis, batasan medis bukanlah penghalang, melainkan panduan keselamatan. Ia sepenuhnya patuh pada aturan kesehatan modern. Perut ibu tidak lagi diurut sembarangan dan kepala bayi yang rentan tak pernah dipijat keras. Baginya, keselamatan ibu dan anak adalah prioritas utama yang melampaui ego tradisi.
“Menyesuaikan yang sekarang. Menyesuaikan dokter atau bidan. Kalau perut enggak boleh diurut ya enggak diurut, kepala enggak boleh dipijit ya enggak. Nurut atasannya,” tegas Sanis.
Di balik pengabdian panjangnya, ada prinsip kemanusiaan yang begitu menyentuh hati. Sanis tidak pernah sekali pun menetapkan tarif atas jasa yang ia berikan. Dari dahulu hingga kini, ia menerima apa pun pemberian warga dengan penuh rasa syukur dan sukarela. Rasa tidak tega dan rasa keterikatan batin dengan warga desa membuat Sanis enggan mematok harga.
​”Enggak, sukarela. Enggak enak kalau mau menentukan bayarannya. Terserah yang mau ngasih berapa,” tuturnya polos. Nilai keikhlasannya ini membuktikan bahwa pelayanan sosial dan kepedulian antarsesama masih hidup di tengah gempuran komersialisasi zaman.
Bagi Sanis, kebahagiaan terbesar tidak diukur dari lembaran uang yang dibawanya pulang, melainkan saat melihat tangis sehat seorang bayi yang baru lahir dan senyum lega dari sang ibu. Hubungannya yang harmonis dengan bidan desa serta tenaga kesehatan setempat menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dan keahlian medis modern dapat berjalan berdampingan secara selaras.
Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, kehangatan tangan dan ketulusan hati Sanis tetap menjadi ruang yang menentramkan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan tradisi masa lalu dengan keselamatan masa depan, sebuah pengingat bahwa ketulusan merawat kehidupan tak akan pernah usang ditelan zaman.
Penulis: Septia Berliana
