Reporter: Isfarotul Khasanah | Editor: Hanifah Adwa Nur Sifa
sudutnalar.com, 7 Oktober 2026

BANYUMAS, SudutNalar — Dua pekan dalam setahun. Itulah waktu yang biasanya dimiliki Sarno (44) untuk berkumpul bersama istri dan anak-anaknya. Selebihnya, ia bekerja jauh dari rumah, mengikuti pekerjaan yang membawanya berpindah dari satu daerah ke daerah lain.
Jarak itu membuat Sarno melewatkan banyak momen penting dalam hidupnya. Salah satunya ketika anak pertamanya lahir pada November 2002, saat ia sedang bekerja di Jakarta. Kabar kelahiran tersebut hanya diterimanya melalui telepon.
“Siapa yang tidak ingin melihat anaknya lahir dan mendampingi istri? Pasti ada rasa sedih,” ujarnya saat ditemui di Desa Banjarsari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Rabu (7/10/2026), ketika sedang pulang dari perantauan.
Siang itu, Sarno duduk santai di rumahnya sambil mengenang perjalanan kerjanya ke berbagai daerah. Sesekali ia tersenyum saat menceritakan tempat-tempat yang pernah disinggahinya. Namun, ketika pembicaraan beralih pada keluarga yang ditinggalkan selama bertahun-tahun, suaranya mulai melambat dan ia beberapa kali terdiam sebelum melanjutkan cerita.
Sudah 27 tahun Sarno merantau. Kini ia bekerja di bidang pengolahan hasil laut di Lombok. Anak sulungnya yang lahir pada 2002 telah bekerja. Sebagian besar masa tumbuh anak-anaknya ia ikuti dari kejauhan.
Perjalanan panjang itu bermula pada 1999. Keterbatasan ekonomi membuat Sarno tidak dapat melanjutkan pendidikan. Kesempatan kerja di kampung juga terbatas sehingga ia memutuskan berangkat ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Perjalanan pertama itu masih diingatnya hingga sekarang. Ia berangkat menggunakan bus Sinar Jaya dengan bekal mendoan, comro, dan kupat.
“Sedih, berpisah dan jauh dari orang tua,” kenangnya.
Pekerjaan pertamanya adalah di bidang pengolahan ikan tuna di Jakarta Utara. Sejak saat itu, hidupnya berpindah dari satu daerah ke daerah lain mengikuti pekerjaan yang tersedia. Ia pernah bekerja di Jakarta, Medan, Bitung, Bali, Jayapura, Lombok, hingga Xiamen, Tiongkok.

Tidak semuanya berjalan sesuai harapan. Sarno pernah mengalami pemutusan hubungan kerja saat bekerja di Jakarta. Setelah pulang ke Banyumas, ia mencoba berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup, mulai dari membuat gula hingga menjadi perajin sangkar burung.
Hasil yang diperoleh tidak seberapa. Uang dari penjualan gula hanya cukup untuk membeli sekitar satu liter beras, sementara sangkar burung yang dibuatnya tidak laku. Dalam kondisi itu, Sarno menjual satu-satunya kambing yang dimiliki sebagai modal untuk kembali mencari pekerjaan.
Setelah kembali bekerja, ia harus menghadapi berbagai risiko. Dalam beberapa pekerjaan, ia ikut ke tengah laut untuk mengambil ikan dan berhadapan dengan cuaca yang tidak menentu.
“Khawatir gelombang angin besar, mesin kapal mati, tidak bisa pulang, terjebak di tengah laut,” ujarnya.
Bahaya juga pernah datang saat ia bekerja di Flores, Nusa Tenggara Timur. Pada 2014, banjir besar mengancam keselamatannya. Dalam peristiwa tersebut, enam orang berhasil selamat, sementara seorang rekan kerjanya meninggal dunia setelah tersetrum dan terseret banjir.
Dari semua tempat yang pernah ia singgahi, Cilacap menjadi daerah yang paling berkesan baginya. Saat bekerja di sana pada 2024, ia bisa pulang setiap pekan untuk bertemu keluarga.
“Yang paling berkesan di Cilacap, karena setiap pekan bisa pulang bertemu keluarga,” katanya.
Kesempatan untuk bertemu keluarga tidak selalu datang. Dalam setahun, Sarno biasanya hanya pulang satu kali dan berada di rumah sekitar dua pekan. Ia baru pulang di luar jadwal tersebut jika ada acara keluarga yang mengharuskannya kembali ke rumah.
Di perantauan, Sarno harus mengurus semuanya sendiri. Ketika anak-anak sakit, ia tidak bisa langsung pulang atau menemani mereka. Ia hanya dapat menelepon untuk menanyakan kondisi dan obat yang diminum.
“Sedih, banyak waktu yang terbuang,” ujarnya.
Kelulusan, ulang tahun, dan berbagai momen penting dalam kehidupan anak-anaknya sering berlalu tanpa kehadirannya. Bahkan ketika neneknya meninggal dunia, Sarno tidak dapat pulang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Ketika ditanya apakah akan memilih jalan hidup yang sama jika waktu dapat diputar kembali, Sarno menjawab singkat.
“Tidak.”
Jawaban itu menandai penyesalan Sarno atas waktu yang telah ia habiskan di perantauan. Banyak peristiwa penting dalam kehidupan keluarganya berlalu tanpa kehadirannya.
Meski kehilangan banyak waktu bersama keluarga, Sarno tetap bekerja di perantauan. Ia masih harus memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya. Baginya, pekerjaan itu menjadi jalan untuk mengusahakan masa depan yang lebih baik bagi mereka.
“Pengin anak-anak lebih sukses, punya cita-cita, bisa berkembang, dan bermanfaat,” katanya.
Sebelum wawancara berakhir, Sarno mengulang kembali kalimat yang menjadi pegangannya selama ini.
“Biar ayahnya makan nggak enak, yang penting anaknya sukses.”
Selama 27 tahun merantau, Sarno telah menghadapi kehilangan pekerjaan, risiko di tengah laut, hingga banjir yang merenggut nyawa rekan kerjanya. Semua itu tetap ia jalani demi harapan yang sama sejak pertama kali meninggalkan kampung halaman, yaitu anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada yang pernah ia rasakan.
