sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Oleh : Ladina Lintang Vania

Ibu Tumini saat berjualan sayuran di Pasar Sikapat. (Dok. Ladina Lintang Vania)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Aktivitas jual beli berlangsung di Pasar Sikapat, Kamis (8/10/2026). Para pedagang menawarkan dagangannya kepada pembeli yang datang. Di tengah kegiatan itu, seorang perempuan lanjut usia sedang berjualan sayuran. Perempuan itu bernama Ibu Tumini. Ia merupakan warga Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Usianya 73 tahun.
Sayuran yang dijual Ibu Tumini dibelinya dari Pasar Banaran di Desa Banteran. Pasar tersebut menjadi bagian dari rutinitas yang telah dijalaninya selama lebih dari 25 tahun. Kegiatan berjualan itu membuatnya menjalani aktivitas dari satu pasar ke pasar lainnya dalam satu hari.
Sekitar pukul 02.00, Ibu Tumini meninggalkan rumahnya di Desa Gandatapa menuju Pasar Banaran. Ia berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Sesampainya di pasar, ia menjual lontong dan kupat buatannya dengan harga sekitar Rp1.000 per buah.
Setelah lontong dan kupat terjual, Ibu Tumini membeli sejumlah bahan dagangan seperti cabai, sayuran, bawang, dan kebutuhan lainnya. Ia memilih Pasar Banaran karena barang yang tersedia lebih lengkap sehingga bahan yang dibutuhkan untuk berjualan lebih mudah diperoleh. Bahan-bahan tersebut kemudian dibawanya dalam perjalanan kembali menuju Desa Gandatapa.
Dari Pasar Banaran, Ibu Tumini berjalan kembali ke arah Desa Gandatapa. Dalam perjalanan pulang, ia singgah di Pasar Sikapat yang berada searah dengan rumahnya. Bahan yang dibelinya di Pasar Banaran kemudian dijual kembali di pasar tersebut hingga sekitar pukul 11.00. Setelah selesai berjualan, Ibu Tumini melanjutkan perjalanan pulang untuk beristirahat.
Berjalan kaki sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Aktivitas tersebut tetap dilakukannya di tengah rutinitas berjualan. Ia juga menganggap berjalan kaki sebagai salah satu aktivitas yang tetap bisa dilakukan di usianya.
Pasar bukan hanya menjadi tempat Ibu Tumini mencari pembeli. Di sana, ia juga bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya. Sambil berjualan, ia berbincang dengan sesama pedagang maupun orang yang ditemuinya. Percakapan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya ketika berada di pasar.
Dagangan yang dibawanya tidak selalu habis terjual. Ketika masih ada barang yang tersisa, Ibu Tumini tidak langsung pulang. Ia berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan dagangannya hingga habis. Cara tersebut dilakukan agar dagangan yang masih tersisa tetap dapat terjual.
Hasil penjualan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian hasilnya juga digunakan kembali sebagai modal untuk membeli bahan dagangan serta membuat lontong dan kupat yang akan dijual pada hari berikutnya.
Ibu Tumini pernah merasa senang ketika seorang pembeli membeli seluruh dagangan yang dibawanya. Dagangan yang habis terjual membuatnya semakin bersemangat untuk kembali berjualan pada hari berikutnya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang membuat kegiatan berjualan tetap dijalaninya.
Ibu Tumini tinggal seorang diri sehingga kebutuhan sehari-hari harus dipenuhinya sendiri. Karena itu, ia tetap bekerja selama masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. Rutinitas berjualan yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupannya.
Setelah bertahun-tahun menjalani pekerjaan tersebut, harapan Ibu Tumini sederhana. Ia ingin tetap sehat agar masih dapat melakukan berbagai kegiatan dan terus menjalankan perjuangannya setiap hari.
“Semoga sehat terus, di usia tua ini masih bisa melakukan aktivitas dan berjualan setiap harinya,” ujar Ibu Tumini.
Dua pasar telah menjadi bagian dari kesehariannya. Selama kesehatan masih memungkinkan, Ibu Tumini ingin tetap bekerja dan menjalani aktivitasnya setiap hari.
