sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Oleh : Allexsa Adytia

Di jam istirahat, murid berseragam merah putih mengantre membeli jajan dan minuman di warung Mirah, Kamis (8/10/2026). (Sudutnalar.com/Allexsa Adytia)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Setiap pagi sebelum pukul 05.00 WIB, Mirah (62) sudah memulai pekerjaannya memasak nasi goreng, sayur, mendoan, bakwan, dan pisang goreng. Dari warung kecil di halaman belakang SDN Adipala 1, janda yang memiliki satu anak ini membiayai kuliah putrinya hingga meraih gelar sarjana pada September 2025.
Warung milik Mirah berukuran sekitar dua kali dua meter dan berdiri di sisi parkiran belakang sekolah. Warung itu tidak berdinding dengan atap seng yang sering berguncang saat angin kencang. Pembelinya hampir seluruh murid SD yang mengantre saat pagi untuk membeli sarapan hingga waktu istirahat. Ketika bel istirahat berbunyi, murid berseragam merah putih langsung mengerumuni warung, mengulurkan uang receh untuk membeli jajanan.
”Anak-anak istirahat itu cuma dua puluh menit, tapi rasa capenya seperti seharian,” kata Mirah.
Mirah berjualan sejak 2010, dengan dagangan utama berupa nasi goreng, teh hangat, minuman, gorengan, dan jajanan anak. Ia menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal pada tahun 2008, saat anaknya masih duduk di bangku TK. Kini, putrinya telah menjadi sarjana.
Hingga kini, Mirah belum memiliki rumah sendiri. Sejak awal menikah, ia bersama suaminya menumpang di rumah tetangga, dan keadaan itu berlanjut setelah suaminya meninggal. Sekarang Mirah dan putrinya mengontrak di sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari warung. Jarak yang dekat itu memudahkan Mirah berangkat sebelum subuh sambil membawa dagangannya ke warung.
Penghasilan hariannya tidak menentu. Menurut Mirah, ia memperoleh sekitar Rp150.000 pada hari sekolah biasa, tetapi saat libur panjang warungnya nyaris tanpa pemasukan. Penghasilan sebesar itu belum sepenuhnya menjadi miliknya. Sebagian harus dipakai untuk membeli bahan dagangan keesokan harinya, sebagian lagi untuk kebutuhan makan dan biaya kontrak rumah.
Untuk menyiasatinya, ia menyisihkan uang receh hasil jualan setiap hari ke dalam celengan di rumahnya. Saat tagihan semester jatuh tempo dan tabungan belum cukup, ia sering meminjam kepada kerabat dan tetangga lalu menyicilnya.
”Yang penting uang kuliah anak terbayar dulu. Saya makan seadanya tidak apa-apa,” ujar Mirah.
Tidak semua hari berjalan mulus. Ada kalanya dagangan tidak habis terjual, terutama saat hujan deras disertai angin sehingga murid enggan keluar kelas, sementara percikan air hujan membasahi sebagian sisi warung. Pada saat seperti itu, Mirah membawa pulang sisa nasi goreng dan gorengan untuk dimakan bersama putrinya, atau membagikannya kepada tetangga agar tidak terbuang.
”Kalau sepi, ya sudah sisa dagangan dimakan sendiri. Besok pagi bangun lagi, jualan lagi,” tuturnya.
Kegigihan Mirah juga diakui oleh orang-orang sekitarnya. Nur, salah satu tetangga rumah Mirah, mengatakan Mirah hampir tidak pernah absen berjualan selama sekolah masuk. ”Anak-anak sudah hafal dagangan Bu Mirah,” katanya.
Di sela kesibukannya, Mirah mengaku punya satu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan, yakni berdoa untuk anaknya sebelum memulai berjualan. Baginya, nasi goreng hanyalah ikhtiar, sedangkan doa adalah pegangan ketika uang menipis.
Bagi Mirah, warung kecil di belakang sekolah itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Dari sanalah setiap bungkus nasi goreng menjadi bagian dari biaya kuliah. ”Saya tidak punya harta untuk diwariskan, tapi anak saya punya ijazah, itu cukup untuk saya,” ujar Mirah.
Kini setelah anaknya lulus, Mirah tetap membuka warung setiap hari sekolah. Saat bel pulang berbunyi dan halaman sekolah mulai lengang, ia merapikan barang satu per satu, menyisihkan nasi goreng dan beberapa potong gorengan yang tidak terjual, dengan tangannya yang masih berbau minyak.
”Toga itu bukan cuma milik anak saya. Itu hasil dari tiap bungkusan nasi goreng dan potong gorengan yang laku,” pungkas Mirah sambil tersenyum.
Perjuangan Mirah menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak selalu lahir dari kemewahan. Ia tumbuh dari ketekunan yang diulang setiap hari, dari dapur kecil yang menyala sejak sebelum fajar, dan dari doa seorang ibu yang tidak pernah putus.
