Penulis: Aurelia Az zahra Salsabillah
Editor : Cahya Anggraeni

BANYUMAS, SudutNalar — Di tengah gempuran platform digital yang mengenakan biaya layanan tinggi, usaha kuliner lokal Bubur Mang Iwan memilih jalan sendiri dalam melayani pelanggan. Lewat layanan Delivery Order (DO) mandiri, Bubur Mang Iwan berupaya menjaga keterjangkauan harga sekaligus mempertahankan kesetiaan konsumennya.
Layanan DO mandiri ini telah dihadirkan sejak lama oleh pengelola Bubur Mang Iwan. Alasan utamanya sederhana, yaitu memberi kemudahan bagi para pelanggan yang memiliki keterbatasan waktu atau tidak bisa datang langsung ke outlet.
“Salah satu alasan kami ada DO mandiri karena platform digital itu sangat mahal,” ujar pengelola Bubur Mang Iwan.
Ia membeberkan bahwa penggunaan platform digital sering kali memaksa pedagang menaikkan harga cukup tinggi di luar biaya pengiriman.
“Misalnya, beli bubur biasa dengan harga Rp10.000, di platform digital harganya bisa naik jadi Rp15.000, belum termasuk ongkos kirim. Jadi, kami ingin meringankan konsumen dari biaya yang mencekik,” tambahnya.
Meski demikian, penjualan tatap muka di lokasi masih menjadi tumpuan utama usaha kuliner ini. Sekitar 99% dari total porsi harian masih diserap oleh pembeli yang datang langsung ke outlet, sementara porsi pesanan DO berkontribusi sekitar 1-5% pada kenaikan omzet harian.
Walaupun persentasenya terbilang kecil, kehadiran layanan DO diakui cukup efektif untuk memperluas jangkauan pasar dan menggaet pembeli baru dari area yang lebih jauh.
Menjalankan sistem pengiriman mandiri tentu bukan tanpa hambatan. Pengelola Bubur Mang Iwan mengungkapkan sejumlah tantangan operasional di lapangan, mulai dari penyesuaian ongkos kirim, pengaturan jadwal, keamanan kemasan, hingga risiko barang yang sesekali tertukar saat proses pengantaran.
Kendati demikian, keberadaan delivery order mandiri ini menjadi bukti dinamisnya strategi UMKM dalam mempertahankan daya beli konsumen di tengah tingginya biaya transaksi ekonomi digital.
