sudutnalar.com, 26 September 2026

BANYUMAS, SudutNalar – Lonjakan harga bahan baku plastik di tingkat produsen mulai menghimpit para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor air minum isi ulang. Kenaikan biaya operasional yang tidak sebanding dengan harga jual di tingkat konsumen membuat pengusaha galon lokal berada dalam posisi serba salah.
Novia Arianti (34), salah seorang pemilik usaha depot air minum galon, mengungkapkan bahwa margin keuntungan yang diperolehnya kian tergerus. Kendati harga bahan baku pendukung berbasis plastik mengalami kenaikan secara bertahap, Novia mengaku masih enggan menaikkan harga jual produk galonnya kepada konsumen.
Berdasarkan data analisis sektor petrokimia domestik, kenaikan harga resin komoditas seperti Polipropilena (PP) dan High-Density Polyethylene (HDPE) yang merupakan bahan baku utama tutup, segel, dan fisik galon terjadi akibat dinamika biaya energi global serta fluktuasi harga minyak mentah. Dampaknya, harga di rantai pasok industri kemasan plastik tingkat pengecer ikut melambung.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Novia. Ia merincikan, harga segel plastik yang awalnya Rp12.000 per pak (isi 100 lembar) kini melambung menjadi Rp15.000 per pak. Sementara itu, harga tutup galon yang semula Rp90.000 per 1.000 unit kini menyentuh Rp95.000. Tak hanya komponen pendukung, harga satu unit fisik galon kosong pun naik dari Rp30.000 menjadi Rp35.000.

Meskipun biaya produksi terus merangkak naik, Novia terpaksa mempertahankan tarif air galonnya di harga Rp8.000 per galon demi menjaga basis pelanggan.
“Lha kalau terus naik begini, saya bisa rugi, Mas, lama-lama. Harga jual galon susah buat naik, tapi harga segel sama tutup galonnya makin naik,” ujar Novia menyampaikan keluh kesahnya.
Novia menjelaskan, alasan utama dirinya belum menaikkan harga jual adalah faktor persaingan pasar. Kompetitor di wilayah sekitarnya masih mematok harga yang sama, sehingga menaikkan tarif secara sepihak berisiko membuat pelanggan beralih ke tempat lain.
Dampak gejolak harga bahan baku plastik ini juga dirasakan oleh Arvi (18), salah satu karyawan Novia sejak 2020. Memasuki 2023, Arvi mencoba mengembangkan usaha dengan sistem maklon. Dalam skema ini, Arvi memproduksi galon dengan merek sendiri, namun mengambil pasokan air dari depot Novia. Seluruh kebutuhan segel, tutup galon, dan bahan baku kemasan dipenuhi sendiri oleh Arvi.
Sebagai pelaku usaha skala kecil yang berjuang membangun basis konsumen, Arvi mengaku sangat tertekan oleh situasi saat ini.
“Sangat terasa dampaknya, Mas. Saya menjual galon skala kecil dan konsumennya juga sedikit, jadi sangat tidak masuk hitung-hitungannya antara harga bahan baku yang naik dengan harga jual galon yang susah naik,” tutur Arvi saat diwawancarai.
Kapan Harga Bahan Baku Plastik Melandai?
INAPLAS mencatat bahwa harga energi serta biaya logistik pengapalan internasional menjadi pemicu utama mahalnya harga virgin plastik di tingkat domestik. Para analis industri memperkirakan penurunan harga bahan baku plastik secara signifikan baru berpotensi terjadi apabila kapasitas produksi industri petrokimia hulu dalam negeri terus meningkat dan terjadi stabilisasi rantai pasok global.
Laporan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI menunjukkan bahwa penambahan kapasitas pabrik petrokimia baru di dalam negeri secara bertahap diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor bahan baku daur ulang maupun virgin, Dengan demikian, penyesuaian harga di tingkat distributor diperkirakan baru akan melandai secara perlahan seiring stabilnya pasokan energi.
Fenomena yang dialami Novia dan Arvi menggambarkan realitas rumit yang dihadapi sektor UMKM saat ini. Di satu sisi, kenaikan harga bahan baku industri menekan biaya produksi dari hilir. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat dan persaingan yang ketat membuat penyesuaian harga jual di tingkat eceran sulit dilakukan tanpa adanya dukungan intervensi kebijakan yang nyata.
Penulis: Aditya Khairi Fahriza
Editor: Saskia Nova
