Penulis: zulfa izaz mudasir

PURWOKERTO, SudutNalar.com, Sejak kecil, disiplin sudah menjadi bagian dari kehidupan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Banyumas. Lahir pada 25 April 1967 dan tumbuh dalam keluarga tentara membuat kehidupan sehari-harinya tidak jauh dari nilai kedisiplinan yang kemudian terbawa hingga perjalanan kariernya sebagai aparatur pemerintahan.
Ayahnya merupakan seorang tentara, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga yang kini tinggal di Semarang. Karena mengikuti kehidupan keluarga militer, ia terbiasa dengan pola hidup yang menuntut kedisiplinan sejak kecil.
Namun, perjalanan hidupnya tidak langsung membawanya ke posisi sebagai kepala badan. Setelah menempuh pendidikan manajemen pariwisata pada 1985 hingga 1988, ia kemudian memulai karier sebagai pegawai negeri pada 1989. Dari sana, perjalanan pengabdiannya terus berkembang melalui berbagai penugasan di bidang pariwisata maupun pemerintahan wilayah.
Selama kurang lebih 36 tahun bekerja di pemerintahan, ia telah berpindah dari satu tempat tugas ke tempat lainnya. Ia pernah bekerja di bidang pariwisata, menjalani tugas di kecamatan, menjadi sekretaris kecamatan, hingga akhirnya dipercaya menduduki sejumlah jabatan di lingkungan pemerintahan sebelum menjadi Kepala Kesbangpol Banyumas.
Bagi dirinya, perpindahan tugas tersebut bukan sekadar perjalanan karier. Setiap tempat memberikan pengalaman berbeda, terutama dalam menghadapi masyarakat dengan berbagai karakter dan persoalan.
Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika menginisiasi kegiatan Car Free Day. Kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas masyarakat di ruang publik, tetapi juga dikemas untuk mengajak masyarakat mencintai lingkungan, menjaga kebersihan, menumbuhkan rasa cinta tanah air, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Dari berbagai pengalaman itu, ia memegang empat prinsip yang menurutnya menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya, yaitu Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan tidak pernah tercela.
“Prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak pernah tercela,” ujarnya ketika menjelaskan prinsip yang selama ini ia pegang dalam menjalankan tugas.
Prinsip tersebut tidak hanya diterapkan ketika dirinya menjadi seorang pemimpin. Sebelum berada di posisi sekarang, ia juga pernah merasakan bagaimana menjadi bagian dari tim dan bekerja di bawah pimpinan. Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi caranya memperlakukan orang-orang yang bekerja bersamanya.
Baginya, seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan perintah. Pemimpin juga harus mampu memberikan pengarahan, membimbing, serta mendekati anggota tim agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik.
Ia bahkan menggambarkan pendekatan kepada pegawai seperti menyentuh “cipta, rasa, dan karsa”. Menurutnya, seorang pegawai tidak selalu dapat dilihat hanya dari kedisiplinan atau hasil pekerjaannya. Ada kondisi pribadi yang terkadang ikut memengaruhi semangat seseorang dalam bekerja.
Karena itu, ia memilih untuk melakukan pendekatan dari hati ke hati. Ketika ada pegawai yang sedang mengalami masalah atau kehilangan semangat, ia berusaha mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Ia percaya bahwa ketika seseorang sudah memiliki semangat dari dalam dirinya, pekerjaan yang dilakukan pun akan terasa berbeda.
Pengalaman selama puluhan tahun juga membuatnya melihat bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Menurutnya, kemampuan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pendidikan, tetapi juga pengalaman dan keterampilan.
“Pendidikan, pengalaman, terus keterampilan,” katanya.
Dalam memimpin, ia mencoba memanfaatkan kelebihan yang dimiliki masing-masing anggota tim. Orang yang memiliki pengalaman tertentu dapat diberi ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuannya. Dengan begitu, pekerjaan tidak hanya bergantung pada satu orang.
Ia menyadari bahwa seorang pemimpin juga tidak bisa bekerja sendirian. “Saya kan bukan Superman,” ujarnya dalam menggambarkan pentingnya kerja sama dalam sebuah tim.
Pandangan tersebut kemudian ia gambarkan melalui filosofi sapu lidi. Satu batang lidi, menurutnya, tidak akan banyak membantu jika digunakan sendirian. Namun, ketika banyak lidi disatukan, kekuatannya menjadi berbeda.
Filosofi itu pula yang ingin ia tinggalkan kepada orang-orang yang pernah bekerja bersamanya. Ia ingin dikenang bukan hanya karena pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Kesbangpol, tetapi sebagai bagian dari tim yang mampu bekerja bersama.
“Tim kerja yang bagus aja, bareng anggota tim,” katanya.
Di balik kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin, keluarga juga menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menjalani pekerjaannya. Menurutnya, pengalaman di rumah dan kondisi keluarga yang baik turut memberikan semangat ketika menghadapi berbagai persoalan dalam pekerjaan.
Memasuki usia 59 tahun, perjalanan panjang tersebut membuatnya melihat kehidupan dengan cara yang semakin berbeda. Berbagai kritik yang datang tidak selalu ia anggap sebagai sesuatu yang harus ditolak. Justru, kritik dapat menjadi pengingat agar dirinya dapat memperbaiki diri dan menjadi lebih bijak dalam menghadapi perkembangan keadaan.
“Harus semakin bijak,” tuturnya ketika ditanya mengenai perubahan dalam dirinya setelah melewati berbagai pengalaman.
Bagi generasi muda, ia berpesan agar masyarakat tetap menjaga persatuan dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati orang tua serta memahami nilai-nilai yang hidup di lingkungan masyarakat.
Pada akhirnya, 36 tahun pengabdian tidak hanya meninggalkan daftar jabatan dan tugas yang pernah dijalankan. Ada pengalaman, orang-orang yang ditemui, kritik yang diterima, keluarga yang menjadi tempat kembali, serta nilai kebersamaan yang terus ia bawa.
Jika suatu hari nanti tidak lagi menjabat sebagai Kepala Kesbangpol Banyumas, ia tidak meminta untuk dikenang karena jabatannya. Ia hanya ingin dikenang sebagai bagian dari sebuah tim yang pernah bekerja bersama dan memahami bahwa kebersamaan membuat pekerjaan menjadi lebih kuat.
Seperti sapu lidi yang ia jadikan filosofi, satu orang mungkin tidak dapat melakukan semuanya sendiri. Namun ketika banyak orang bersatu dan saling melengkapi, sesuatu yang berat pun dapat diselesaikan bersama.
Editor:Rasya putra agusti
