Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dibentuk Disiplin Tentara, 36 Tahun Mengabdi: Cara Kepala Kesbangpol Banyumas Memaknai Kepemimpinan

Posted on September 23, 2026September 23, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Penulis: zulfa izaz mudasir

Sumber : Dokumen pribadi

PURWOKERTO, SudutNalar.com, Sejak kecil, disiplin sudah menjadi bagian dari kehidupan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Banyumas. Lahir pada 25 April 1967 dan tumbuh dalam keluarga tentara membuat kehidupan sehari-harinya tidak jauh dari nilai kedisiplinan yang kemudian terbawa hingga perjalanan kariernya sebagai aparatur pemerintahan.

Ayahnya merupakan seorang tentara, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga yang kini tinggal di Semarang. Karena mengikuti kehidupan keluarga militer, ia terbiasa dengan pola hidup yang menuntut kedisiplinan sejak kecil.

Namun, perjalanan hidupnya tidak langsung membawanya ke posisi sebagai kepala badan. Setelah menempuh pendidikan manajemen pariwisata pada 1985 hingga 1988, ia kemudian memulai karier sebagai pegawai negeri pada 1989. Dari sana, perjalanan pengabdiannya terus berkembang melalui berbagai penugasan di bidang pariwisata maupun pemerintahan wilayah.

Selama kurang lebih 36 tahun bekerja di pemerintahan, ia telah berpindah dari satu tempat tugas ke tempat lainnya. Ia pernah bekerja di bidang pariwisata, menjalani tugas di kecamatan, menjadi sekretaris kecamatan, hingga akhirnya dipercaya menduduki sejumlah jabatan di lingkungan pemerintahan sebelum menjadi Kepala Kesbangpol Banyumas.

Bagi dirinya, perpindahan tugas tersebut bukan sekadar perjalanan karier. Setiap tempat memberikan pengalaman berbeda, terutama dalam menghadapi masyarakat dengan berbagai karakter dan persoalan.

Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika menginisiasi kegiatan Car Free Day. Kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas masyarakat di ruang publik, tetapi juga dikemas untuk mengajak masyarakat mencintai lingkungan, menjaga kebersihan, menumbuhkan rasa cinta tanah air, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Dari berbagai pengalaman itu, ia memegang empat prinsip yang menurutnya menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya, yaitu Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan tidak pernah tercela.

“Prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak pernah tercela,” ujarnya ketika menjelaskan prinsip yang selama ini ia pegang dalam menjalankan tugas.

Prinsip tersebut tidak hanya diterapkan ketika dirinya menjadi seorang pemimpin. Sebelum berada di posisi sekarang, ia juga pernah merasakan bagaimana menjadi bagian dari tim dan bekerja di bawah pimpinan. Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi caranya memperlakukan orang-orang yang bekerja bersamanya.

Baginya, seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan perintah. Pemimpin juga harus mampu memberikan pengarahan, membimbing, serta mendekati anggota tim agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik.

Ia bahkan menggambarkan pendekatan kepada pegawai seperti menyentuh “cipta, rasa, dan karsa”. Menurutnya, seorang pegawai tidak selalu dapat dilihat hanya dari kedisiplinan atau hasil pekerjaannya. Ada kondisi pribadi yang terkadang ikut memengaruhi semangat seseorang dalam bekerja.

Karena itu, ia memilih untuk melakukan pendekatan dari hati ke hati. Ketika ada pegawai yang sedang mengalami masalah atau kehilangan semangat, ia berusaha mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Ia percaya bahwa ketika seseorang sudah memiliki semangat dari dalam dirinya, pekerjaan yang dilakukan pun akan terasa berbeda.

Pengalaman selama puluhan tahun juga membuatnya melihat bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Menurutnya, kemampuan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pendidikan, tetapi juga pengalaman dan keterampilan.

“Pendidikan, pengalaman, terus keterampilan,” katanya.

Dalam memimpin, ia mencoba memanfaatkan kelebihan yang dimiliki masing-masing anggota tim. Orang yang memiliki pengalaman tertentu dapat diberi ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuannya. Dengan begitu, pekerjaan tidak hanya bergantung pada satu orang.

Ia menyadari bahwa seorang pemimpin juga tidak bisa bekerja sendirian. “Saya kan bukan Superman,” ujarnya dalam menggambarkan pentingnya kerja sama dalam sebuah tim.

Pandangan tersebut kemudian ia gambarkan melalui filosofi sapu lidi. Satu batang lidi, menurutnya, tidak akan banyak membantu jika digunakan sendirian. Namun, ketika banyak lidi disatukan, kekuatannya menjadi berbeda.

Filosofi itu pula yang ingin ia tinggalkan kepada orang-orang yang pernah bekerja bersamanya. Ia ingin dikenang bukan hanya karena pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Kesbangpol, tetapi sebagai bagian dari tim yang mampu bekerja bersama.

“Tim kerja yang bagus aja, bareng anggota tim,” katanya.

Di balik kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin, keluarga juga menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menjalani pekerjaannya. Menurutnya, pengalaman di rumah dan kondisi keluarga yang baik turut memberikan semangat ketika menghadapi berbagai persoalan dalam pekerjaan.

Memasuki usia 59 tahun, perjalanan panjang tersebut membuatnya melihat kehidupan dengan cara yang semakin berbeda. Berbagai kritik yang datang tidak selalu ia anggap sebagai sesuatu yang harus ditolak. Justru, kritik dapat menjadi pengingat agar dirinya dapat memperbaiki diri dan menjadi lebih bijak dalam menghadapi perkembangan keadaan.

“Harus semakin bijak,” tuturnya ketika ditanya mengenai perubahan dalam dirinya setelah melewati berbagai pengalaman.

Bagi generasi muda, ia berpesan agar masyarakat tetap menjaga persatuan dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati orang tua serta memahami nilai-nilai yang hidup di lingkungan masyarakat.

Pada akhirnya, 36 tahun pengabdian tidak hanya meninggalkan daftar jabatan dan tugas yang pernah dijalankan. Ada pengalaman, orang-orang yang ditemui, kritik yang diterima, keluarga yang menjadi tempat kembali, serta nilai kebersamaan yang terus ia bawa.

Jika suatu hari nanti tidak lagi menjabat sebagai Kepala Kesbangpol Banyumas, ia tidak meminta untuk dikenang karena jabatannya. Ia hanya ingin dikenang sebagai bagian dari sebuah tim yang pernah bekerja bersama dan memahami bahwa kebersamaan membuat pekerjaan menjadi lebih kuat.

Seperti sapu lidi yang ia jadikan filosofi, satu orang mungkin tidak dapat melakukan semuanya sendiri. Namun ketika banyak orang bersatu dan saling melengkapi, sesuatu yang berat pun dapat diselesaikan bersama.

Editor:Rasya putra agusti

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme