Penulis: Zalfa Nur Afiifah | Narasumber: Telo | Keterangan: Feature News | Rabu, 7 Oktober 2026 | 21.00 WIB

Telo dan becak tuanya di sudut Alun-Alun Purwokerto. (Dok. Zalfa Nur Afiifah)
BANYUMAS, SUDUTNALAR — Di tengah hiruk-pikuk kawasan Alun-Alun Purwokerto, sebuah becak kayuh sederhana masih setia menjadi bagian dari pemandangan sudut kota. Di bawah gemerlap lampu malam dan megahnya gedung RITA Supermall, Telo berdiri dengan tenang di samping kendaraan tuanya. Pria berkaos biru dan bertopi lusuh yang berusia sekitar 70-an tahun itu masih mengandalkan kekuatan fisiknya untuk mengayuh becak demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Bagi Telo, mengayuh becak bukan sekadar pekerjaan yang telah lama dijalani. Mengingat usia yang tak lagi muda dan terbatasnya pilihan pekerjaan, profesi tersebut menjadi satu-satunya sumber penghasilan utama yang masih ia miliki untuk menyambung hidup keluarga.
Setiap pagi, saat fajar baru menyingsing, Telo sudah bersiap berangkat bekerja sekitar pukul 06.00 hingga 07.00. Ia kemudian berkeliling mengarungi jalanan kota, mencari penumpang dari kawasan Palma hingga ke area Alun-Alun Purwokerto. Ketika malam mulai larut dan jarum jam menunjuk sekitar pukul 22.00, ia baru mengakhiri aktivitasnya di jalanan dan bersiap pulang.
“Saya biasanya mulai narik dari pagi, sekitar pukul 06.00 atau 06.40. Nanti baru pulang sekitar jam 22.00,” ujar Telo saat menceritakan rutinitas harian yang dijalaninya.
Rutinitas berat tersebut telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Meski usianya tidak lagi muda dan kondisi fisik mulai terbatas, Telo tetap memilih mengandalkan tenaganya sendiri untuk mencari penghasilan yang halal. Di tengah gempuran transportasi modern dan ojek berbasis aplikasi, tidak ada kepastian mengenai berapa jumlah uang yang akan dibawa pulang setiap harinya.
“Pendapatan sehari-hari tidak tentu. Kalau sedang ada rezeki, biasanya dapat Rp100.000 sampai Rp150.000 per hari,” ungkap Telo mengenai hasil yang biasa ia peroleh dari mengayuh becak.
Bagi sebagian orang, jumlah tersebut mungkin terlihat sederhana. Bagi Telo, setiap lembar rupiah dari hasil mengayuh becak menjadi tumpuan utama untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Selama masih ada penumpang yang membutuhkan jasanya, ia akan tetap mengayuh becak menyusuri jalanan Purwokerto tanpa mengeluh.
Telo sendiri bertempat tinggal di desa Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas. Dari pernikahan bersama istrinya, ia memiliki tiga anak yang kini semuanya telah tumbuh dewasa. Dua di antara anaknya sudah bekerja secara mandiri, sedangkan tidak ada lagi anak yang masih menempuh pendidikan di bangku sekolah.
Di rumah, sang istri juga turut berusaha membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Pekerjaan yang dilakukan sang istri pun sangat bergantung pada kesempatan dan musim yang tersedia di desa. Sesekali ia pergi ke sawah untuk mencari sisa panen padi setelah orang lain selesai memanen. Jika musim panen telah usai, ia beralih mencari rumput untuk pakan ternak.
“Istri saya di rumah kadang ke sawah mengumpulkan sisa panen padi. Kalau sedang tidak ada panenan, ia beralih mencari rumput,” tutur Telo menceritakan perjuangan sang istri di rumah.
Kondisi tersebut menggambarkan secara jelas kehidupan keluarga kecil yang mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak pasti. Tidak selalu ada pekerjaan yang dapat dilakukan setiap hari, tetapi tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari tetap terus berjalan.
Di tengah perubahan zaman dan semakin beragamnya pilihan transportasi modern, Telo masih mempertahankan becaknya sebagai sumber penghidupan utama. Becak tua yang berada di sampingnya bukan hanya alat untuk mengantarkan penumpang, melainkan simbol keteguhan hatinya dalam mempertahankan kehidupan secara terhormat.
Pemandangan Telo bersama becaknya mungkin terlihat biasa di tengah ramainya aktivitas Kota Purwokerto. Di balik setiap kayuhan pedalnya, ada perjuangan panjang seorang kepala keluarga yang menolak menyerah pada keadaan. Usia boleh menua, tetapi semangat untuk bertahan hidup tidak pernah padam.
Penulis : Zalfa Nur Afiifah (J1D025147)
Editor : Revaliana Arianti (J1D025151)
