Sudutnalar.com, 21 September 2026

Sumber: (Handaru Arya Adhyasta)
PURWOKERTO — Elsa Puspasari, S.Pd., M.Pd. dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), membagikan pengalamannya dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan dan ekonomi di tengah ketidakpastian yang terjadi belakangan ini. Dalam sebuah wawancara, ia menceritakan perjuangannya mempertahankan kualitas pendidikan di tengah pemangkasan anggaran, tantangan pribadi selama menempuh pendidikan magister, hingga pesannya bagi generasi muda yang tengah cemas menatap masa depan.
Beliau menjelaskan bahwa perannya sebagai pendidik tidak lepas dari upaya membangun daya pikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah pada mahasiswanya. “Melalui ruang pendidikan tentunya saya memberikan materi terkait fenomena yang terjadi, kemudian membangun critical thinking, serta problem solving mahasiswa saya,” ujarnya. Meski banyak anggaran dipangkas, ia mengaku tetap berupaya mempertahankan kualitas pengajaran. “Meskipun banyak anggaran yang dipotong dan sebagainya, tapi kami selalu mengupayakan kualitas pendidikan yang terbaik untuk mahasiswa-mahasiswa kami,” tegasnya. Di sisi lain, ia juga aktif dalam penelitian terkait fenomena ekonomi terkini serta program pengabdian masyarakat yang menyasar pelaku UMKM, dengan memberikan pelatihan dan bantuan peralatan agar usaha mereka lebih produktif dan berkelanjutan.
Dalam metode mengajar, Beliau mengaku tidak menggunakan pendekatan satu arah. “Saya tidak monoton presentasi maupun ceramah, tapi saya buat ruang diskusi menggunakan model pembelajaran case-based learning atau problem-based learning,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa persoalan yang diangkat dalam diskusi selalu bersifat kontekstual. “Permasalahan yang saya sampaikan itu adalah permasalahan yang memang kontekstual, terjadi di kehidupan kita sehari-hari sehingga mahasiswa itu relate dengan apa yang dirasakan,” katanya.
Perjalanan akademik Beliau sendiri tidak selalu mulus. Ia menceritakan pengalamannya saat menempuh studi magister, di mana ia seharusnya dapat lulus dalam 2,5 tahun. “Karena waktu itu jurusan saya prodi saya akreditasinya habis, sehingga saya itu tidak bisa diuji. Harus mundur satu semester yang memang itu bukan kesalahan dari saya.” ungkapnya. Akibatnya, meski mengantongi IPK 3,96, ia tidak memperoleh predikat cumlaude. “Walaupun IPK saya 3,96, tapi saya tidak mendapatkan predikat cumlaude, karena lulusnya lama, harus menunggu akreditasi,” katanya. Pengalaman itu, ditambah sejumlah kegagalan dalam seleksi ASN, menurutnya justru membentuk resiliensi dalam dirinya.
Terkait realitas ekonomi mahasiswa saat ini, Beliau menyoroti fenomena FOMO yang kerap mendorong pengeluaran berlebihan. “Jaman sekarang itu banyak mahasiswa yang FOMO apapun yang viral pengennya diikuti, apapun yang sedang dipakai temannya yang kelihatan bagus pengennya diikuti, tapi tidak melihat kemampuan diri, yang mengakibatkan banyak yang rela pinjol, banyak yang ikut judol,” ujarnya prihatin. Ia menegaskan pentingnya prinsip ekonomi dasar: “Pendapatan yang kita miliki itu hendaknya jangan semuanya dikonsumsi, tapi ada untuk sedikit ditabungkan, meskipun tidak banyak.”
Sebagai prinsip hidup yang ia pegang teguh, beliau menyebut kejujuran sebagai nilai yang tidak bisa ditawar. “Kalau orang tidak jujur itu akan mendapatkan nilai minus dari saya,” tegasnya. Ia juga kerap berpegang pada sebuah kutipan dari rekannya: “Besarlah dengan cara yang benar,” serta keyakinan bahwa “siapa yang bersungguh-sungguh itu yang akan mendapatkan hasil yang baik.”
Bagi mahasiswa yang tengah merasa cemas atau bingung menata masa depan, Beliau berpesan, “Jangan terlalu lama sendiri dan berkutat dengan pikirannya sendiri karena overthinking itu tidak menyelesaikan masalah. Segeralah hubungi orang yang dianggap bisa untuk diajak cerita.” Ia juga mendorong mahasiswa memiliki kemampuan mengatur diri. “Tentukan goals dalam hidupnya, minimal itu, apa yang dia mau mengatur arah hidupnya, tujuan hidupnya,” tambahnya.
Soal keraguan dalam meniti karier sebagai akademisi, Dia mengaku pernah mengalaminya. “Sempat ada keraguan apakah mau dilanjutkan ataukah mau berganti profesi atau apa, tapi ternyata passion saya itu mengajar,” ujarnya. “Karena bekerja ketika bukan passion, nanti akan lebih banyak ngeluhnya daripada mensyukurinya,” pungkasnya.
Di penghujung wawancara, Beliau menyampaikan harapannya. “Semoga pendapatan perkapita masyarakat di Banyumas itu lebih meningkat jadi bisa lebih baiklah perekonomian di Banyumas ini,” ujarnya menutup perbincangan.
Reporter : Handaru Arya Adhyasta
Editor : Bintang Widya Pratama
