Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Balik Sebungkus Tempe Sederhana, Perjuangan Ngasirah Menopang Hidup Keluarga

Posted on Oktober 9, 2026 by zulfa izaz

Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Ngasirah, Penjual Tempe Rumahan yang Memulai Usahanya dari Tiga Kilogram Kedelai (Foto: Puspita Dewi)

PURWOKERTO, SudutNalar—Saat sebagian orang masih terlelap, pekerjaan Ngasirah telah dimulai di rumahnya di Desa Kaliwedi, Kecamatan Kebasen. Kedelai direbus dan dibersihkan sebelum diolah menjadi tempe. Pekerjaan itu tidak selesai dalam waktu singkat. Ada tahap demi tahap yang harus dilalui, terlebih karena Ngasirah memilih mempertahankan cara lama dengan menggunakan daun sebagai pembungkus.

Daun harus tersedia. Tali dari bambu harus disiapkan. Setelah kedelai selesai diolah, Ngasirah membungkus satu per satu dengan tangan. Tidak ada proses yang bisa dilakukan dengan terburu-buru. Semuanya membutuhkan ketelitian dan tenaga.

“Proses buat tempe panjang, capek sekali. kadang sampai bergadang, bahkan bisa tidak tidur sama sekali,” ujar Ngasirah.

Rutinitas itu telah dijalaninya sejak 2018. Saat itu, ngasirah melihat kebutuhan sederhana di lingkungan tempat tinggalnya. Belum ada warga yang menjual tempe. Mereka yang ingin membeli harus pergi ke pasar yang jaraknya sekitar 15 menit dari tempat tinggal mereka. Dari situlah muncul gagasan untuk membuatnya sendiri.

Ngasirah tidak memulai dengan modal yang besar. Hanya tiga kilogram kedelai yang sanggup dibelinya ketika pertama kali menjalankan usaha. Jumlah yang kecil itu menjadi awal dari pekerjaan yang kemudian menopang kehidupan keluarganya.

Ngasirah memiliki lima anak. Kebutuhan sehari-hari harus tetap dipenuhi, sementara beberapa di antaranya masih bersekolah. Karena itu, penghasilan dari membuat dan menjual tempe memiliki arti penting bagi keluarganya.

“Kalau tanpa usaha ini, bagaimana keluarga kami hidup untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Sejak awal, pekerjaan itu tidak dikerjakan sepenuhnya oleh dirinya. Ngasirah mengolah kedelai hingga pembungkusan tempe selesai. Sementara suaminya, Katam, membantu mencari daun dan menyiapkan tali bambu yang digunakan untuk mengikat.

Setelah proses produksi selesai, tugas Katam kembali berlajut. Tempe-tempe yang telah dibungkus dibawa berkeliling dari rumah ke rumah. Ia menjajakannya dengan berjalan kaki.

Hari-hari mereka berjalan dengan pola yang hampir sama. Ngasirah berkutat dengan kedelai dan daun di rumah, sedangkan Katam membawa hasilnya mencari pembeli. Dari pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang itulah kebutuhan keluarga perlahan terpenuhi.

Namun, perjalanan mereka tidak selalu mudah.

Pandemi Covid-19 menjadi salah satu masa yang paling berat. Aktivitas masyarakat dibatasi sehingga Katam tidak leluasa menjual dagangannya. Di sisi lain, harga kedelai juga meningkat. Bagi usaha rumahan yang sejak awal dibangun dengan modal terbatas, kenaikan bahan baku menjadi persoalan tersendiri.

“Dulu waktu covid susah sekali, apalagi kedelai juga mahal,” kenang Ngasirah.

Meskipun demikian, kebutuhan keluarga tidak ikut terhenti. Makan, biaya sehari-hari, dan kebutuhan anak-anak tetap harus dipenuhi.

Mereka pun tetap menjalani usaha tersebut hingga waktu perlahan mengubah keadaan. Tempe yang semula hanya dijual berkeliling mulai dikenal banyak orang. Pelanggan berdatangan dari berbagai kebutuhan. Tidak hanya untuk dikonsumsi sehari-hari, beberapa orang mulai memesan dalam jumlah lebih banyak untuk hajatan dan sebagainya.

Perkembangan itu terlihat jelas dari jumlah kedelai yang mampu diolah. Jika pada awalnya Ngasirah hanya mampu membuat tempe dari tiga kilogram kedelai, kini jumlahnya dapat mencapai 18 kilogram dalam sekali produksi.

Angka tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi Ngasirah tersimpan tahun-tahun yang tak mudah. Ada lelah, ada kesulitan, dan ada keluarga yang selalu menjadi alasan untuk terus melangkah.

Kini, setiap bungkus tempe yang keluar dari rumahnya bukan sekadar hasil dari kedelai yang diolah, tetapi juga menjadi bukti bahwa dari pekerjaan sederhana, sebuah keluarga dapat terus menggantungkan harapan.

Penulis : Puspita Dewi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme