Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Balik Sampah Warga Purwokerto, Mbah Yati Mengais Harapan

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com

Oleh: Bagus Windu Aji

Mbah Yati (67) memilah barang bekas di gudang kecil samping rumahnya di Purwokerto, Senin (5/10/2026). Foto: Bagus Windu Aji.

PURWOKERTO, SUDUTNALAR– Jari-jari keriput itu bekerja tanpa jeda. Botol plastik bekas yang sudah bersih diangkat, diputar, diperiksa, lalu diletakkan pada tumpukan yang sesuai. Senin (5/10/2026), Mbah Yati, Usianya 67 tahun, bercerita sambil terus memilah, seakan berhenti sebentar saja berarti memberi kesempatan pada lapar untuk datang lebih dulu. Di usia ketika kebanyakan orang sudah layak beristirahat, Mbah Yati justru tetap bekerja. Apa yang dibuang orang lain ia pungut dengan sabar, satu per satu, lalu ia tukar dengan penghidupan.

Berangkat Selagi Orang Masih Meringkuk

Hari Mbah Yati dimulai selepas subuh, ketika sebagian orang masih bergelung di bawah selimut. Dengan caping di kepala dan baju lusuh yang kusam oleh debu, ia berangkat menyusuri jalan-jalan Purwokerto. Kadang ia mengayuh sepeda reyot dengan keranjang yang dijejali barang bekas hingga penuh. Kadang ia hanya berjalan kaki, matanya awas mengamati gelas plastik, botol, dan kardus yang tergeletak.

Jangkauannya cukup jauh. Dalam sehari, perempuan berusia 67 tahun itu bisa berkeliling hingga Patikraja. Ia baru pulang ketika tubuh sudah tak sanggup lagi, kadang sekitar pukul 12.00 siang jika kelelahan, kadang pula sore selepas Asar. Semakin siang, semakin berat. Terik membakar punggung, sementara kakinya berdenyut nyeri karena kelelahan. Namun, usia tua tak membuat Mbah Yati berhenti. Ia terus menyusuri jalan, mencari barang-barang yang masih memiliki nilai jual.

Tidak semua barang ia temukan di pinggir jalan. Sesekali, rezeki datang dari tangan orang lain. Ada kafe di Purwokerto dan tempat lain yang memberinya gelas plastik, botol, dan kardus bekas. Pemberian kecil, tetapi bagi Mbah Yati, itu berarti satu karung yang lebih penuh.

Gudang Kecil yang Sesak dan Berdebu

Rumah tempatnya berteduh sederhana. Lantainya retak-retak. Di sisi rumah, ada ruang yang ia sulap menjadi gudang barang bekas. Tempat itu sesak dan berdebu, dengan bau tumpukan rongsok yang menyengat dan sulit diabaikan. Namun, justru di sanalah Mbah Yati paling telaten. Barang yang dibawanya pulang tak langsung dijual. Ia membersihkannya satu per satu, memilah sesuai jenis, lalu mengumpulkannya hingga cukup. Setelah tiga hingga empat minggu, barulah semuanya dijual kepada pengepul besar. Harganya bergantung pada penggolongan barang. Sekali jual, ia membawa pulang sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu, hasil jerih payah selama berminggu-minggu.

Bantuan sebenarnya pernah ia upayakan. “Udah berkali-kali diajuin, tapi nggak pernah dapat,” katanya. “Ya sudah, selama masih mampu, daripada nunggu pertolongan orang atau pemerintah, mending usaha sendiri.” Ia tinggal menumpang di rumah anak pertamanya, yang juga hidup serba pas-pasan bekerja sebagai tukang. Karena itu, kata Mbah Yati, ia tak mau hanya menumpang. “Saya juga nggak mau numpang hidup doang.”

Ada alasan lain yang membuatnya terus bekerja. “Ya saya demi cucu, Mas. Selama masih bisa usaha sendiri, bantu-bantu anak dan cucu, ya saya lakuin.” Cucu laki-lakinya, yang kini duduk di kelas 3 SMK swasta, tidak disebutkan namanya demi menjaga privasi keluarga. Ia telah menjadi yatim piatu sejak ibunya wafat pada 2019, sementara ayahnya telah berpulang ketika ia masih balita.

Demi Anak dan Cucu

Di balik karung yang berat dan kaki yang nyeri, Mbah Yati menyimpan keinginan sederhana, melihat anak dan cucunya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia ingin mereka bersekolah dengan baik, memiliki pekerjaan, dan mendapat pendidikan yang layak. Ia tak ingin mereka hanya menumpang hidup atau menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain. Ketika pembicaraan sampai ke sana, suaranya melemah dan matanya basah. Sesaat ia terdiam. Lalu tangannya kembali memilah botol, seperti biasa.

Bagi Mbah Yati, bekerja bukan sekadar soal mengumpulkan botol, kardus, atau gelas plastik. Ada keluarga yang ingin ia bantu dan masa depan yang ingin ia lihat sendiri. Karena itu, selama tubuhnya masih mampu, ia memilih terus mencari penghidupan dari apa yang dibuang orang lain.

Mungkin begitulah cara Mbah Yati mencintai, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan langkah yang bahkan membuat kakinya nyeri. Di jalanan Purwokerto, ia mengais dari apa yang dibuang orang lain, demi satu hal yang tak pernah ia buang, yaitu keinginannya melihat anak dan cucunya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme