sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Oleh : Tita Nurkhalifah

Beberapa rumah megah warga Dusun Timbang yang dibangun dari hasil usaha warga di perantauan. (Foto: detikcom dan Youtube @JejakBangIbra)
WANAREJA, SUDUTNALAR – Udara dingin terasa ketika memasuki kawasan pegunungan di pelosok Cilacap. Sekitar 45 menit perjalanan dari pusat Kecamatan Wanareja, Dusun Timbang, Desa Jambu, dikelilingi suasana pedesaan yang sejuk. Hamparan sawah terbentang di antara rumah-rumah warga, dengan kabut tipis yang menyelimuti suasana dusun yang tenang.
Berbeda dari dusun-dusun sekitarnya, kampung ini menarik perhatian meskipun berada di pelosok. Di tengah hamparan sawah dan pegunungan, berdiri rumah-rumah besar dan megah milik warga. Pemandangan tersebut membuat dusun ini dijuluki “Kampung Sultan”.

Pemandangan Dusun Timbang, Desa Jambu, Cilacap. (Foto: Dimas, warga Dusun Timbang)
Julukan tersebut bukan karena warganya kaya sejak awal, melainkan karena keberhasilan warga dalam membangun usaha di perantauan yang terlihat dari rumah-rumah yang mereka bangun di kampung halaman.
Sebagian besar warganya memilih untuk merantau dan membuka warung Madura sebagai usaha. Bandung menjadi salah satu tujuan yang banyak dipilih. Selain Bandung, ada juga warga yang merantau ke Cilacap kota dan daerah lainnya. Sementara itu, warga yang tetap tinggal di kampung banyak yang bekerja sebagai petani.
Usaha yang dijalankan di perantauan tidak selalu langsung berhasil. Ada proses panjang yang harus dilewati sebelum usaha mulai berkembang. Hal tersebut dialami Marko, salah satu warga Dusun Timbang yang telah lama menjalankan usaha warung Madura di Bandung sejak 2008. Ketika pertama kali membuka warung, Marko bahkan pernah mengalami dua kali kebangkrutan.
“Awalnya barang masih sedikit, pembeli masih jarang, bahkan pernah mengalami dua kali bangkrut,” ujar Marko.
Kondisi tersebut tidak membuat ia berhenti, justru ia terus mencoba untuk menjalankan usahanya. Setelah melewati berbagai pengalaman, usaha Marko perlahan berkembang. Awalnya hanya mencoba membuka satu warung, kini ia telah memiliki lima warung. Menurutnya, keberhasilan juga dapat dilihat dari kemampuan orang tua menabung untuk hari tua dan menyiapkan bekal untuk anak-anaknya.
Banyak warga yang berhasil mengembangkan usaha di perantauan tersebut menjadi motivasi bagi warga lainnya. Salah satunya Erah Hayati yang mulai menjalankan usaha warung Madura di Bandung pada 2018.
“Melihat warga Dusun Timbang yang merantau banyak yang sukses, saya menjadi ikut termotivasi untuk memulai membuka warung,” katanya.
Ia memilih Bandung karena melihat aktivitas masyarakat di kota tersebut cukup ramai dan kebanyakan warga Dusun Timbang merantau ke kota tersebut.
“Saya memilih Bandung karena malam selalu ramai, dan udara tidak terlalu panas jadi bikin betah,” ujar Erah.
Pada awalnya, Erah hanya memiliki satu warung dan mulai merasakan perkembangannya satu sampai dua tahun setelah usaha berjalan. Dari satu warung tersebut, kemudian ia kembali membuka satu warung lagi.
Usaha warga yang merantau ternyata tidak berhenti pada generasi orang tua saja. Banyak anak muda yang meneruskan usaha keluarganya. Salah satunya Siska Ayu Nur Azizah, anak muda berusia 20 tahun yang memilih untuk meneruskan usaha warung orang tuanya setelah lulus SMA pada 2025.
“Sejak kecil saya sudah diarahkan untuk meneruskan usaha orang tua, kebetulan cita-cita saya dari dulu bisa mempunyai toko sembako yang besar dan memiliki banyak cabang,” ujar Siska.
Sejak meneruskan usaha orang tuanya, Siska menghadapi berbagai tantangan. Ia harus belajar mengelola keuangan, memahami pengelolaan barang, dan harus menjaga usaha yang sudah dibangun orang tua agar tetap berjalan. Selain mempertahankan usaha yang telah dibangun orang tua, ia juga berharap agar usahanya lebih berkembang dan menjadi lebih besar ke depannya.
Menurutnya, banyak anak muda di Dusun Timbang yang sudah dikenalkan dengan dunia usaha sejak kecil dan diberi pemahaman bahwa usaha tersebut dapat memberikan hasil, meskipun setiap pekerjaan tetap memiliki risiko. Hal tersebut yang membuat anak muda memilih untuk melanjutkan usaha keluarganya.
Mungkin bagi orang luar, rumah-rumah besar di Dusun Timbang memang menjadi salah satu alasan dusun ini disebut “Kampung Sultan”. Namun, di balik setiap rumah tersebut ada perjalanan panjang warga. Ada yang merantau jauh dari kampung halaman, menghadapi warung yang sepi pembeli, persaingan di mana-mana, bahkan kebangkrutan. Rumah-rumah megah itu bukan sekadar bangunan, melainkan hasil dari usaha yang mereka bangun selama bertahun-tahun dan mereka bawa kembali ke kampung halaman.
