Penulis : Muhammad Rafli Zulkarnain | Narasumber: Wasem | Keterangan: Feature News | Kamis, 8 Oktober 2026 | 18.48 WIB

Wasem (66) ketika membungkus tempe dengan daun pisang sebelum dijual di Pasar Pon. (Dok. Muhammad Rafli Zulkarnain)
BANYUMAS, SUDUTNALAR β Pada pukul 05.00 pagi, ketika aktivitas sebagian orang baru akan dimulai, Wasem sudah berada di Pasar Pon untuk berjualan tempe. Perempuan berusia 66 tahun itu menjalani rutinitasnya hingga pukul 09.00. Dari hasil berjualan tersebut, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membantu membiayai pendidikan cucu laki-lakinya yang kini duduk di kelas 12 SMA.
Bagi Wasem, berjualan tempe bukan pekerjaan yang asing. Ia sudah menjalaninya sejak muda. Namun, dalam perjalanan hidupnya, ia sempat berhenti berjualan untuk mengurus cucunya yang sejak kecil tinggal bersamanya karena ibunya harus bekerja.
Keadaan berubah ketika ibu sang cucu meninggal dunia saat anak itu duduk di kelas 3 sekolah dasar. Sejak saat itu, tanggung jawab mengasuh cucu menjadi bagian penting dalam kehidupan Wasem. Ia harus memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi, sekaligus berusaha agar cucunya tetap bisa mengenyam pendidikan.
Setelah sempat berhenti, Wasem kembali menekuni pekerjaan yang sudah lama dikenalnya. Sekitar sepuluh tahun terakhir, ia menjalani kembali rutinitas berjualan tempe. Setiap pagi, ia berangkat ke Pasar Pon dan berharap dagangannya bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Di balik tempe yang dijajakan, ada proses yang harus dikerjakan sebelum dagangan siap dijual. Kedelai dicuci, direbus hingga matang, kemudian direndam. Proses tersebut menjadi bagian dari kesehariannya dalam menyiapkan tempe.
Meski sudah terbiasa, bukan berarti pekerjaannya selalu berjalan mudah. Salah satu kendala yang kerap dihadapi Wasem adalah mencari daun pisang yang digunakan dalam pembuatan tempe. Persoalan sederhana itu terkadang menjadi hambatan tersendiri dalam menjalankan usahanya.
Namun, kesulitan yang lebih besar datang dari kebutuhan keluarga, terutama pendidikan sang cucu. Penghasilan dari berjualan tempe harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, ada biaya sekolah dan ongkos perjalanan yang tidak bisa diabaikan.
βYa pernah sering. Terkendala uang sekolah, bensin motor dan lain-lain,β kata Wasem ketika menceritakan kesulitan yang pernah dihadapinya.
Bagi keluarga mereka, biaya pendidikan bukan hanya soal membayar uang sekolah. Kebutuhan lain, termasuk bensin untuk perjalanan, juga harus diperhitungkan. Dalam keadaan seperti itu, Wasem tetap berusaha agar cucunya dapat melanjutkan sekolah.
Ia juga menyimpan kekhawatiran terhadap pergaulan sang cucu. Menurutnya, membesarkan anak bukan sekadar memastikan kebutuhan materi tercukupi. Ada pula hal-hal yang harus diperhatikan agar cucunya tumbuh dengan baik.
Kini, cucunya telah sampai di kelas 12 SMA. Bagi Wasem, pencapaian tersebut menghadirkan perasaan haru sekaligus bahagia. Setelah melewati berbagai kesulitan, ia masih bisa melihat cucunya melanjutkan pendidikan hingga mendekati kelulusan.
βTerharu, bahagia juga karena bisa menyekolahkan sampai sekarang kelas 12,β ujarnya.
Kebahagiaan itu menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya mengasuh sang cucu. Meski tidak selalu mudah, Wasem terus berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan kemampuan yang dimilikinya. Setiap pagi, ia kembali berjualan dan menjalani rutinitas yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Menjelang kelulusan sang cucu, Wasem memiliki harapan sederhana. Ia ingin cucunya segera mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Dengan begitu, sang cucu bisa mulai menjalani kehidupannya sendiri.
βKalau bisa, ya langsung kerja. Kalau sudah sekolah, sudah selesai, ya. Kalau bisa langsung cari kerja,β tuturnya.
Bagi Wasem, menyekolahkan cucunya hingga kelas 12 merupakan kebahagiaan tersendiri. Ia belum mengetahui bagaimana perjalanan sang cucu setelah lulus nanti. Namun, harapannya tetap sama: sang cucu bisa bekerja dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Esok pagi, Wasem akan kembali ke Pasar Pon. Di antara tempe-tempe yang dijajakannya, ia meneruskan rutinitas yang selama ini menjadi salah satu tumpuan keluarganya. Sementara itu, sang cucu semakin dekat dengan kelulusan. Perjalanan menyekolahkan cucunya hingga titik ini menjadi pencapaian yang layak disyukuri, meski harus ditempuh dengan berbagai keterbatasan.
