Ardia Herdika Chandra

PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Aroma gurih rempah mi pedas menyengat lembut di tengah hiruk-pikuk Jalan Puskesmas 2 Ajibarang RT 02/RW 01. Di balik stan sederhana jemari Syaiful Ihvan (28) atau yang akrab disapa Mang Epul, cekatan meracik bumbu racikan di atas mangkuk yang lalu lihai mengaduk mi hangat. Senyum hangat selalu tersungging di wajahnya setiap kali menyapa pembeli yang datang. Bagi pemuda ini, setiap porsi mi yang disajikan bukan sekadar urusan perut, melainkan tumpuan asa untuk menghidupi keluarga kecilnya.
Kisah usaha Mi Jebew dan Mi Yamin “Mang Epul” ini bermula pada 2023. Berawal dari warung jajanan kecil di dalam gang rumah, Mang Epul yang jeli melihat besarnya minat masyarakat terhadap kuliner mi bertekad mengembangkan dagangannya.
“Awalnya cuma warung jajanan di rumah. Tapi saya melihat peluang, masyarakat kan sukanya mi. Dari mi ayam biasa, saya cari inspirasi di TikTok dan mencoba merekreasi mi jebew pedas yang lagi tren,” ujar Mang Epul mengenang awal merintis.
Perjalanan tersebut jauh dari kata instan. Berbagai eksperimen (trial and error) dilakukan demi menemukan takaran rasa yang pas di lidah warga lokal. Ujian mental pun kerap menghampiri saat masyarakat sekitar awalnya memandang sebelah mata usaha barunya.
“Masyarakat awalnya masih asing, bahkan ada yang ngejek-ngejek nama ‘mi jebew’. Tapi kami buktikan dengan kualitas rasa. Ternyata cocok dan mereka balik lagi,” tuturnya.
Setelah satu tahun penuh menabung sedikit demi sedikit dari keuntungan jualan di rumah, Mang Epul memberanikan diri menyewa stan di pinggir jalan utama demi menjangkau pelanggan yang lebih luas. Namun, fase awal berani tampil di ruang publik justru menjadi ujian terberatnya. Tiga bulan pertama di stan baru, omzetnya anjlok drastis dan hanya mampu menjual belasan porsi sehari.
“Tiga bulan awal itu drop banget, sehari paling cuma laku 18 porsi. Sempat berpikir apa bisa bertahan. Lalu kami coba kerja sama promosi dengan food vlogger di media sosial. Alhamdulillah, dari situ mulai bangkit lagi,” kata Mang Epul.
Pengalaman pahit juga sempat dirasakan saat ia mencoba membuka cabang di lokasi lain. Derasnya persaingan bisnis dan gempuran pesaing baru membuat cabang tersebut tidak mampu bertahan hingga akhirnya harus gulung tikar. Namun, kegagalan itu tidak memadamkan semangatnya, melainkan menjadi pelajaran berharga dalam mengelola keuangan dan strategi usaha.
Setiap hari, rutinitas Mang Epul dimulai sejak subuh. Usai mencatat rekap kebutuhan malam harinya, pukul 07.00 WIB ia sudah berada di pasar tradisional untuk berbelanja bahan-bahan segar. Proses memasak dan peracikan bumbu membutuhkan waktu berjam-jam hingga gerai di Jalan Puskesmas 2 ini siap dibuka pukul 12.00 WIB sampai dagangan habis.
Kini, buah dari ketekunan dan konsistensinya mulai terbayar. Dari yang tadinya hanya memiliki 13 kontak di ponselnya, kini ia memegang sekitar 700 kontak pelanggan tetap. Pencapaian terbesar baginya adalah ketika pembeli merasa puas, lalu merekomendasikan Mi Jebew Mang Epul kepada teman dan kerabat mereka dari mulut ke mulut hingga menjadi pelanggan setia baru. Konsistensi menjaga rasa dan kualitas tanpa memotong porsi meski harga bahan baku fluktuatif menjadi kunci utama kepercayaan pelanggan.
Penjualan stabil sekitar 60 porsi per hari membawa berkah tersendiri bagi keluarga kecilnya. Dari hasil usahanya, Syaiful Ihvan mampu membeli sepeda motor secara tunai sekaligus menyisihkan penghasilan untuk tabungan.
Di balik sibuknya pelayanan dan lelah yang menggelayuti tubuhnya setiap sore, Mang Epul menyimpan harapan sederhana. Ia bercita-cita ingin mempelajari teknik pengemasan vakum (frozen food) agar cita rasa Mi Jebew buatannya dapat menjangkau pelanggan di luar kota yang sering bertanya di media sosial.
Bagi Mang Epul, menjadi penjual mi bukan sekadar cara mencari nafkah, melainkan wujud tanggung jawab mulia seorang kepala keluarga. “Sebagai kepala keluarga, ini motivasi utama saya untuk mencukupi anak dan istri. Yang penting kita konsisten jaga kualitas rasa dan selalu bersyukur. Mau jualan ramai atau sepi, kalau dinikmati dan diikhtiarkan dengan jujur, pasti ada jalannya,” pungkas Mang Epul tersenyum mengakhiri perbincangan.
