Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Balik Kayuhan, Ada Perjuangan yang Tak Pernah Usai

Posted on Oktober 9, 2026 by aflah amanullah

Penulis: Syifa Putri Fadillah | Keterangan: Feature News | Rabu, 7 Oktober 2026 | 09.00 WIB

  Tukang becak di Banyumas (Dok. Koleksi Mufid Majnun)

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Pagi hari, kesibukan mulai terlihat di pasar. Para pedagang berdatangan membawa barang dagangan, sementara pembeli mulai memenuhi area pasar untuk mencari berbagai kebutuhan. Di antara aktivitas yang terus bergerak itu, sebuah becak menunggu di salah satu sudut pasar. Di atas becaknya, seorang lelaki berusia 57 tahun masih setia menanti penumpang. 

Namanya Suyadi. Selama 15 tahun, becak menjadi bagian dari kesehariannya. Setiap pagi, sekitar pukul 07.00, ia sudah berada di pasar. Di sana, ia menunggu pedagang yang membutuhkan jasanya untuk mengangkut atau mengantar barang dagangan. Ketika mendapat penumpang, ia segera mengayuh becaknya untuk mengantar mereka. Setelah perjalanan selesai, ia kembali ke pasar dan menanti penumpang berikutnya. 

Rutinitas itu telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Pagi menjadi waktu untuk berangkat, sementara siang menjadi saatnya pulang setelah aktivitas pasar mulai berkurang. 

Bagi Suyadi, mengayuh becak bukan sekadar pekerjaan untuk mengisi waktu. Di balik setiap kayuhan, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Usia yang terus bertambah tidak membuatnya memilih berhenti selama tubuhnya masih mampu bekerja. Ia masih ingin mendapatkan penghasilan dari tenaganya sendiri. 

Setiap bulan, anaknya juga memberikan bantuan. Namun, bagi Suyadi, bantuan tersebut bukan alasan untuk sepenuhnya berhenti bekerja. Ia tetap memilih datang ke pasar dan mengandalkan kemampuannya selama masih sanggup. 

“Anak saya ngasih tiap bulan, tapi itu untuk bantu saja. Saya tetap kerja semampunya,” ujar Suyadi. 

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan alasan yang membuatnya tetap bertahan. Bagi Suyadi, pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarganya. Selama masih mampu mengayuh becak, ia memilih untuk tetap bekerja. 

Selama 15 tahun menjadi tukang becak, Suyadi tentu merasakan perubahan dalam pekerjaannya. Salah satu perubahan yang ia hadapi adalah semakin beragamnya pilihan transportasi. Kehadiran berbagai transportasi umum membuat becak tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan masyarakat untuk bepergian atau mengangkut barang. 

“Ya sekarang sudah banyak transportasi umum,” kata Suyadi. 

Perubahan tersebut membuat jumlah penumpang tidak selalu ramai. Ada waktu ketika ia mendapat penumpang berturut-turut, tetapi ada pula waktu ketika ia harus menunggu lebih lama di sekitar pasar. Bagi Suyadi, menunggu menjadi bagian dari pekerjaannya. Ia tidak tahu kapan penumpang berikutnya akan datang, tetapi selama masih ada kesempatan, ia tetap berada di sana, menunggu. Begitu seterusnya hingga aktivitas pasar mulai sepi. 

Di tengah perkembangan zaman yang menghadirkan berbagai pilihan transportasi, keberadaan becak perlahan menghadapi tantangan. Namun, bagi Suyadi, becak bukan sekadar alat untuk mengantar penumpang atau barang. Pekerjaan itu menjadi cara baginya untuk tetap berusaha dan memenuhi kebutuhan keluarga. 

Harapan Suyadi pun sederhana. Ia tidak berbicara tentang kehidupan yang berlebihan atau keinginan yang besar. Ia hanya berharap keluarganya dapat tercukupi kebutuhannya. Selama masih memiliki kemampuan untuk bekerja, ia ingin terus melakukannya. 

“Harapan saya keluarga tercukupi kebutuhannya, selagi saya mampu,” tuturnya. 

Menjelang siang, ketika pasar perlahan mulai sepi, pekerjaan Suyadi pun mendekati akhir. Namun, bagi lelaki yang telah 15 tahun mengandalkan kayuhan becaknya itu, satu hari kerja bukan hanya tentang berapa jauh perjalanan yang ditempuh atau berapa banyak penumpang yang diantar. 

Setiap kayuhan adalah bagian dari tanggung jawab. Setiap perjalanan menjadi bagian dari usahanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selama tenaga masih memungkinkan dan tubuh masih sanggup bekerja, Suyadi akan tetap kembali ke pasar. Di tengah roda zaman yang terus berputar, roda becaknya mungkin bergerak lebih perlahan. Namun, semangat untuk terus berusaha tetap membawanya maju demi memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme