Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Balik Fitnah ‘Jalur Belakang’: Pengabdian Tulus Siti Jaziroh Melahirkan 4 Generasi Pendidik

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com
Sumber Foto: Siti Jaziroh

PEMALANG, SUDUTNALAR – Pagi masih terasa dingin di halaman Madrasah Ibtidaiyah Karangtengah saat Siti Jaziroh (57) melangkahkan kaki menuju ruang kelasnya. Usai berpamitan dengan sang suami yang setia mengantar dan menjemputnya setiap hari, ia melangkah sambil menggenggam tas sederhananya. Bagi Jaziroh, menyusuri koridor sekolah ini sudah menjadi bagian dari denyut nadinya selama lebih dari tiga dekade.

Di dalam ruang kelas tiga yang tenang, Jaziroh meletakkan tasnya di atas meja guru. Ia melangkah ke depan papan tulis dengan senyum sabar, siap mendampingi murid-muridnya mendalami materi pelajaran hari itu. Dengan telaten, ia memerhatikan satu per satu siswanya yang tengah tekun menulis dan mencatat di meja kayu masing-masing.

Menenun Asa dengan Upah Lima Ribu Rupiah

Perjalanan pengabdian Jaziroh dimulai pada pertengahan tahun 1990-an. Sebagai seorang guru honorer, ia tetap mengajar dengan penuh semangat meskipun honorarium yang diterimanya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Tahun sembilan puluh itu, honor pertama saya cuma Rp5.000 sebulan. Itu pun tidak cair setiap bulan, melainkan dibayar tiga bulan sekali. Jadi sekali terima hanya Rp15.000,” kenang Jaziroh seraya menatap jendela kelas, mengenang masa-masa sulit tersebut.

Selama sepuluh tahun, dari tahun 1990 hingga 2000, Jaziroh berjalan kaki setiap pagi. Bagi Jaziroh, melihat anak-anak pelosok desa bisa membaca dan berhitung adalah bayaran terbesar yang tak ternilai harganya.

Bisik-Bisik di Balik SK Pengangkatan

Titik balik yang dinantikan akhirnya tiba pada pertengahan tahun 2000. Pemerintah membuka seleksi penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS/ASN) bagi tenaga pendidik. Jaziroh mendaftar, mengumpulkan sisa-sisa lembar berkas pengabdiannya, dan mengurung diri setiap malam untuk mempelajari materi ujian di bawah sinar redup lampu minyak.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Nama Siti Jaziroh tercantum dalam daftar peserta yang dinyatakan lulus murni. Tangis haru pecah di rumah sederhananya saat Surat Keputusan (SK) pengangkatan ASN resmi diterima.

Namun, kebahagiaan itu tak sepenuhnya berjalan mulus. Di tengah euforia pengangkatannya, desas-desus miring mulai berembus di antara koridor sekolah dan warung warga. Sebuah tuduhan menyakitkan menyebar cepat: Jaziroh dianggap menggunakan “jalur khusus” dan membayar sejumlah uang besar agar bisa lolos menjadi ASN.

“Ada yang bilang keluarga saya menjual tanah untuk menyogok pejabat. Ada juga yang menatap saya dingin seolah-olah saya mengambil hak orang lain dengan cara licik,” ujar Jaziroh dengan nada suara yang tertahan. Matanya menerawang, menahan genangan air mata yang hampir jatuh.

Tuduhan itu menghantam dadanya dengan keras. Padahal, untuk bertahan hidup dengan gaji lima ribu rupiah yang dibayar tiga bulan sekali saja ia harus sangat berhemat, apalagi menyediakan nominal puluhan juta rupiah seperti yang dirumorkan. Jaziroh memilih diam. Ia membalas setiap pandangan sinis dengan senyuman dan kerja yang lebih giat.

“Keluarga sempat menangis karena tidak tahan mendengar gunjingan tetangga. Tapi saya katakan pada mereka, Allah tahu lembar demi lembar soal ujian yang saya jawab dengan keringat dan doa sendiri. Biarlah waktu dan dedikasi yang menjawabnya,” tuturnya mantap.

Buah Manis Kejujuran dan Estafet Cinta dari Depan Papan Tulis

Waktu adalah penilai yang paling jujur. Sejak resmi diangkat menjadi ASN pada tahun 2000, setiap rupiah dari gaji dan tunjangannya ia kelola dengan penuh rasa syukur dan ketelitian. Tak ada kemewahan yang ia kejar, fokus dan cita-cita tunggalnya adalah memastikan pendidikan yang layak bagi keempat buah hatinya.

Jerih payah serta ketabahan Jaziroh membuahkan hasil yang teramat manis. Dari keringatnya sebagai seorang ASN, ia berhasil mengantarkan seluruh anaknya menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Lebih dari sekadar gelar akademik, keikhlasan dan keteladanan Jaziroh meresap dalam-dalam ke sanubari anak-anaknya.

Anak pertama dan keduanya kini telah resmi mengikuti jejak sang ibu, berdiri tegak di depan kelas sebagai seorang guru. Sementara itu, anak ketiga dan keempatnya saat ini tengah aktif menempuh studi di perguruan tinggi. Keduanya juga memilih program studi keguruan.

“Saya tidak pernah menuntut mereka untuk menjadi guru. Namun, mungkin karena sejak kecil mereka melihat bagaimana saya mencintai profesi ini, melihat pakaian saya yang terkena debu kapur, cinta pada dunia pendidikan itu menular dengan sendirinya,” ucap Jaziroh dengan sunggingan senyum haru dan binar mata yang memancarkan kebanggaan mendalam.

Setetes air mata jatuh di pipinya, bukan lagi air mata kesedihan atas tuduhan masa lalu, melainkan rasa syukur yang tak terhingga. Fitnah “jalur khusus” yang dulu menyakitkan kini runtuh tak berbekas, tertutupi oleh kenyataan bahwa dari rahimnya lahir generasi-generasi pendidik baru yang siap melanjutkan misi kemanusiaan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kesetiaan yang Mengalahkan Narasi Jahat

Di penghujung masa baktinya, Jaziroh masih berdiri tegap di depan kelas. Goresan huruf demi huruf di papan tulis adalah saksi bisu atas kejujuran dan ketulusannya yang tak tergoyahkan oleh prasangka zaman.

Ia tidak pernah menuntut permintaan maaf dari mereka yang dulu menuduhnya. Bagi Jaziroh, integritas seorang pendidik tidak ditentukan oleh narasi yang dibangun orang lain, melainkan oleh jejak kebaikan dan warisan nilai yang ditinggalkan di dalam jiwa anak-anaknya serta murid-muridnya.

Ketika bel istirahat berbunyi, anak-anak berlarian keluar kelas sambil tertawa renyah. Jaziroh tersenyum kecil melihat mereka dari jendela. Di balik ketidakadilan prasangka manusia, ketulusan seorang guru sejati akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk bersinar. Pengabdian yang pernah diragukan itu kini terus menyala, mengalir lewat jemari keempat anaknya yang meneruskan estafet pelita ilmu.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme