Penulis: Linda Agustriana

Zidan Afiqi, penjual sate, Kamis, 8 Oktober 2026. Foto: Linda Agustriana
BANYUMAS, SudutNalar-Asap tipis mengepul dari bara, membawa aroma daging yang sedang dibakar. Di tengah aktivitas berjualan, Zidan Afiqi tetap sibuk menyiapkan pesanan pelanggan satu demi satu. Bagi sebagian orang, sate mungkin hanya makanan yang dibeli untuk mengganjal lapar. Namun, bagi Zidan, setiap tusuk sate yang terjual adalah bagian dari perjalanan panjang untuk mempertahankan usaha sekaligus membantu keluarganya.
Zidan Afiqi mulai menekuni usaha sate pada 2022. Keputusannya berjualan bukan muncul tanpa alasan. Sebelumnya, ia pernah merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah warung Madura. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia harus mencari jalan baru setelah kehilangan pekerjaan.
“Jujur, pada waktu itu, tahun 2022, saya terkena PHK saat bekerja di pabrik roti. Setelah itu, saya menjadi pengangguran dan bekerja seadanya. Saya berpikir, kalau seperti ini terus, tidak ada pemasukan. Kemudian, muncul pikiran untuk berjualan sate karena modalnya tidak terlalu besar,” ujar Zidan.
Keputusan itu kemudian diwujudkan dengan cara sederhana. Zidan mencoba membuat sate dan membagikannya kepada tetangga untuk meminta penilaian. Tanggapan yang diterimanya cukup meyakinkan. Banyak yang mengatakan sate buatannya enak dan sudah cocok untuk dijual. Berbekal keyakinan tersebut, ia mencari tambahan modal dengan meminjam Rp10 juta kepada kakak iparnya. Modal itu kemudian digunakan untuk memulai usaha.
Pada awal pembukaan usaha, orang-orang terdekat menjadi pembeli pertama. Teman, saudara, dan kerabat di sekitar tempat berjualan datang untuk nglarisin atau membantu meramaikan dagangan. Dari pembeli pertama itulah usaha mulai dikenal. Perlahan, pelanggan baru berdatangan, terutama mereka yang merasa cocok dengan rasa sate buatan Zidan.
Menjalankan usaha sendiri tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan yang paling sering ia hadapi justru datang dari pelanggan yang banyak meminta dan gemar menawar. Di sisi lain, ketika pembeli sedang sepi, ia memilih tidak larut dalam kekhawatiran. Zidan mengatakan bahwa ia biasanya mengambil air wudu dan berdoa kepada Tuhan agar rezekinya dilancarkan.
Ia mengaku pernah mengalami masa sulit ketika omzet menurun selama beberapa bulan. Keadaan tersebut sempat menjadi ujian dalam menjalankan usaha. Namun, Zidan tidak memilih menyerah. Dukungan keluarga menjadi salah satu alasan yang membuatnya terus bertahan. Selain itu, ia terus belajar memperbaiki rasa sate dan cara melayani pelanggan agar mereka merasa nyaman.
Bagi Zidan, berjualan bukan sekadar soal memperoleh penghasilan. Ada pengalaman dan pelajaran yang ia dapatkan dari orang-orang yang ditemuinya selama menjalankan usaha. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika seorang pelanggan memberikan nasihat dan ilmu tentang kehidupan. Nasihat tersebut ia anggap sebagai sesuatu yang sangat berharga.
Dukungan keluarga juga menjadi kekuatan penting. Zidan mengatakan keluarganya sangat mendukung pekerjaannya dan berharap usaha tersebut dapat berkembang lebih besar. Jika suatu saat usahanya semakin maju, ia ingin membuka lapangan pekerjaan dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Sebagian hasil berjualan sate pun digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Harapan Zidan sederhana, tetapi memiliki makna besar. Ia ingin sate buatannya semakin dikenal dan diterima oleh banyak orang. Lebih jauh lagi, ia mempunyai cita-cita untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Salah satu impian terbesarnya adalah dapat memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Di balik kepulan asap dari bara sate, ada seorang penjual yang terus belajar, bertahan, dan menggantungkan harapan pada usaha yang dirintisnya. Setiap tusuk sate yang dibakar menjadi bagian dari perjuangan Zidan untuk membantu keluarga dan mengejar cita-cita. Bara boleh mengecil setelah dagangan selesai, tetapi semangatnya untuk terus berusaha masih menyala.
