Penulis: Fadel Daren Nafisa

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Tung… tung… Bunyi logam itu terdengar dari teras Oemah Gamelan di Desa Wisata Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Tidak ada bel listrik yang berbunyi “ting-tong”, dan tidak ada tamu yang berteriak memanggil penghuni rumah.
Di tembok oranye di sisi pintu kayu yang mengilap, sebatang besi menancap, dan seutas tali merah menggantung darinya. Di ujung tali itu, sebuah kenong hitam tergantung diam. Permukaannya penuh bercak tanda lama dipakai, dan tonjolan bundar di tengahnya berkilat samar. Tidak ada tombol di sana. Untuk memberi tahu penghuni bahwa ada tamu, kenong itulah yang dibunyikan.
Bel yang Harus Dipukul
Kenong termasuk keluarga gong. Dalam seperangkat gamelan, ia duduk di barisan instrumen dan dibunyikan saat karawitan dimainkan bersama. Di Pekunden, ia berpindah ke ambang pintu dan bertugas memberi tahu penghuni rumah bahwa ada tamu.

Pemandangan serupa tampak di rumah warga lain, di RT 03 RW 03. Di dinding putih rumah itu, sebuah kenong hitam menggantung pada tali, dengan sebatang pemukul bergagang kayu dan berkepala bulat di depannya. Pelat kecil bertuliskan RT 03 RW 03 dan angka 14 menempel di dekatnya, dan di bawahnya papan mengingatkan, “Ayo… Cuci Tangan Pakai Sabun.” Tamu yang datang cukup meraih pemukul itu dan memukul kenongnya.
Bedanya dengan bel listrik jelas. Bel bisa ditekan siapa saja tanpa perlu paham apa pun. Kenong harus dipukul dengan pemukulnya. Maka tamu yang datang pun ikut memainkan sepotong gamelan, walau hanya satu kali pukul. Bunyi yang biasanya hanya ada di panggung hadir di teras rumah.
Coba tanyakan pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita mendengar bunyi gamelan langsung, bukan dari layar ponsel? Kapan terakhir kali tangan kita memegang pemukul alat musik daerah sendiri? Di Pekunden, kesempatan itu menunggu di depan pintu.
Kebiasaan ini erat kaitannya dengan keberadaan Oemah Gamelan Pekunden yang dirintis Eko Kuntowibowo. Gamelan memang bagian dari keseharian tempat ini. “Selain karawitan, di sini utamanya produksi gamelan di belakang,” ujar Eko Kuntowibowo, pendiri Oemah Gamelan. Di belakang rumah itu gamelan-gamelan dibuat, sementara di bagian depan sebuah kenong menunggu tamu untuk memukulnya.
Dikelilingi Penanda Perjalanan
Kembali ke Oemah Gamelan, di dinding bata merah sebelah kenong, piagam penghargaan, foto bersama, kliping koran berjudul “Oemah Gamelan Jadi Wadah Seniman”, dan sertifikat desa wisata berderet dalam bingkai hitam. Jam dinding berdetak di sisi kiri. Kenong itu menggantung di pinggirnya, seolah ikut menyimak perjalanan tempat ini.
Berawal dari Tumpukan Gamelan
Perjalanan itu dimulai dari persoalan yang sangat biasa, yaitu kehabisan ruang.
“Berdiri memang dari aktivitas kami sehari-hari, yaitu bermain gamelan dan produksi gamelan,” tutur Pak Eko. “Ketika gamelan yang ada di belakang sudah numpuk, kurang tempat, maka kami coba membuat tempat untuk meletakkan gamelan.”
Tempat itu dinamai Oemah Gamelan. “Agar mudah menyebutnya,” kata Pak Eko. Ia resmi berdiri pada 22 Februari 2021. Usianya baru lima tahun dan baru dirayakan lewat Banyumas Gamelan Festival.
Dari gudang yang kehabisan tempat itu, kini tumbuh jadwal kegiatan yang padat. Setiap Rabu dan Jumat, ibu-ibu PKK setempat berlatih karawitan. Sabtu ada kelas karawitan untuk umum, Minggu pagi kelas tari, dan Minggu siang kelas pedalangan.
Silaturahmi yang Berbunyi
Pak Eko menyebut tiga tujuan kegiatan karawitan di tempatnya. “Pertama untuk silaturahmi, yang kedua hiburan, yang ketiga agar ada kegiatan warga di sekitar sini,” katanya. “Yang paling penting untuk hiburan.”
Kenong di sisi pintu tampak sejalan dengan semangat itu. Silaturahmi dan hiburan tidak berhenti di ruang latihan. Keduanya ikut hadir setiap kali tamu berhenti di depan pintu dan memukul kenong.
Harapan di Ujung Pemukul
Harapan Pak Eko terdengar sangat sederhana. “Harapannya ke depan gamelan tetap lestari, lalu Gen Z yang sekarang paling tidak tahulah tentang gamelan, syukur bisa main gamelan.”
Simak pilihan katanya: paling tidak tahulah. Ia tidak meminta anak muda menjadi pengrawit mahir. Ia hanya meminta mereka tahu bahwa gamelan ada.
Permintaan sekecil itu justru mengusik. Tidak semua orang punya gamelan di rumah, dan tidak semua pernah memegangnya. Banyak dari kita mungkin mengenalnya hanya lewat video yang lewat sekilas di layar ponsel, lalu menggulirnya ke tontonan berikutnya. Padahal alat musik hanya bisa lestari jika ada tangan yang memegangnya dan telinga yang mendengarnya langsung.
Untuk menjaga kelestarian gamelan, Oemah Gamelan terus berlatih dan menggelar workshop bersama ISI Surakarta. Namun, di Pekunden ada satu cara yang tidak butuh panggung. Cukup menggantung kenong dan pemukulnya di sisi pintu, lalu menunggu tamu datang.
Kenong itu terus menggantung, diam, dan menunggu untuk dipukul. Ia hanya meminta satu hal dari setiap tamu: mau mengangkat pemukul. Selama masih ada yang memukul, bunyi tung… tung… itu terus terdengar, dan tradisi kecil ini ikut hidup, satu pukulan pada satu waktu. Siapa yang akan memukulnya berikutnya?
