Sudutnalar.com, 14 September 2026

(Foto: Dokumen Pribadi)
PURWOKERTO, SudutNalar — Di tengah gempuran tren budaya modern yang kian diminati generasi muda, Prajnya, seorang mahasiswi asal Banyumas, memilih jalan berbeda dengan tetap melestarikan kebudayaan lokal. Mahasiswi yang telah mengenal dunia tari sejak usia 7 tahun ini mulai fokus menyelami Tari Lengger Banyumas saat menginjak usia 13 tahun. Langkah ini didasari rasa kepedulian yang mendalam saat menyaksikan para remaja mulai meninggalkan warisan budaya daerahnya sendiri.
Mendapat dukungan penuh dari keluarga sejak kecil yang mendaftarkannya ke sanggar tari, perjalanan Prajnya di panggung seni tradisional diwarnai berbagai dinamika menarik. Menurut Prajnya, Tari Lengger memiliki daya pikat dan keunikan tersendiri dibanding tari tradisional daerah lain karena menggunakan gerakan yang dinamis serta energik. Salah satu ciri khasnya terlihat dari gerakan geol (goyangan pinggang) dan gedheg (gelengan kepala) yang selaras dengan selendang tari serta iringan calung khas Banyumas.
Dedikasi Prajnya dalam menari mengantarkannya pada berbagai momen berkesan yang tak terlupakan. Pengalaman paling membanggakan baginya terjadi pada tahun 2024 lalu, saat ia berkesampatan menjadi salah satu bagian dari pagelaran megah 10.000 Lengger Banyumas di GOR Satria, Purwokerto. Tak hanya itu, ia pernah berada dalam situasi menegangkan saat penampilannya dinilai langsung oleh maestro Lengger Banyumas, Mas Rianto.
“Aku pernah ngerasain deg-degan banget karena ikut lomba yang jurinya itu sang maestro Lengger Banyumas, yaitu Mas Rianto,” ujarnya.
Bahkan saat menghadapi kendala teknis di atas panggung, ia tetap menunjukkan profesionalismenya sebagai penari. “Kejadian lucu yang aku alamin pas tampil tiba-tiba sound system-nya mati. Di situ aku bingung banget harus apa, dan akhirnya memilih untuk diam di tempat sambil berpose menggunakan gerakan tari,” tambahnya.
Bagi Prajnya, Tari Lengger bukan sekadar gerakan fisik atau hiburan visual semata, melainkan sebuah tradisi turun-temurun yang menyimpan makna spiritual mendalam tentang simbol rasa syukur masyarakat Banyumas kepada Sang Pencipta. Berdasarkan sudut pandangnya sebagai generasi muda, tantangan terbesar melestarikan seni ini adalah gempuran budaya luar yang dinilai lebih menarik minat anak muda.
“Harapan aku untuk generasi muda Banyumas, semoga tetap menjaga kelestarian budaya Banyumas terutama Lengger. Karena budaya ini sudah turun-menurun dan tarian ini juga memiliki makna yang dalam tentang rasa syukur,” tutup Prajnya.
Penulis : Firliana Saraswati Prasetyoningrum
Editor : Prajnya Aulia Patria Legawa
