Penulis: Yulia Avriani

(Dokumentasi:Yulia Avriani)
BANYUMAS, SudutNalar – Pagi menjadi awal rutinitas Sulwati di warung yang telah dijaganya sejak 2010. Rak-rak berisi berbagai kebutuhan sehari-hari kini memenuhi bagian dalam ruangan. Sayuran, makanan ringan, sembako, hingga peralatan rumah tangga tersusun rapi di tempat yang kini jauh lebih luas dibandingkan saat pertama kali dibuka pada 2010.
Di salah satu sudut, terdapat meja tempat Sulwati menyimpan uang sekaligus melayani pembeli. Dari tempat sederhana itu, perempuan berusia 54 tahun menjalani kesehariannya sebagai pemilik dan penjaga warung.
Keputusannya untuk mulai berjualan berawal dari keinginan membantu perekonomian keluarga. Seiring berjalannya waktu, warung tersebut perlahan berkembang.
Perubahan itu tidak terjadi dalam waktu singkat. Selama bertahun-tahun, Sulwati terus bertahan menghadapi berbagai tantangan. Baginya, mempertahankan warung bukan hanya tentang menjaga usaha tetap berjalan, melainkan juga menjaga sumber penghasilan utama demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Setiap hari, Sulwati membuka warung sejak pukul 06.00 hingga 21.00. Setelah pulang belanja dari pasar, ia bergegas menata barang dagangan sebelum kembali melayani pembeli yang datang.
Di sela-sela aktivitas menjaga warung, pekerjaan rumah tangga tetap ia kerjakan. Rutinitas tersebut terus dijalani dari hari ke hari.
Bagi Sulwati, ramainya pembeli menjadi salah satu hal yang membuatnya senang menjaga warung. Sebaliknya, keadaan sepi justru menjadi salah satu hal yang paling melelahkan.
Ketika warung sepi, Sulwati memilih mengurangi jumlah barang yang dibelinya dari pasar. Cara tersebut menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan warung yang telah menjadi sumber kehidupan keluarga selama bertahun-tahun.
“Kalau sepi, belanja ke pasar dikurangi” ujar Sulwati.
Meski menghadapi berbagai keadaan, Sulwati tidak pernah terpikir untuk berhenti berjualan. Ia tetap berusaha memberikan pelayanan yang baik kepada pembeli.
Baginya, warung bukan hanya tempat untuk mencari penghasilan. Warung juga menjadi salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Salah satu hal yang membuat Sulwati merasa senang dan bangga adalah ketika hasil dari warung dapat membantu pendidikan anaknya. Dari hasil berjualan, anaknya dapat melanjutkan pendidikan hingga kuliah.
“Sangat senang karena anak bisa kuliah dengan hasil dari warung ini,” katanya.
Selama 16 tahun berjualan, warga sekitar menjadi pelanggan setia warung Sulwati. Beberapa pelanggan bahkan sudah datang sejak lama dan dianggap seperti teman atau keluarga sendiri.
Kedekatan itu terbentuk melalui pertemuan yang berulang setiap hari ketika warga datang membeli kebutuhan rumah tangga di warung.
Namun, pengalaman bersama pelanggan tidak selalu menyenangkan. Sulwati pernah menghadapi pelanggan yang berutang tetapi tidak mengembalikan uangnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran tersendiri bagi Sulwati tentang kepercayaan.
“Percaya kepada orang belum tentu orang itu bisa dipercaya,” tuturnya.
Di sisi lain, ia juga pernah mendapatkan pengalaman yang membuatnya terharu. Suatu ketika, Sulwati memberikan uang kembalian lebih kepada seorang pembeli. Pembeli tersebut menyadari kelebihan uang dan kembali untuk mengembalikannya. Bagi Sulwati, kejadian sederhana itu menunjukkan kejujuran pelanggan.
“Saya terharu, ternyata masih ada orang yang jujur,” ujar Sulwati.
Warung yang dahulu kecil kini telah berkembang. Barang dagangannya pun semakin bertambah.
Perjalanan selama 16 tahun tersebut menjadi sesuatu yang membuat Sulwati bangga. Ia berhasil mempertahankan warung yang sejak awal dibangun untuk membantu keluarganya.
Bagi Sulwati, warung bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
“Warungku hidupku, tiada hari tanpa diwarung,” ujarnya.
Kini, rutinitas itu masih terus dijalani. Pagi dimulai dengan membuka warung dan menata dagangan, kemudian dilanjutkan dengan melayani pembeli hingga malam hari.
Setelah melewati perjalanan panjang, harapan Sulwati sebenarnya sederhana. Ia ingin warungnya tetap bertahan dan pembelinya terus berdatangan.
“Semoga warung bisa bertahan terus, pembelinya mili melintir,” harap Sulwati.
Bagi Sulwati, bertahan selama 16 tahun bukan hanya tentang menjaga sebuah warung tetap buka. Di balik rak-rak dagangan itu, ada keluarga yang terus ia perjuangkan dan harapan yang masih ingin ia jaga.
