Reporter: Gevira Dewi | Editor: Hayudya Komalashinta
sudutnalar.com, 11 September 2026

(Foto: Gevira Dewi)
BANYUMAS, Sudut Nalar – Klenteng Boen Tek Bio yang terletak di jantung kawasan Kota Lama Banyumas berdiri megah bukan sekadar sebagai tempat peribadatan tradisi Tionghoa. Menempati lahan bersejarah sejak tahun 1826, bangunan ini menyimpan jejak panjang dinamika zaman. Tempat ini bertransformasi dari ruang pendidikan era kolonial, hingga menjadi ruang temu kultural antara tradisi leluhur Tionghoa dan kearifan Kejawen.
Sobitan, Humas sekaligus Kepala Rumah Tangga Klenteng Boen Tek Bio, menuturkan bahwa legalitas lahan ini berakar dari hibah tokoh Ongkingswi kepada perkumpulan Tjung Hwa Tjung Hwie Hun Giok Hwe Kwan setelah bersepakat dengan seorang Kapitan Tionghoa, Zhong Ngah Wi. Semula, bangunan permanen tersebut dibangun sebagai pusat kegiatan sosial, kedukaan, hingga sarana belajar mengajar masyarakat setempat.
Pada masa kolonial Belanda, gedung ini difungsikan sebagai sarana pendidikan yang dikenal sebagai Chinese Holland School, sebelum berganti nama menjadi Sekolah Dwi Tunggal. Titik balik sejarah mulai bergulir sekitar Juni 1960 ketika kediaman seorang pemuka ritual tradisi (laocu), Bapak Samyono, dirasa tak lagi memadai untuk menampung jemaah sembahyang bersama.
Melihat kondisi tersebut, seorang pengusaha karoseri setempat bernama Bapak Joyo Limantoro memprakarsai pemindahan arca leluhur seperti patung Kongco Hok Tek Ceng Sin dan Dewi Kwan Im ke ruang guru di sekolah tersebut. Inisiatif ini melahirkan fungsi ganda pada bangunan: dimanfaatkan sebagai sarana belajar mengajar pada pagi hari, serta pusat persembahyangan tradisi pada petang hari.

(Foto: Gevira Dewi)
“Sejak tahun 1960, bangunan sekolah ini pada pagi hingga sore dimanfaatkan untuk belajar mengajar, lalu sore hingga malam dipakai sembahyang tradisi leluhur. Memasuki tahun 1967, seiring maraknya sekolah negeri dan berkurangnya murid sekolah swasta, tempat ini sepenuhnya beralih fungsi menjadi klenteng,” jelas Sobitan.
Perjalanan sejarah tersebut melahirkan corak akulturasi yang kental. Keunikan arsitektur langsung terlihat di bagian depan. Di sana, tempat sembahyang Tuhan Allah disusul oleh bangunan pendopo berarsitektur Jawa sebelum melangkah ke bangunan peribadatan inti. Falsafah doanya pun beririsan erat dengan pandangan spiritual Kejawen.
“Saat bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan empat penjuru mata angin, maknanya selaras dengan konsep Kejawen. Jika dalam tradisi Jawa dikenal istilah Bapa Angkasa, Ibu Bumi, serta Papat Kiblat Limo Pancer, di sini kami juga menyebut sembahyang kepada Yang Maha Mulia, Ibu Pertiwi, serta penguasa di timur, utara, barat, dan selatan,” terang Sobitan.

(Foto: Gevira Dewi)
Kekayaan budaya yang paling unik adalah keberadaan altar leluhur tanah Banyumas, yakni sosok Mbah Kuntjung di sisi utara ruang utama. Altar ini hadir sejak peristiwa spiritual pada tahun 1993 sebagai wujud penghormatan mendalam kepada sosok cikal bakal yang dipercaya mendiami tepian Sungai Serayu ratusan tahun silam.
Pada meja persembahyangan Mbah Kuntjung, diletakkan tiga bilah keris sebagai lambang pusaka budaya Jawa. Sesuai pantangan Mbah Kuntjung semasa hidup, persembahyangan di altar ini tidak pernah menyajikan daging hewani atau makanan bernyawa, melainkan murni hidangan nabati dan buah-buahan.
“Keris-keris tersebut adalah simbol penghormatan budaya Jawa, sama halnya dengan patung di klenteng yang merupakan simbol nenek moyang, bukan untuk disembah bendanya secara harfiah,” tambah Sobitan menegaskan makna simbolik tersebut.
Jejak harmoni kultural Klenteng Boen Tek Bio kian dipertegas lewat sejarah peresmiannya oleh Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid, serta pembukaan pintu secara simbolis oleh Maha Menteri Keraton Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Sinuwun Tejowulan, pada Mei 2016.
Kini, Klenteng Boen Tek Bio telah ditetapkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat sebagai cagar budaya dan destinasi wisata religi edukatif. Masyarakat luas, pelajar, hingga peneliti budaya diperbolehkan berkunjung tanpa dipungut biaya tiket masuk. Ketentuannya, pengunjung harus menjunjung etika sopan santun dan menjaga kesakralan altar.
Bagi Sobitan dan pengurus klenteng, menjaga Boen Tek Bio adalah ikhtiar merawat warisan peradaban dan pendidikan budi pekerti lintas generasi.
“Harapan kami adalah regenerasi penerus mau menjaga dan melestarikan budaya ini. Nilai luhur seperti welas asih kepada yang lemah, berbakti kepada orang tua, serta mencintai dan menjaga keutuhan bangsa adalah pondasi budaya mendasar yang harus terus diwariskan,” pungkasnya.

Saya tertarik dengan berita yg dimuat oleh gevira dewi mahasiswa universitas soudirman ..saat ini duduk di semester 2,, saya tertarik karena berita yg dimuat cukup.sistematis, dengan tutur kata yg lugas dan sopan seperta pilihan kata atau diksi yang apik,mudah dipahami dan sangat infoarmstif..sebagai mahaiswa.jurisan pendidikan bahasa dan sastra indonesia…dapat dikatakan memeilki keberanian, utk membuat liputan berita. Yang dilakukan secara pribadi, harapan saya sebagai ayah nya ..sangatmenaruh penuh dan me dukung apa yg menjadi cita2 anada gevjra utk.menjadi dosen..disini mulai tumbuh komoetensi kepribadiannya dan juga mulai tumbuh kompetensi sosialnya ..dengan tekad, keyakinan dsn keberaniannya. Berkarya, melalui berita2 yang aktual..atau oun berita2 sejarah masa lalu tentang salah peradaban yg ada di jawa..trimaksih..wasalam..ayahanda tercinta