Penulis: Nesa Aprillia
Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

(Foto: Dokumen Pribadi)
Banten, SudutNalar – Di depan kelas, seorang mahasiswa baru sempat terdiam. Ia menunggu sambil bertanya dalam hati, “Apakah saya sudah siap untuk masuk kelas?”
Keraguan itu pernah dirasakan Maulana ketika pertama kali memasuki dunia perkuliahan. Dengan cara komunikasi yang berbeda, lingkungan kampus menjadi ruang baru yang harus ia pahami sedikit demi sedikit. Bukan hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga menemukan cara berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Kini, Maulana merupakan mahasiswa semester 7 Jurusan Manajemen di Universitas Pamulang. Di tengah kesibukannya menyelesaikan perkuliahan dan mempersiapkan penelitian untuk skripsi, ia masih terus belajar menyesuaikan diri dengan berbagai situasi.
Pada awal kuliah, rasa percaya diri Maulana belum sepenuhnya tumbuh. Setelah memasuki kelas, ia mencoba berkenalan dengan teman yang duduk di sebelahnya. Namun, perbedaan cara berkomunikasi membuat percakapan mereka tidak berjalan mudah.
Maulana kemudian menjelaskan kondisinya kepada temannya.
“Maaf, saya tuli. Apakah kita bisa berkomunikasi dengan mengetik di HP?” katanya.
Awalnya temannya kaget, tetapi setelah Maulana menjelaskan, temannya dapat memahami dan menghargai cara komunikasinya. Maulana juga meminta bantuan untuk menjelaskan kondisinya kepada dosen. Temannya bersedia membantu. Hal sederhana itu membuat Maulana merasa lebih tenang karena ada seseorang yang dapat membantunya berkomunikasi dengan dosen.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan selama perjalanan kuliahnya. Dari yang semula ragu berkomunikasi, Maulana perlahan mulai terbiasa dengan lingkungan kampus. Ia pun menjadi lebih berani berinteraksi dengan teman dan dosen, meskipun tetap menggunakan cara komunikasi yang sesuai dengan kondisinya.
“Awalnya memang tidak mudah, tetapi lama-lama saya bisa menyesuaikan diri dan menjadi lebih percaya diri,” ujarnya.
Namun, perjalanan Maulana tidak selalu berjalan mulus. Kesulitan berkomunikasi terkadang membuatnya kesulitan memperoleh informasi mengenai perkuliahan dan tugas. Ada kalanya ia merasa lelah karena harus memastikan kembali informasi yang belum diterimanya.
“Tugasnya mana? Mengapa saya tidak diberi tahu informasinya?” pikirnya ketika mengalami kesulitan mendapatkan informasi.
Meski demikian, Maulana tidak memilih untuk berhenti. Ia berusaha mencari jalan lain dengan bertanya kepada teman-temannya untuk memastikan informasi yang diterima. Jika masih belum jelas, ia bertanya langsung kepada dosen mengenai tugas yang harus dikerjakan.
Keputusannya untuk terus melanjutkan kuliah juga tidak terlepas dari janji Maulana kepada kedua orang tua. Ketika merasa ingin menyerah, Maulana kembali mengingat tujuannya untuk menyelesaikan pendidikan.
“Saya tetap menjalani kuliah karena sudah berjanji kepada orang tua untuk menyelesaikan pendidikan,” tuturnya.
Seiring waktu, berbagai kesulitan yang dialami perlahan mengubah cara pandang Maulana. Ia menyadari bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai dengan harapan. Dari pengalaman tersebut, Maulana belajar untuk lebih berani bertanya dan mencari informasi secara mandiri.
“Kondisi saya, bukan alasan saya tidak mampu melakukan sesuatu,” katanya.
Bagi Maulana, kondisi pendengarannya bukan penghalang untuk terus belajar. Ia memang membutuhkan cara komunikasi yang berbeda, tetapi tetap dapat belajar, beradaptasi, dan menyelesaikan perkuliahan.
Saat ini, Maulana fokus menyelesaikan kuliah. Setelah itu, ia ingin terus mengembangkan kemampuan dan mencari pengalaman kerja yang sesuai dengan kemampuannya.
Di luar kesibukan kuliah, Maulana mengisi waktunya dengan membaca berita dan membaca novel. Baginya, membaca berita bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cara untuk memperoleh wawasan baru.
Perjalanan Maulana menunjukkan bahwa meminta bantuan bukan berarti tidak mampu. Perbedaan cara berkomunikasi juga tidak harus menjadi alasan untuk membatasi diri.
“Jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan selama kuliah. Saya sendiri pernah mengalami kesulitan, tetapi saya bersyukur mendapat dukungan dari teman-teman sekelas yang mau membantu dan memahami saya. Dari situ saya belajar bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Jadi, tetap percaya diri, jangan takut bertanya atau meminta bantuan, dan terus berusaha sampai tujuan kita tercapai,” pesannya kepada mahasiswa lain.
Dari berbagai kesulitan yang pernah membuatnya ragu, Maulana menemukan satu hal yang terus membawanya maju, keputusan untuk tetap melangkah.
