Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dari Pekerja hingga Pemilik Usaha, Perjalanan Priyanto Membuat Tahu

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by athaya qila

sudutnalar.com, 08 Oktober 2026
Oleh: Citra Rahma Latifah

Priyanto menyiapkan tahu untuk digoreng dalam proses produksi di rumahnya  (Dok. Citra Rahma Latifah)

PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Pukul 04.00 menjadi awal aktivitas Priyanto, 49 tahun, di rumahnya di Desa Slinga. Ketika sebagian orang baru memulai hari, ia sudah bersiap mengolah kedelai yang menjadi bahan utama pembuatan tahu. Sekitar 10 kilogram kedelai digunakan dalam proses produksi yang telah menjadi rutinitasnya selama 15 tahun.

Belajar Sebelum Berdiri Sendiri

Bagi Priyanto, membuat tahu bukanlah pekerjaan yang baru dikenalnya. Jauh sebelum memiliki usaha sendiri, ia belajar membuat tahu dengan mengikuti dan bekerja bersama orang lain. Dari pengalaman tersebut, ia mengenal tahapan pembuatan tahu sekaligus memperoleh keterampilan yang kemudian menjadi bekal untuk membangun usahanya sendiri.

Keinginan untuk memiliki usaha sendiri muncul ketika Priyanto merasa sudah mampu membuat tahu. Ia kemudian menyampaikan keinginannya kepada bos tempatnya bekerja dahulu. Keputusan tersebut ternyata mendapat dukungan. Bos yang sebelumnya menjadi tempat Priyanto belajar bahkan membantu memberikan modal awal untuk memulai usaha.

Dukungan itu menjadi salah satu langkah awal bagi Priyanto untuk memulai bisnis sendiri. Untuk peralatan produksi, ia memilih menyewanya sendiri. Berbekal pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya, ia tidak mengalami kesulitan berat ketika mulai menjalankan usaha. Pengetahuan yang sebelumnya diperoleh ketika bekerja dengan orang lain kemudian diterapkan untuk usaha miliknya.

Dari Rumah, Tahu Terus Diproduksi

Usaha tahu milik Priyanto tidak dijalankan di tempat produksi khusus. Rumah sendiri menjadi tempat berlangsungnya aktivitas produksi sehari-hari. Ia juga tidak mengerjakan seluruh proses seorang diri, sang istri dan seorang tetangganya turut membantu dalam pembuatan tahu.

Tahu yang telah dicetak dan siap melalui proses penggorengan (Dok. Citra Rahma Latifah)

Pembuatan tahu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Kedelai yang telah disiapkan harus direndam terlebih dahulu selama kurang lebih delapan jam. Setelah direndam, kedelai digiling dan direbus. Tahap berikutnya adalah penyaringan, kemudian hasil olahan dicetak menjadi tahu dan selanjutnya digoreng. Keseluruhan proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 jam.

Setelah tahu selesai dibuat, Priyanto memasarkannya dengan dua cara. Sebagian tahu dijual sendiri, sementara sebagian lainnya dititipkan ke warung-warung. Cara tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya dalam mempertahankan usaha yang sudah berjalan selama satu setengah dekade.

Ketika Harga Kedelai Naik

Menjalankan usaha selama bertahun-tahun bukan berarti tanpa tantangan. Salah satu persoalan yang dihadapi Priyanto berkaitan dengan harga bahan baku, terutama kedelai. Harga kedelai yang dahulu sekitar Rp10.000 per kilogram kini mencapai Rp13.000 per kilogram. Sementara itu, harga tahu yang dijual Priyanto masih berada di angka Rp3.000 per bungkus. 

Bagi Priyanto, keterampilan yang dahulu diperoleh dari bekerja dengan orang lain kini telah menjadi bagian dari kehidupannya sendiri. Ia tidak lagi hanya mengikuti proses pembuatan tahu milik orang lain, tetapi menjalankan usaha yang dibangunnya dari kemampuan yang telah dipelajari.

“Harapannya supaya harga bahan bakunya murah,” ujar Priyanto.

Harapan tersebut terdengar sederhana, tetapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan usaha yang dijalaninya. Ketika harga bahan baku meningkat sementara harga jual tahu tetap, ruang untuk mendapatkan keuntungan menjadi salah satu hal yang harus dipertimbangkan.

Lima Belas Tahun yang Terus Berjalan

Perjalanan Priyanto menunjukkan bahwa kemandirian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Keterampilan membuat tahu yang awalnya ia dapatkan dengan mengikuti orang lain justru menjadi bekal ketika ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Dukungan dari bosnya menjadi modal awal, sementara keterampilan yang telah dimilikinya menjadi dasar untuk terus menjalankan usaha.

Kini, rumah Priyanto bukan hanya menjadi tempat tinggal. Dari rumah itu, aktivitas membuat tahu berlangsung sejak pagi buta hingga proses produksi selesai. Kedelai yang semula hanya menjadi bahan mentah melewati berbagai tahapan sebelum berubah menjadi tahu yang siap dijual.

Selama 15 tahun, rutinitas tersebut terus berulang. Setiap pukul 04.00, Priyanto kembali memulai pekerjaannya. Bukan lagi sebagai seseorang yang belajar membuat tahu kepada orang lain, melainkan sebagai pemilik usaha yang mempertahankan keterampilan tersebut dengan caranya sendiri.

Dari keterampilan yang dipelajari, dukungan yang diterima, dan usaha yang dijalankan dari rumah sendiri, Priyanto membuktikan bahwa pekerjaan sederhana pun dapat menjadi jalan untuk berdiri di atas kemampuan sendiri.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme