Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dari Kolong Flyover ke Taman Kota: Perjuangan Uli Zainuddin Merawat Asa Anak-Anak Kurang Mampu

Posted on Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Oleh: Gevira Dewi

Anak-anak Komunitas Along memamerkan hasil karya gambar dan tulisan ucapan Selamat Hari Natal di bawah flyover Tomang, Jakarta Barat. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

JAKARTA, SudutNalar – Deru mesin bus TransJakarta dan dentum roda truk kontainer melintasi Jalan Raya Tomang tanpa henti. Di balik bisingnya arus lalu lintas Jakarta Barat, sehembus angin membawa debu jalanan hinggap di atas lembaran kertas bergambar. Di atas rumput dan rindangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di pinggir jalan raya, belasan pasang mata mungil menatap penuh semangat ke arah sebuah papan tulis portable.

Lapak belajar ini memang tak lagi berdiri di bawah lantai semen yang dingin dan remang di kolong flyover Tomang seperti tahun-tahun sebelumnya. Setelah sempat lama beraktivitas di bawah himpitan tiang beton flyover, kegiatan belajar kini telah berpindah ke area taman terbuka hijau yang lebih segar dan lapang. Namun, semangat yang menyala di sana tak pernah berubah sedikit pun.

Setiap hari Minggu pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, sudut taman kota ini mendadak menjelma menjadi ruang belajar bernyawa. Inilah tempat bernaung Komunitas Along, sebuah gerakan pendidikan sosial yang konsisten merawat mimpi anak-anak kurang mampu di seputar area Tomang sejak September 2009.

Sebelum kelas dimulai, gema suara mungil anak-anak membahana menembus kebisingan kota. Dengan tangan tegak bersikap hormat, sekitar 60 murid dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Prosesi tersebut disusul doa menurut ajaran agama masing-masing, menanamkan nilai persatuan sejak dini.

β€œAwalnya saya cuma tergerak untuk mengajar anak-anak pemulung di pinggir kali,” tutur Uli Zainuddin Simbolon, pendiri Anak Mentari Indonesia yang telah 17 tahun mengabdi mengajar secara gratis.

Anak-anak dari pemukiman sekitar pun kian berdatangan seiring berjalannya waktu. Uli menegaskan bahwa kelasnya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.

“Perbedaan itu bukan hambatan, melainkan alasan untuk kita saling merangkul dan belajar bersama,” ujarnya.

Sistem pembelajaran di komunitas ini disusun sangat terstruktur tiap minggunya. Minggu pertama dan ketiga diisi dengan pendalaman materi akademik seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Minggu kedua difokuskan pada kegiatan literasi membaca untuk melatih keberanian anak berpendapat. Sementara minggu terakhir diisi dengan kelas keterampilan, seperti menggambar, melukis, bermain musik, hingga menanam.

Selain belajar di ruang terbuka, Komunitas Along juga membuka cakrawala anak-anak ke dunia luar. Para relawan secara berkala membawa anak-anak belajar menggunakan transportasi umum TransJakarta, mengunjungi museum Planetarium di Taman Ismail Marzuki untuk mengenal tata surya, menonton film di bioskop, hingga berkunjung ke Monumen Nasional.

Kemal (siswa Komunitas Along) menunjukkan karya tulis cita-citanya saat mengikuti kegiatan belajar di bawah flyover Tomang, Jakarta Barat. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Bagi anak-anak kurang mampu, ruang belajar di taman pinggir jalan adalah tempat mereka berani menggantungkan cita-cita. Salah satunya adalah Kemal, seorang bocah yang dengan bangga menunjukkan selembar kertas bertuliskan tangan: ‘Kemal Punya CITA CITA Menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia)’.

Prinsip UUD 1945 Pasal 31 (1) NRI 1945 yang menyatakan  bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan benar-benar dihidupkan di sini. Meskipun diapit keterbatasan ekonomi keluarga dan latar belakang tempat tinggal yang serba terbatas, senyum ceria anak-anak tak pernah padam saat mereka memegang buku bacaan.

Matahari sore mulai tenggelam, menyisakan bayang-bayang panjang tiang beton flyover Tomang. Di antara langkah-langkah mungil yang berjalan pulang membawa buku, satu hal menjadi jelas: kolong jalan raya ini mungkin sempit dan bising, tetapi mimpi-mimpi yang lahir dari sana tak pernah terlalu kecil untuk terbang tinggi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme