Sudutnalar.com, 22 September 2026

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Menjadi seorang pemimpin tidak hanya tentang memberikan arahan, tetapi juga mampu mendengarkan, bekerja sama, dan bertanggung jawab. Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan Namilla Adinda Fissabilla, mahasiswa Program Studi Manajemen Internasional Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) angkatan 2025 asal Banjarnegara.
Sebelum dipercaya menjadi Duta Manajemen 2025, Namilla telah memiliki pengalaman dalam organisasi sejak bangku sekolah. Ia pernah menjabat sebagai Ketua OSIS saat SMP, kemudian menjadi Wakil Ketua OSIS ketika SMA. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi dirinya dalam memahami cara memimpin dan bekerja bersama orang lain.
Namilla mengaku tidak menyangka bahwa teman-temannya memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi Duta Manajemen. Menurutnya, kepercayaan tersebut mungkin muncul karena teman-temannya telah melihat pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya dalam berorganisasi.
“Awalnya aku juga nggak percaya bisa menjadi Duta Manajemen. Waktu pemilihan, teman-teman memberikan kepercayaan dan akhirnya memilih saya,” ujar Namilla.
Bagi Namilla, menjadi Ketua OSIS saat SMP adalah pengalaman yang paling berkesan. Saat itu, ia harus tetap menjalankan berbagai kegiatan di tengah pandemi COVID-19. Kondisi tersebut membuatnya belajar mengambil keputusan, bekerja sama, dan bertanggung jawab.
Dari pengalaman tersebut, Namilla memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar memerintah orang lain. Seorang pemimpin juga perlu mendengarkan dan memahami kondisi anggotanya sebelum mengambil keputusan. Pengalaman organisasi juga membuatnya lebih terbiasa menghadapi perbedaan pendapat dan bekerja dalam sebuah tim.

Ketertarikannya terhadap organisasi pun berlanjut di bangku perkuliahan. Menurut Namilla, organisasi memberikan pengalaman yang tidak selalu diperoleh melalui kegiatan perkuliahan, seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mengatur kegiatan, hingga menghadapi berbagai karakter orang.
Meski aktif dalam organisasi, Namilla tetap berusaha menjaga keseimbangan dengan kegiatan akademiknya. Ia menerapkan skala prioritas dan menyesuaikan kegiatan organisasi dengan jadwal kuliah.
“Kalau kita bisa mengatur, mengontrol, dan mengelola waktu dari diri kita, pasti bisa berjalan,” katanya.
Kesibukan dalam organisasi tentu tidak selalu berjalan mudah. Namilla mengakui bahwa rasa lelah pernah muncul selama menjalankan berbagai tanggung jawab. Namun, ia memilih untuk kembali mengingat komitmen yang telah dimiliki.
Untuk ke depannya, Namilla ingin terus berkembang dan berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Ia berharap dapat membangun kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya sekaligus meningkatkan rasa percaya dirinya.
Bagi mahasiswa yang masih ragu mengikuti organisasi karena khawatir tidak mampu membagi waktu, Namilla berpesan agar tidak terlalu banyak berpikir sebelum mencoba. Menurutnya, niat, keberanian, dan kemampuan untuk menentukan prioritas menjadi hal penting dalam menjalani organisasi.
“Kalau kalian punya niat, bisa membagi waktu, dan punya skala prioritas yang baik, jangan takut untuk mencoba. Pengalaman itu tidak datang dua kali, jadi gunakan kesempatan yang ada,” pungkas Namilla.
Penulis: Asya Sahitya Firdaniza
Editor: Allexsa Adytia
