Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dari Kehilangan hingga Paskibraka, Anisa Belajar Bertahan dan Percaya pada Proses

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by aflah amanullah

Oleh Adnan Khalil Hakim

Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Setelah menyelesaikan tugas pengibaran bendera, Anisa bersalaman dengan Penjabat (Pj.) Bupati Banyumas (Dok. Koleksi Nur Anisa Mutiara Cantika)

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Hujan masih turun ketika Anisa akhirnya tiba di rumah malam itu. Dari perjalanan pulang, ia membawa kabar yang sejak beberapa waktu terakhir diperjuangkannya. Di hadapan ibunya, Anisa menyampaikan bahwa namanya dinyatakan lolos sebagai Paskibraka Kabupaten Banyumas.

Bagi Anisa, kabar tersebut bukan sekadar tentang sebuah kelulusan. Ada perjalanan panjang yang mengantarnya sampai di titik itu. Perjalanan yang sejak kecil sudah diwarnai perubahan dalam keluarga, kehilangan sosok ayah, hingga perjuangan membangun kemandirian dan mengejar pendidikan.

Anisa menghabiskan masa kecilnya di Bogor. Setelah kedua orang tuanya bercerai, ibunya memutuskan kembali ke rumah nenek di Banyumas ketika Anisa berusia sekitar tiga tahun. Di sana, sang ibu berusaha membesarkan Anisa dengan menjalankan warung kecil sederhana yang bangunannya terbuat dari kayu.

Beberapa tahun kemudian, ibunya menikah kembali. Sosok ayah sambung itu kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan Anisa. Meski berstatus sebagai anak sambung, Anisa mengingatnya sebagai sosok yang memperlakukannya dengan baik, pekerja keras, dan bertanggung jawab terhadap keluarga.

Namun, ketika Anisa masih duduk di sekolah dasar, ayah sambungnya meninggal dunia setelah mengalami sakit cukup berat. Kehilangan tersebut membuat kehidupan keluarga kembali berubah.

“Ya Tuhan lebih sayang sama ayah aku yang kedua,” tutur Anisa mengenang sosok yang pernah hadir dalam keluarganya.

Saat itu Anisa masih kecil. Kesedihan tentu ada, tetapi ia mengaku belum mampu memahami kehilangan tersebut secara mendalam. Hari-harinya kemudian kembali berjalan seperti biasa. Ia berangkat sekolah, belajar, dan menjalani rutinitas bersama ibu dan adiknya.

Di tengah kondisi tersebut, pendidikan justru menjadi salah satu hal yang terus ia perjuangkan. Sejak sekolah dasar, Anisa aktif dalam bidang akademik. Ia beberapa kali mengikuti perlombaan dan memperoleh sejumlah prestasi. Keinginan untuk mendapatkan nilai yang baik juga membawanya masuk ke sekolah menengah pertama yang ia inginkan.

Memasuki SMP, kehidupan Anisa mulai berkembang. Ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mulai aktif dalam organisasi seperti Pramuka dan OSIS. Dari berbagai kegiatan tersebut, ia mulai menemukan pengalaman baru sekaligus membentuk kepribadian yang lebih mandiri.

Semangat untuk mencoba hal baru kemudian berlanjut ketika Anisa memasuki SMA Negeri 1 Jatilawang. Salah satu orang yang menginspirasinya adalah kakak sepupunya yang pernah bersekolah ditempat yang sama.

Di SMA, Anisa mulai tertarik dengan dunia Paskibra. Dorongan dari sepupu, senior, dan teman-temannya membuat ia berani mencoba. Awalnya ia hanya ingin mencari pengalaman baru setelah sebelumnya mengikuti Pramuka dan OSIS. Ia pun mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan hingga akhirnya berkesempatan mengikuti seleksi Paskibraka Kabupaten Banyumas.

Jalannya tidak mudah. Proses seleksi yang dijalani Anisa terbagi dalam dua sistem. Pada sistem gugur, peserta harus melewati tahapan administrasi, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), tes kesehatan, dan parade. Setelah lolos dari tahapan tersebut, peserta masuk ke sistem nilai yang meliputi Peraturan Baris-Berbaris (PBB), kesamaptaan, dan kepribadian.

Dari sekitar 600 peserta yang mendaftar, hanya 15 putri yang akhirnya terpilih. Anisa harus menjaga kondisi fisik sekaligus mempersiapkan diri secara mental agar dapat bertahan hingga tahap akhir.

Ada masa ketika tubuh dan pikirannya mulai lelah. Ia harus bangun pagi dan pulang malam selama proses seleksi. Disaat yang sama, ia juga masih mengikuti kegiatan lain dan sempat mengalami kondisi fisik yang tidak baik.

Namun, Anisa memilih bertahan.

“Aku udah sejauh ini, ngapain harus menyerah di tengah jalan?” ujarnya.

Bahkan ketika jeda seleksi bertepatan dengan bulan Ramadan, Anisa tetap mempersiapkan diri. Ia berusaha menjaga kondisi fisik dengan berolahraga agar siap menghadapi tahapan berikutnya setelah Lebaran.

Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Dalam pengumuman akhir, ia dinyatakan berada di peringkat keenam putri Kabupaten Banyumas dan berhasil masuk dalam 15 peserta yang terpilih sebagai Paskibraka.

Kabar itu langsung ia sampaikan kepada ibunya. Malam itu, setelah pulang dari Purwokerto bersama temannya, Anisa disambut sang ibu yang sejak sebelumnya menunggu kepulangannya. Ibunya bahkan belum tidur karena menantikan kepulangan Anisa hingga sekitar pukul 22.00.

“Alhamdulillah,” menjadi ungkapan yang mengiringi kebahagiaan mereka malam itu.

Setelah dinyatakan lolos, perjuangan Anisa belum selesai. Ia masih harus menjalani pemusatan dan pendidikan selama dua bulan. Jadwal yang padat membuatnya harus membagi waktu antara sekolah dan latihan. Rasa lelah bahkan sempat membuatnya ingin menyerah.

Namun sekali lagi, ia mengingat perjalanan yang sudah dilaluinya. Anisa memilih bertahan dan menjalani setiap proses meskipun harus berjuang sambil menahan lelah.

Kini, Anisa telah menjadi Purna Paskibraka Indonesia. Ketika melihat kembali perjalanan tersebut, ia menyadari bahwa pencapaian tidak selalu datang tanpa kehilangan. Ada waktu yang harus dikorbankan, kesempatan yang harus dilepaskan, serta berbagai keadaan yang harus diterima.

Baginya, perjuangan tidak hanya membutuhkan usaha, tetapi juga doa dan keikhlasan.

“Saya percaya dengan proses. Kalau semuanya yang saya inginkan itu harus ada perjuangannya, harus korbankan sesuatu, harus ada usaha, sama doa,” tutur Anisa.

Perjalanan panjang itu akhirnya membuat Anisa sampai pada satu hal yang sederhana, tetapi berarti: bangga kepada dirinya sendiri karena mampu bertahan sejauh ini.

Dari seorang anak yang pernah kehilangan sosok ayah, tumbuh bersama ibu dan adiknya, hingga berdiri sebagai Paskibraka dan kemudian menjadi Purna Paskibraka Indonesia, Anisa belajar bahwa tidak semua perjalanan harus mudah untuk menjadi berarti. Kadang, yang paling penting bukan seberapa sedikit rintangan yang dilewati, melainkan seberapa kuat seseorang memilih untuk terus berjalan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme