Oleh Adnan Khalil Hakim
Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Setelah menyelesaikan tugas pengibaran bendera, Anisa bersalaman dengan Penjabat (Pj.) Bupati Banyumas (Dok. Koleksi Nur Anisa Mutiara Cantika)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Hujan masih turun ketika Anisa akhirnya tiba di rumah malam itu. Dari perjalanan pulang, ia membawa kabar yang sejak beberapa waktu terakhir diperjuangkannya. Di hadapan ibunya, Anisa menyampaikan bahwa namanya dinyatakan lolos sebagai Paskibraka Kabupaten Banyumas.
Bagi Anisa, kabar tersebut bukan sekadar tentang sebuah kelulusan. Ada perjalanan panjang yang mengantarnya sampai di titik itu. Perjalanan yang sejak kecil sudah diwarnai perubahan dalam keluarga, kehilangan sosok ayah, hingga perjuangan membangun kemandirian dan mengejar pendidikan.
Anisa menghabiskan masa kecilnya di Bogor. Setelah kedua orang tuanya bercerai, ibunya memutuskan kembali ke rumah nenek di Banyumas ketika Anisa berusia sekitar tiga tahun. Di sana, sang ibu berusaha membesarkan Anisa dengan menjalankan warung kecil sederhana yang bangunannya terbuat dari kayu.
Beberapa tahun kemudian, ibunya menikah kembali. Sosok ayah sambung itu kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan Anisa. Meski berstatus sebagai anak sambung, Anisa mengingatnya sebagai sosok yang memperlakukannya dengan baik, pekerja keras, dan bertanggung jawab terhadap keluarga.
Namun, ketika Anisa masih duduk di sekolah dasar, ayah sambungnya meninggal dunia setelah mengalami sakit cukup berat. Kehilangan tersebut membuat kehidupan keluarga kembali berubah.
“Ya Tuhan lebih sayang sama ayah aku yang kedua,” tutur Anisa mengenang sosok yang pernah hadir dalam keluarganya.
Saat itu Anisa masih kecil. Kesedihan tentu ada, tetapi ia mengaku belum mampu memahami kehilangan tersebut secara mendalam. Hari-harinya kemudian kembali berjalan seperti biasa. Ia berangkat sekolah, belajar, dan menjalani rutinitas bersama ibu dan adiknya.
Di tengah kondisi tersebut, pendidikan justru menjadi salah satu hal yang terus ia perjuangkan. Sejak sekolah dasar, Anisa aktif dalam bidang akademik. Ia beberapa kali mengikuti perlombaan dan memperoleh sejumlah prestasi. Keinginan untuk mendapatkan nilai yang baik juga membawanya masuk ke sekolah menengah pertama yang ia inginkan.
Memasuki SMP, kehidupan Anisa mulai berkembang. Ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mulai aktif dalam organisasi seperti Pramuka dan OSIS. Dari berbagai kegiatan tersebut, ia mulai menemukan pengalaman baru sekaligus membentuk kepribadian yang lebih mandiri.
Semangat untuk mencoba hal baru kemudian berlanjut ketika Anisa memasuki SMA Negeri 1 Jatilawang. Salah satu orang yang menginspirasinya adalah kakak sepupunya yang pernah bersekolah ditempat yang sama.
Di SMA, Anisa mulai tertarik dengan dunia Paskibra. Dorongan dari sepupu, senior, dan teman-temannya membuat ia berani mencoba. Awalnya ia hanya ingin mencari pengalaman baru setelah sebelumnya mengikuti Pramuka dan OSIS. Ia pun mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan hingga akhirnya berkesempatan mengikuti seleksi Paskibraka Kabupaten Banyumas.
Jalannya tidak mudah. Proses seleksi yang dijalani Anisa terbagi dalam dua sistem. Pada sistem gugur, peserta harus melewati tahapan administrasi, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), tes kesehatan, dan parade. Setelah lolos dari tahapan tersebut, peserta masuk ke sistem nilai yang meliputi Peraturan Baris-Berbaris (PBB), kesamaptaan, dan kepribadian.
Dari sekitar 600 peserta yang mendaftar, hanya 15 putri yang akhirnya terpilih. Anisa harus menjaga kondisi fisik sekaligus mempersiapkan diri secara mental agar dapat bertahan hingga tahap akhir.
Ada masa ketika tubuh dan pikirannya mulai lelah. Ia harus bangun pagi dan pulang malam selama proses seleksi. Disaat yang sama, ia juga masih mengikuti kegiatan lain dan sempat mengalami kondisi fisik yang tidak baik.
Namun, Anisa memilih bertahan.
“Aku udah sejauh ini, ngapain harus menyerah di tengah jalan?” ujarnya.
Bahkan ketika jeda seleksi bertepatan dengan bulan Ramadan, Anisa tetap mempersiapkan diri. Ia berusaha menjaga kondisi fisik dengan berolahraga agar siap menghadapi tahapan berikutnya setelah Lebaran.
Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Dalam pengumuman akhir, ia dinyatakan berada di peringkat keenam putri Kabupaten Banyumas dan berhasil masuk dalam 15 peserta yang terpilih sebagai Paskibraka.
Kabar itu langsung ia sampaikan kepada ibunya. Malam itu, setelah pulang dari Purwokerto bersama temannya, Anisa disambut sang ibu yang sejak sebelumnya menunggu kepulangannya. Ibunya bahkan belum tidur karena menantikan kepulangan Anisa hingga sekitar pukul 22.00.
“Alhamdulillah,” menjadi ungkapan yang mengiringi kebahagiaan mereka malam itu.
Setelah dinyatakan lolos, perjuangan Anisa belum selesai. Ia masih harus menjalani pemusatan dan pendidikan selama dua bulan. Jadwal yang padat membuatnya harus membagi waktu antara sekolah dan latihan. Rasa lelah bahkan sempat membuatnya ingin menyerah.
Namun sekali lagi, ia mengingat perjalanan yang sudah dilaluinya. Anisa memilih bertahan dan menjalani setiap proses meskipun harus berjuang sambil menahan lelah.
Kini, Anisa telah menjadi Purna Paskibraka Indonesia. Ketika melihat kembali perjalanan tersebut, ia menyadari bahwa pencapaian tidak selalu datang tanpa kehilangan. Ada waktu yang harus dikorbankan, kesempatan yang harus dilepaskan, serta berbagai keadaan yang harus diterima.
Baginya, perjuangan tidak hanya membutuhkan usaha, tetapi juga doa dan keikhlasan.
“Saya percaya dengan proses. Kalau semuanya yang saya inginkan itu harus ada perjuangannya, harus korbankan sesuatu, harus ada usaha, sama doa,” tutur Anisa.
Perjalanan panjang itu akhirnya membuat Anisa sampai pada satu hal yang sederhana, tetapi berarti: bangga kepada dirinya sendiri karena mampu bertahan sejauh ini.
Dari seorang anak yang pernah kehilangan sosok ayah, tumbuh bersama ibu dan adiknya, hingga berdiri sebagai Paskibraka dan kemudian menjadi Purna Paskibraka Indonesia, Anisa belajar bahwa tidak semua perjalanan harus mudah untuk menjadi berarti. Kadang, yang paling penting bukan seberapa sedikit rintangan yang dilewati, melainkan seberapa kuat seseorang memilih untuk terus berjalan.
