Sudutnalar.com, 22 September 2026

PURWOKERTO, SudutNalar — Di tengah padatnya dinamika dunia kedokteran serta deretan prestasi gemilang sebagai Duta Kampus Unsoed 2026 dan Duta Mahasiswa Kedokteran Indonesia 2025, Hasna Anisah enggan jika dirinya hanya dinilai dari deretan gelar yang melekat di belakang namanya. Bagi Hasna, setiap pencapaian dan gelar kehormatan bukanlah identitas utama yang mendefinisikan jati dirinya.
“Saya tidak ingin mendefinisikan diri saya sebatas pencapaian atau jabatan. Yang saya kenal, saya adalah seorang pembelajar sejati yang selalu ingin tumbuh, berproses, dan menebar manfaat bagi orang lain,” ungkap Hasna dengan penuh ketulusan. Memegang teguh prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, ia aktif terjun langsung ke masyarakat melalui berbagai aksi pengabdian sosial, riset ilmiah, hingga kegiatan sukarela.
Namun, di balik citra mahasiswi berprestasi dan menginspirasi, Hasna menyimpan narasi perjuangan yang tak banyak diketahui publik. Sebelum melangkah jauh hingga meraih berbagai gelar duta dan dipercaya menjadi Asisten Dosen, ia pernah berada di titik terendah ketika permohonan beasiswanya ditolak beruntun.
“Dua kali mendaftar program beasiswa yang berbeda, dua kali pula saya harus menerima penolakan. Jujur, saat itu saya sempat merasa jatuh, ragu akan kelayakan diri, hingga mengalami burnout,” kenangnya. Momen pahit tersebut justru menjadi titik balik yang merombak perspektif hidupnya secara mendasar. Dari kegagalan itu, Hasna menyadari bahwa pintu yang tertutup sering kali membimbing langkah menuju lorong-lorong kesempatan baru yang bahkan tak pernah ada dalam daftar impian awalnya. Tak lama setelah penolakan tersebut, pintu menuju Duta Mahasiswa Kedokteran Indonesia terbuka lebar dan membuka rantai keberhasilan berikutnya.
Inspirasi dan keteguhan Hasna tak terlepas dari dorongan mendalam yang berakar sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Momen saat ia terpilih menjadi perwakilan Dokter Cilik (Dokcil) dan memegang stetoskop untuk pertama kalinya menjadi pemicu lahirnya sebuah impian besar, meski saat itu ia belum memahami penuh fungsinya. Dengan polos dan penuh keyakinan, ia berkata, “Suatu saat nanti, aku akan menyembuhkan orang lain dengan tanganku sendiri. Aku ingin hadir menjadi pembawa harapan bagi mereka yang membutuhkan.” Momen sederhana itu kini mewujud menjadi jalan hidup yang nyata. Bagi Hasna, pencapaiannya hari ini bukanlah bentuk pembuktian ego atau tekanan lingkungan, melainkan wujud bakti tulus kepada kedua orang tua yang senantiasa memberi dukungan tanpa syarat.
“Motivasi terbesar dalam hidupku adalah orang tua. Perjuangan ini bukan agar dipuji orang lain, melainkan untuk mengukir senyum bangga di wajah mereka. Merekalah support system terbaik yang selalu menerima segala kekurangan dan kelebihanku apa adanya,” tuturnya penuh haru.
Di tengah pesatnya era digital, Hasna memandang personal branding sebagai sarana penting untuk menebar kebermanfaatan. Melalui perannya sebagai health educational content creator, ia membuktikan bahwa profesi calon dokter pun bisa berdampak luas di luar dinding klinis. Bermula dari membagikan catatan belajar SMA hingga kini bermitra dengan berbagai pihak, Hasna mengajak anak muda untuk tidak ragu melangkah. Pesannya singkat namun tajam, “Jangan biarkan penilaian orang lain menghambat potensi diri. Selama fokus pada impian dan niat tulus untuk berbagi, setiap karya di media sosial akan menemukan jalannya sendiri.”
Bagi Hasna, perannya sebagai Duta Kampus maupun calon dokter masa depan bukan sekadar tentang menjadi figur di depan layar, melainkan tentang keberanian untuk mendengarkan, memberikan kenyamanan, dan merangkul sesama. Dengan impian besar untuk terus mengabdi di dunia kesehatan kelak, Hasna terus melangkah mantap dengan satu prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh.
“Jangan pernah takut pada kegagalan. Lebih baik kita gagal karena telah berani mencoba, daripada gagal karena tidak pernah berani melangkah sama sekali.”
Penulis : Firliana Saraswati Prasetyoningrum
Editor : Puspita Dewi
