
Ari Nurwanto saat memaparkan informasi perjalanan study tour kepada siswa. (Dok. Ari Nurwanto)
Banyumas, Sudutnalar.com, – Kesuksesan tidak selalu berawal dari kehidupan yang serba berkecukupan. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan Ari Nurwanto, pekerja biro wisata yang kini dipercaya sebagai koordinator lapangan (korlap) sekaligus pemandu perjalanan wisata.
Sejak duduk di bangku SMP hingga SMA, kehidupan pria tersebut tidak selalu mudah. Ketika sebagian temannya menggunakan kendaraan untuk berangkat sekolah, ia harus berjalan kaki. Saat bersekolah di SMA Muhammadiyah Sokaraja, keterbatasan transportasi membuatnya sempat tinggal di asrama agar lebih dekat dengan sekolah.
“Dulu kalau sekolah saya jalan kaki. Waktu SMA juga sempat tinggal di asrama karena tidak ada kendaraan untuk berangkat,” ujar Ari.
Di tengah kesibukannya sebagai pelajar, ia juga berjualan siomay untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pengalaman tersebut tidak selalu berjalan mulus. Suatu ketika, sepeda yang digunakannya untuk berjualan diserempet pengendara lain hingga rusak parah dan dagangan yang dibawanya tumpah.
Kejadian itu bahkan sempat berlanjut menjadi persoalan. Pengendara yang menyerempet mengalami cedera pada jari kaki dan justru melaporkan dirinya. Sempat mendapat intimidasi, persoalan tersebut akhirnya tidak dilanjutkan setelah diketahui bahwa kecelakaan terjadi akibat kesalahan pihak yang menyerempet.
“Waktu itu sempat bingung dan takut karena saya malah dituntut. Padahal saya yang diserempet. Setelah mau dilaporkan ke polisi, akhirnya masalahnya tidak dilanjutkan,” tuturnya.
Selain menghadapi persoalan saat berjualan, ia juga pernah menjadi sasaran perundungan sejak SMP hingga SMA karena kondisi ekonomi keluarganya. Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti berusaha.
Setelah lulus SMA, keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus ditunda. Keterbatasan biaya dan tanggung jawab terhadap keluarga membuatnya memilih untuk bekerja. Ia kemudian bergabung dengan Lensa Wisata Purwokerto dan mulai menekuni dunia perjalanan wisata.
“Sebenarnya setelah lulus SMA ingin kuliah, tetapi kondisi keluarga belum memungkinkan. Saya akhirnya memilih bekerja dan membantu keluarga,” jelasnya.
Kegigihan, keberanian berbicara di depan banyak orang, serta kemampuan berkomunikasi membuat kepercayaan terhadap dirinya semakin besar. Kini, ia dipercaya menjadi korlap yang mendampingi berbagai rombongan pelajar SMP dan SMA.
Dalam pekerjaannya, ia mengantar dan mendampingi rombongan ke sejumlah destinasi wisata, seperti Jakarta, Bandung, Dufan, Monas, hingga Saung Angklung Udjo. Pekerjaan tersebut membuatnya terbiasa berhadapan dengan banyak orang sekaligus menghadapi berbagai situasi di lapangan.
“Kalau sekarang lebih banyak di lapangan, marketing, mendampingi rombongan sekolah. Yang penting pekerjaan dijalani dengan tanggung jawab,” ungkapnya.
Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaannya juga tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ia berusaha membantu orang tua dan adik-adiknya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keluarga.
Bagi dirinya, berbagai kesulitan yang pernah dilalui menjadi pengalaman yang membentuk kehidupan hingga saat ini. Ia berharap perjalanan tersebut dapat menjadi pelajaran bagi orang lain untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan.
“Jangan minder karena keadaan. Dulu saya juga sering diremehkan, tetapi saya percaya setiap orang punya waktunya sendiri. Yang penting jangan berhenti berusaha,” pungkasnya.
Perjalanan dari seorang pelajar yang harus berjalan kaki dan berjualan siomay hingga dipercaya memimpin perjalanan wisata menjadi bagian dari perjuangan Ari dalam menghadapi keterbatasan. Baginya, keadaan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah dan membantu keluarga.
Penulis: Rezza Firmanto
Editor: Adnan Khalil Hakim
