Penulis : Damia Sifa Aulia Romansyah
SudutNalar, 6 Oktober 2026

PANGANDARAN, SudutNalar – Pukul 08.30, warung milik Nurjanah tampak sepi dari pembeli. Ia merapikan barang dagangan yang tersusun di dalam warung. Berbagai kebutuhan rumah tangga dan jajanan anak memenuhi ruang sederhana tersebut.
Namun, suasana itu berbeda beberapa jam sebelumnya. Warung tersebut buka sekitar pukul 05.30 dan sudah didatangi warga. Warung yang berada di rumah tersebut menjadi tempat warga sekitar mendapatkan berbagai kebutuhan tanpa harus pergi jauh.
Nurjanah sudah tinggal di Mangunjaya selama lima tahun. Ia menjalankan warung tersebut bersama suami, adik, dan terkadang anaknya. Usaha tersebut telah berjalan lebih dari satu tahun.
Sebelum menetap di Mangunjaya, Nurjanah dan suaminya menghabiskan waktu hampir 20 tahun di Jakarta. Nurjanah bekerja sebagai cleaning service. Sementara itu, suaminya, Ramdani, bekerja sebagai office boy.
Krisis akibat pandemi COVID-19 membuat Ramdani terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Keduanya kemudian memutuskan pulang ke kampung karena tidak ingin terus tinggal di kota tanpa pekerjaan.
“Suami kena PHK karena Corona. Daripada di kota menghabiskan uang tetapi tidak bekerja,” ujar Nurjanah.
Kepulangan itu membuat Nurjanah harus mencari cara untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga. Sebelum membuka warung, ia sudah berjualan parfum sejak sekitar 2015–2016. Ia masih menjalankan usaha tersebut dengan meracik dan menjual parfum sendiri.
Sementara itu, Ramdani berjualan tahu bulat keliling. Namun, penghasilan dari usaha tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi itu mendorong Nurjanah untuk mencoba usaha lain dari rumah.
Warung tersebut awalnya menyediakan jajanan anak. Nurjanah juga membuat beberapa jenis jajanan untuk dijual. Perlahan, barang yang dijual bertambah.
“Awalnya saya menjual jajanan anak. Lama-lama mulai ramai, kemudian saya menambah minuman dan sabun,” kata Nurjanah.
Nurjanah kemudian menambah berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti minyak, sabun mandi, sembako, dan jajanan anak kini tersedia di warung tersebut. Gas dan bensin juga mulai dijual beberapa waktu setelah warung berdiri.
Penambahan barang mengikuti kebutuhan warga sekitar. Beberapa pembeli sering menanyakan barang yang belum tersedia. Nurjanah kemudian memutar uang hasil penjualan untuk menambah stok.
“Sebagian pembeli bertanya, ‘Ini ada? Ada ini?’ Akhirnya barangnya kami tambah. Uang hasil penjualan diputar lagi untuk menambah stok,” ujarnya.
Setiap hari, warung menjadi bagian dari aktivitas keluarga Nurjanah. Ketika ada waktu luang, anggota keluarga ikut membantu menjaga warung. Bagi Nurjanah, usaha tersebut bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga cara untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga setelah kembali dari Jakarta.
Warung itu kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Penghasilan dari warung digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan dan jajanan anak.
“Dari warung, saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan jajanan anak. Alhamdulillah, kebutuhan sehari-hari tercukupi,” tutur Nurjanah.
Meski begitu, keinginan untuk mengembangkan warung tidak selalu berjalan mudah. Keterbatasan modal menjadi tantangan ketika Nurjanah ingin menambah barang dagangan.
“Tantangannya ketika ingin menambah barang, tetapi keuangan belum cukup,” katanya.
Bagi Nurjanah, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia tetap menjalankan usaha bersama keluarganya. Keinginan untuk menambah barang terus ada, tetapi modal menjadi pertimbangan.
Dengan modal yang terbatas, Nurjanah memilih mengembangkan warung secara perlahan. Uang hasil penjualan diputar kembali untuk memenuhi kebutuhan warung. Cara itu membuat usaha tetap berjalan meskipun ia belum bisa menyediakan semua barang yang diinginkan.
“Rezeki itu tidak selalu ada setiap hari, tetapi dijalani saja. Intinya, disyukuri apa pun yang didapat hari ini, berapa pun hasilnya,” ujar Nurjanah.
Warung itu mungkin belum besar. Namun, tempat sederhana tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga Nurjanah. Ia berharap warungnya dapat berkembang, memiliki tempat yang lebih luas, dan menyediakan lebih banyak barang.
“Saya ingin warung ini lebih besar lagi dan memiliki lebih banyak barang,” kata Nurjanah.
