Penulis: Salamah | Narasumber: Faira Rizki Septiana | Keterangan: Feature News | Rabu, 07 Oktober 2026

Sumber Foto: Faira Rizki Septiana
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Tidak ada kamera mahal di awal perjalanan Faira menjadi content creator. Ia memulai semuanya dengan ponsel Android dan ruang kamar yang sempit. Untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup, Faira bahkan memanfaatkan sinar matahari pada pagi hari. Dari kondisi sederhana tersebut, ia mulai membuat konten makeup yang kemudian menjadi sumber penghasilan.
Ketertarikannya pada makeup memang sudah ada sejak awal. Namun, kondisi ekonomi membuat Faira berpikir untuk menjadikan hobinya sebagai peluang mendapatkan penghasilan. Ia mulai mempelajari dunia affiliate dan content creator.
“Awalnya karena ada masalah ekonomi. Saya memang suka makeup, jadi saya melihat ada peluang dari hobi itu untuk dijadikan sumber penghasilan,” kata Faira.
Awalnya, Faira tidak berharap terlalu banyak. Ia ingin mencoba dan berharap suatu saat bisa mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan brand besar serta memperoleh komisi dari konten yang dibuatnya.
Saat mulai membuat konten, Faira masih menggunakan ponsel Android. Namun, hasil video yang didapatkan belum sesuai dengan yang diinginkan. Karena ingin membuat konten dengan lebih maksimal, ia kemudian beralih menggunakan perangkat iOS. Ia juga mulai memperhatikan pencahayaan dan tempat untuk membuat konten
“Waktu awal saya masih pakai Android, tetapi hasilnya kurang bagus. Karena saya orangnya ingin memaksimalkan sesuatu, akhirnya saya menyiapkan perangkat, lighting, dan tempat supaya kontennya lebih rapi,” ujar Faira.
Tempat menjadi salah satu kendala yang dihadapi Faira. Kamar yang digunakan untuk membuat konten tidak terlalu luas dan terasa panas. Ia akhirnya memindahkan kegiatan membuat konten ke ruang tamu yang lebih besar. Pencahayaan yang kurang juga membuat Faira memanfaatkan sinar matahari pada pagi hari.
“Kamarnya kecil dan panas, jadi akhirnya pindah ke ruang tamu karena lebih luas. Kalau pencahayaannya kurang, saya biasanya memanfaatkan cahaya matahari pagi,” tuturnya.
Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan lancar. Faira pernah berada di titik ketika video yang sudah dibuat dengan baik tetap tidak masuk FYP. Ia merasa sudah memikirkan pengambilan gambar dan tampilan video, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.
“Saya pernah benar-benar merasa mau berhenti karena sudah bikin video dengan hati-hati, sudah memikirkan grafisnya, tetapi tetap tidak FYP,” kata Faira.
Keinginan untuk berhenti sempat ia sampaikan kepada orang tuanya. Namun, dukungan dari orang-orang terdekat membuat Faira kembali melanjutkan kegiatannya. Ia menyadari bahwa hasil tidak selalu datang dengan cepat.
“Saya sempat bilang ke orang tua kalau mau berhenti. Tapi orang-orang terdekat terus kasih semangat. Dari situ saya sadar kalau proses itu memang tidak instan,” ujarnya.
Di sisi lain, Faira juga harus membagi waktunya dengan kegiatan sebagai mahasiswa. Ia aktif mengikuti kepanitiaan dan organisasi. Ketika pekerjaan dari content creator mulai bertambah dan datang bersamaan dengan tugas kuliah, waktu istirahatnya pun berkurang.
“Tantangan paling berat itu mengatur waktu. Saya aktif sebagai mahasiswa, ikut kepanitiaan dan organisasi. Kalau lagi banyak endorsement, kadang saya baru tidur menjelang pagi karena harus bikin konten, balas chat brand, editing, dan masih ada tugas kuliah,” tutur Faira.
Penghasilan dari konten kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan. Faira membaginya untuk membantu orang tua, memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli peralatan untuk membuat konten, dan membeli beberapa barang yang selama ini ia inginkan.
“Penghasilannya saya bagi untuk orang tua, kebutuhan sehari-hari, beli peralatan konten, dan kadang untuk membeli sesuatu yang memang sudah saya inginkan,” katanya.
Penghasilan tersebut juga membawa perubahan bagi keluarganya. Faira mengatakan pendapatan dari konten cukup besar dan sangat membantu kondisi ekonomi keluarganya. Salah satu perubahan yang paling ia rasakan adalah ibunya yang sebelumnya bekerja kini dapat berhenti dan beristirahat di rumah.
“Penghasilan dari konten lumayan besar, bahkan bisa dibilang lebih tinggi dari UMR. Itu sangat membantu ekonomi saya dan keluarga. Ibu yang sebelumnya bekerja sekarang bisa berhenti dan istirahat di rumah,” ujar Faira.
Perubahan tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi. Faira yang sebelumnya dikenal sebagai mahasiswa biasa kini mulai dikenal sebagai content creator TikTok. Meski begitu, ia tetap melihat perjalanan tersebut sebagai proses yang masih terus berjalan.
Bagi Faira, perjalanan menjadi content creator memiliki arti tersendiri. Setiap konten yang dibuatnya mengingatkan pada proses yang sudah ia lewati, mulai dari menggunakan peralatan sederhana hingga menghadapi kegagalan ketika kontennya tidak masuk FYP.
“Setiap konten itu selalu ada rasa syukur. Perjalanan ini sangat berarti karena hidup saya berubah menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Dari perjalanan tersebut, Faira ingin menunjukkan bahwa kesempatan bisa datang dari mana saja. Latar belakang ekonomi bukan alasan untuk berhenti mencoba selama seseorang mau memilih jalan yang baik dan terus berusaha.
“Saya ingin membuktikan kalau kesempatan dan rezeki itu enggak melihat siapa kita. Walaupun berasal dari keluarga dengan ekonomi yang rendah, kalau kita memilih jalan yang baik, hasil yang baik juga bisa datang,” kata Faira.
Penulis : Salamah
Editor : Saniya Rahma
