Sudutnalar.com, 13 September 2026

PURWOKERTO, SudutNalar β Kesempatan tampil di Istana Merdeka menjadi pengalaman berharga bagi Nuraya, salah satu penari Lengger Kelana Banyumasan. Dalam peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, ia dipercaya untuk menampilkan Tari Lengger Kelana Banyumasan di hadapan para tamu undangan yang hadir di Istana Merdeka.
Sebelum sampai pada penampilan tersebut, ia harus melewati rangkaian latihan yang cukup panjang. Persiapan dimulai sejak 8 Agustus dan dilaksanakan di GOR Satria Purwokerto. Latihan berlangsung cukup intensif, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB atau sekitar 14 jam dalam sehari.
βYang paling aku ingat itu proses latihannya. Capek, tegang, tapi juga seru karena bisa latihan dan berjuang bareng teman-teman sampai di hari penampilan,β ujarnya.
Persiapan penampilan tersebut melibatkan para penari dan sejumlah pelatih, yakni Mas Jhanu, Mas Sigit, Mbak Sofi, Mbak Lintang, Mas Rianto, serta Mbak Tutut. Selain itu, dukungan juga diberikan oleh Gubernur Jawa Tengah beserta jajaran.
Keikutsertaannya dalam penampilan tersebut didorong keinginan untuk memperkenalkan kesenian Banyumas kepada masyarakat luas. βAku mau kasih tahu ke orang-orang kalau Banyumas itu punya kesenian yang sangat menarik untuk ditampilkan di Istana,β tuturnya.
Saat tampil, ia mengaku sempat merasa gugup. Namun, rasa gugup tersebut bercampur dengan rasa senang dan bangga karena dapat menari di Istana Merdeka di hadapan Presiden Republik Indonesia beserta jajarannya. Menurutnya, tampil di Istana Merdeka terasa lebih sakral dan memberikan kebanggaan tersendiri karena ia membawa nama Banyumas.
Untuk mengatasi rasa gugup, ia mengatur napas, memusatkan perhatian pada gerakan dan musik, serta mengandalkan hasil latihan yang telah dijalaninya. Suasana Istana Merdeka juga memberikan kesan yang berbeda dibandingkan panggung tempat ia tampil biasanya.
Setelah membawa Tari Lengger Kelana Banyumasan ke Istana Merdeka, rasa bangga menjadi hal yang paling dirasakannya sebagai penari asal Banyumas. Baginya, kesempatan tersebut menjadi penglaman berharga sekaligus menjadi cara untuk mengenalkan budaya Banyumas kepada masyarakat luas.
Penulis : Prajnya Aulia Patria Legawa
Editor : Puspita Dewi
