Moza Abhista Daniswara
sudutnalar.com, 08 Oktober 2026

JAKARTA, SUDUTNALAR β Dulu, gerobak jualan menjadi awal perjalanan Suratno dalam membangun usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia berjualan dari satu tempat ke tempat lain tanpa memiliki tempat makan yang tetap. Kini, usaha tersebut telah berkembang menjadi rumah makan bernama Nasi Liwet Dapur Asri yang memiliki 12 karyawan dan mulai dikenal oleh sejumlah food vlogger serta YouTuber.
Di rumah makan itu, pelanggan dapat menemukan berbagai menu seperti Soto Betawi, Soto Sokaraja, dan nasi lengko. Pilihan lauknya pun lebih dari 20 jenis. Di balik usaha yang kini berkembang tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang mantan guru honorer yang pernah meninggalkan pekerjaannya karena penghasilan yang tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Suratno berasal dari Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Sejak sekolah dasar, ia sudah memiliki keinginan untuk menjadi guru. Menurutnya, guru merupakan pekerjaan yang mulia, dihormati, dan memiliki banyak pengetahuan. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMK Kesenian Indonesia, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka pada program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Setelah lulus, Suratno kembali ke SDN 4 Cibangkong, sekolah dasar tempatnya dahulu belajar. Ia mengabdi di sana hingga menjadi guru honorer. Selama sekitar 17 tahun, dunia pendidikan menjadi bagian dari kehidupannya. Namun, kebutuhan keluarga terus bertambah dan penghasilan sebagai guru honorer tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak.
Suratno akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai guru honorer dan pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik. Di sana, ia bekerja serabutan dan pernah menjadi petugas keamanan. Setelah memiliki modal, ia memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri di Jakarta Selatan, wilayah yang sebelumnya sudah ia kenal.
Usaha tersebut dimulai dengan gerobak. Suratno harus berpindah-pindah mencari tempat berjualan dan menghadapi berbagai kesulitan.
βSaat itu tidak punya tempat, pindah-pindah terus. Sering juga kejar-kejaran dengan Satpol PP,β ujar Suratno ketika menceritakan masa awal menjalankan usahanya.
Tidak adanya tempat makan membuat pelanggan hanya dapat membawa makanan yang dibeli pulang atau ke kantor. Meski begitu, Suratno terus menjalankan usahanya. Ia mulai memahami bahwa usaha tidak hanya membutuhkan makanan yang enak, tetapi juga strategi penjualan serta keterbukaan terhadap kritik dan masukan pelanggan.
Setelah melewati berbagai kesulitan, Suratno berani mengambil risiko dengan menyewa kios. Pelanggan akhirnya dapat menikmati makanan langsung di tempat. Dari usaha sederhana tersebut, Nasi Liwet Dapur Asri kemudian berkembang dengan berbagai pilihan makanan, seperti Soto Betawi, Soto Sokaraja, dan nasi lengko. Pilihan lauknya juga mencapai lebih dari 20 jenis.
Perkembangan usaha membuat rumah makan tersebut semakin dikenal. Sejumlah food vlogger dan YouTuber datang untuk mencicipi makanan sekaligus membuat konten mengenai Nasi Liwet Dapur Asri. Usaha yang dahulu dimulai hanya dari gerobak itu perlahan menjangkau lebih banyak pelanggan.

Ketika mengingat kembali masa-masa sulit tersebut, Suratno bersyukur dengan kehidupannya sekarang.
βKalau mengingat masa lalu yang penuh dengan suka dan duka, saya tidak ingin mengulanginya lagi,β kata Suratno.
Meski kehidupannya kini lebih baik, perjalanan usahanya tetap memiliki masa naik dan turun. Suratno memilih untuk terus bertahan karena percaya bahwa roda hidup selalu berputar. Istri dan orang-orang terdekat juga menjadi bagian dari dukungan yang membuatnya mampu melewati berbagai keadaan. Dua belas karyawan yang kini bekerja bersamanya ikut menjadi bagian dari perjalanan usaha tersebut.
Hal yang paling ia syukuri bukan hanya kondisi ekonomi yang membaik, tetapi juga kesehatan, keluarga, teman-teman, dan para karyawan yang mendukungnya. Kini, Suratno berharap dirinya selalu berada dalam kondisi baik dan Nasi Liwet Dapur Asri dapat terus berkembang.
Perjalanan Suratno dari ruang kelas sebagai guru honorer hingga berjualan dengan gerobak membawanya pada kehidupan yang berbeda. Gerobak yang dahulu menjadi awal perjuangannya kini telah berubah menjadi rumah makan yang tidak hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga menjadi tempat 12 orang bekerja.
Dari tempat yang sederhana itu, Suratno terus melangkah. Perjalanannya menunjukkan bahwa keadaan yang serba terbatas tidak harus menjadi alasan untuk berhenti mencari jalan.
