
Bagus membagikan perjalanan kuliah, berbagai tantangan, hingga pengalaman yang membentuk dirinya sebagai wisudawan terbaik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jenderal Soedirman.(Koleksi)
PURWOKERTO β Sudutnalar.com, Fisika bukanlah pilihan pertama Tsani Bagus Eryana atau yang akrab disapa Bagus ketika memilih jurusan kuliah. Ia awalnya lebih tertarik pada Teknologi Pangan. Namun, ketertarikannya terhadap Fisika sejak SMA akhirnya membawanya memilih Program Studi Fisika Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).
Pilihan tersebut tidak langsung membuat Bagus yakin. Pada semester kedua, ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk mendaftar ke tempat lain. Keraguannya perlahan berubah setelah ia mendapatkan beasiswa yang memberinya kesempatan mengikuti mentoring, kegiatan pengembangan diri, dan organisasi. Pengalaman tersebut membuatnya mulai merasa nyaman dan memilih untuk melanjutkan perkuliahan hingga selesai.
Dalam perjalanannya, Bagus kemudian tertarik pada Fisika Material karena dapat mempelajari material yang ada di sekitar hingga tingkat mikroskopis. Namun, proses tersebut juga menghadapkan dirinya pada berbagai tantangan, salah satunya ketika mengerjakan tugas akhir.
Setelah seminar proposal, alat TSM yang dibutuhkan dalam penelitiannya mengalami kerusakan. Bagus dihadapkan pada pilihan untuk menunggu perbaikan tanpa kepastian waktu atau mengganti topik penelitian. Ia akhirnya memilih mengubah topik agar dapat melanjutkan proses tugas akhirnya.
Di luar perkuliahan, Bagus juga mendapatkan pengalaman sebagai pengajar di Sekolah Alam Baturraden. Awalnya, ia merasa kesulitan ketika menjadi fasilitator inklusif dan mendampingi beberapa anak berkebutuhan khusus. Namun, setelah menjalaninya, pengalaman tersebut justru menjadi salah satu hal yang paling ia syukuri.
Kesibukan Bagus semakin bertambah ketika ia dipercaya menjadi Kepala Asrama Bright Scholarship UNSOED. Baginya, tanggung jawab tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi dan rasa terima kasih atas dukungan yang telah ia terima selama menjadi penerima beasiswa.
Berbagai pengalaman tersebut turut mengubah cara Bagus menghadapi persoalan. Ia belajar mengelola pikiran dan emosi ketika menghadapi situasi sulit, serta memahami bahwa tidak semua keadaan dapat dikendalikan. Menurutnya, hal yang dapat dikendalikan adalah bagaimana seseorang merespons keadaan tersebut.
Dari perjalanan tersebut, Bagus menyampaikan satu pesan sederhana bagi mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan dalam perkuliahan maupun tanggung jawab lainnya, yaitu βMulai aja dulu.β
Baginya, seseorang tidak selalu perlu mengetahui seluruh jalan yang akan dilalui sebelum memulai. Berbagai pengalaman selama kuliah justru mengajarkannya bahwa proses untuk bertahan, beradaptasi, dan terus mencoba dapat membawa seseorang menuju hal yang sebelumnya tidak pernah direncanakan.
Perjalanan Bagus menunjukkan bahwa menjadi wisudawan terbaik tidak selalu dimulai dari pilihan yang paling diyakini. Terkadang, perjalanan tersebut justru dimulai dari keraguan, lalu dilanjutkan dengan keberanian untuk tetap mencoba.
Penulis: Adnan Khalil Hakim
Editor : Rezza Firmanto
