Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dari Diary hingga La Caèri, Bryna Fakhrina Rachmaniyya Menemukan Makna dalam Menulis

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by aflah amanullah

Oleh Nisa Nigella Sativa

Penulis Antologi Sajak La Caèri (Dok. Pribadi Bryna Fakhrina Rachmaniyya)

SLEMAN, SUDUTNALAR.COM — Di antara halaman diary yang dipenuhi catatan harian, Bryna Fakhrina Rachmaniyya menemukan tempat untuk menyimpan hal-hal yang tidak mudah ia ceritakan. Rasa kesal, kecewa, kegagalan, dan kesedihan ia ubah menjadi kata-kata. Dari kebiasaan sederhana sejak sekolah dasar, tumbuh seorang penulis yang ingin mengabadikan perasaan sekaligus mengajak pembaca memahami luka dan ketimpangan sosial di sekitarnya.

Ketertarikan Bryna pada dunia menulis bermula ketika ia duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, ia bercita-cita menjadi penulis buku KKPK. Perjalanan tersebut tidak dimulai dengan karya besar, melainkan dengan cerita harian yang ditulis dalam diary.

“Tulisan pertama yang dibuat, tentu cerita harian. Dulu aku suka banget nulis diary,” ujar Bryna.

Diary menjadi ruang pribadi baginya untuk menuliskan peristiwa sehari-hari, mulai dari hal yang membuatnya kesal hingga perasaan yang sulit disampaikan kepada orang lain. Saat bercerita kepada orang lain terasa tidak mudah, halaman kosong menjadi tempat yang lebih aman untuk menaruh isi kepalanya.

“Aku orangnya susah cerita sama orang. Dengan menulis diary itu jadi mediaku buat mengekspresikan perasaan,” katanya.

Dari kebiasaan itu, Bryna belajar merangkai kata. Ia juga memahami bahwa tulisan tidak selesai hanya ketika kalimat terakhir dibuat. Setiap tulisan perlu dibaca kembali agar ia dapat menemukan kata yang kurang tepat dan memperbaiki pesan yang ingin disampaikan.

“Satu kali pembuatan itu nggak cukup. Perlu dibaca lagi lain kali. Dari pembacaan ulang itu, barulah ketemu, harusnya kata ini nggak begini,” tuturnya.

Salah satu karya yang paling membekas dalam ingatannya adalah puisi tentang langit yang dibuat saat mengikuti perlombaan di sekolah dasar. Puisi tersebut lahir dari pengamatan sederhana, tetapi maknanya semakin terasa ketika ia membacanya kembali.

“Langit warnanya nggak mesti biru terang. Bisa biru gelap. Tapi langit tetap bermanfaat bagi manusia,” ucapnya.

Bagi Bryna, langit adalah gambaran kehidupan manusia. Hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada kegagalan, ujian, dan masa-masa gelap yang harus dilalui. Namun, keadaan sulit itu tidak serta-merta menghapus nilai seseorang. Seperti langit yang tetap menaungi bumi ketika warnanya gelap, manusia tetap dapat memberi manfaat meski sedang berjuang dengan masalahnya sendiri.

Dalam perjalanan menulisnya, Bryna mendapat dukungan dari orang tua, keluarga, dan teman-temannya. Dukungan tersebut membuatnya tidak ragu untuk melanjutkan minat di bidang kepenulisan. Namun, kesibukan sebagai pelajar tetap menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi.

Ketika aktivitas semakin padat, minat membaca Bryna menurun. Padahal, membaca menjadi sumber penting untuk menemukan ide dan memperkaya kosakata.

“Aku lagi di fase minat bacanya menurun karena kesibukan. Nah, dari minat baca menurun itu, berpengaruh juga dalam tulisanku. Aku jadi jarang punya topik,” ujarnya.

Untuk menemukan kembali semangatnya, Bryna membaca karya orang-orang yang ia kagumi. Ia menyukai tulisan ayahnya yang sederhana dan mengalir. Ia juga membaca karya Syahid Muhammad ketika membutuhkan kosakata baru, serta menemukan inspirasi dari tulisan temannya, Fatma.

Puisi menjadi genre yang paling banyak mendapatkan respons positif. Pembaca menilai puisinya dalam dan memiliki jiwa. Namun, ketika menulis cerpen, Bryna pernah menerima kritik bahwa pesannya belum tersampaikan sekuat puisinya. Kritik tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia justru mulai tertarik mengembangkan cerpen, terutama cerita yang mengangkat isu ketimpangan sosial.

Momen paling berkesan dalam perjalanan kepenulisan Bryna terjadi ketika antologi sajak La Caèri terbit. Buku itu membuat lebih banyak orang mengetahui kegemarannya menulis. Pembaca baru pun hadir dan ikut mengikuti perjalanan yang ia bagikan melalui karya.

Namun, bagi Bryna, La Caèri bukan sekadar buku yang berhasil diterbitkan. Buku itu hadir ketika ia sedang berada dalam fase terpuruk.

“Terbitnya La Caèri itu obat buat aku. Soalnya waktu itu aku ada di fase down banget,” katanya.

Ia ingin kesedihan dan kegagalan yang dialaminya sepanjang 2023 hingga 2024 tidak berlalu tanpa makna. Pengalaman yang semula terasa seperti aib kemudian ia abadikan dalam tulisan agar dapat dibaca oleh banyak orang.

Melalui La Caèri, Bryna mengubah luka pribadi menjadi karya. Kesedihan tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang disimpan sendiri, melainkan kesaksian bahwa seseorang dapat jatuh dan tetap menghasilkan sesuatu yang berarti.

Kini, arti menulis bagi Bryna terus berkembang. Menulis masih menjadi cara mengekspresikan perasaan, tetapi ia juga ingin menyampaikan isu sosial dalam bentuk yang dekat dengan anak-anak. Salah satu cerpennya terinspirasi dari berita tentang krisis identitas perempuan adat akibat kerusakan ekologi.

Melalui cerpen dan puisi, Bryna ingin mengenalkan isu ketimpangan sosial serta menumbuhkan empati pada pembaca muda.

“Kita mau berharap ke siapa lagi kalau bukan berharap ke anak-anak supaya mereka tumbuh lebih baik dari kita? Supaya mereka tumbuh dilengkapi dengan empati sosial di tengah dunia yang semakin individualis,” katanya.

Bryna menyadari bahwa arti menulis mungkin berubah sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Namun, hari ini, selama ia masih bernapas dan masih memiliki rasa, ia akan terus menulis. Dari diary, puisi tentang langit, hingga La Caèri, Bryna membuktikan bahwa kesedihan tidak selalu berakhir sebagai luka. Kadang, kesedihan dapat menjelma cerita yang membuat orang lain merasa lebih dipahami.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme