
BANYUMAS, SudutNalar-Empat tungku kompor menyala bersamaan. Bahan makanan memenuhi dapur. Sebagian menu sudah selesai dibuat, sementara sebagian lainnya masih dikerjakan. Tangan Anna terus bergerak menyiapkan pesanan yang harus selesai sebelum waktu pengantaran.
Malam semakin larut. Rasa kantuk mulai datang, tetapi pekerjaan belum selesai. Suasana dingin malam seperti tidak terasa karena Anna masih sibuk berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Bagi pemilik usaha catering rumahan di Banjarsari Kulon itu, bekerja hingga pagi bukan hal yang asing.
Perjalanan itu dimulai sekitar 2010. Saat itu, Anna masih menjalankan usaha dalam skala kecil. Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki cukup banyak waktu di rumah, ia merasa jenuh jika hanya berdiam diri. Ia kemudian memilih memanfaatkan waktunya dengan melakukan sesuatu yang disukai.
“Daripada nggak ngapa-ngapain, lebih baik waktunya dimanfaatkan. Selain itu, memasak juga hobi saya,” ujar Anna.
Pesanan pertamanya berasal dari Balai Desa Banjarsari Kulon untuk rangkaian acara pemilihan kepala desa. Menu yang dibuat masih sederhana, seperti seperti jajanan pasar, gorengan, dan puding. Setelah itu, pesanan mulai datang dari kantor kecamatan, sekolah, hingga beberapa balai desa lain di sekitarnya.
Saat pertama memulai usaha, Anna hanya memiliki modal sekitar Rp200 ribu. Uang tersebut berasal dari pemberian yang didapat anak-anaknya ketika berkunjung ke rumah saudara yang tinggal jauh. Modal itu digunakan untuk membeli kebutuhan awal usaha.
Keterbatasan modal membuat Anna harus berhati-hati memenuhi kebutuhan usaha. Kemasan snack box masih sulit ditemukan. Kendaraan pribadi pun belum dimiliki. Ketika harus membeli kebutuhan bahan baku, ia berjalan kaki dari toko menuju rumah.
Salah satu perjalanan itu dilakukan sambil membawa satu dus air minum gelas berisi 48 buah. Jarak toko ke rumah sekitar 15 menit berjalan kaki. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya ketika usaha masih dirintis.
Seiring bertambahnya pelanggan, jumlah pesanan ikut meningkat. Adalakanya Anna menerima pesanan sekitar 200 hingga 600 snack box. Dalam prosesnya, ia dibantu anak-anak. Sementara itu, suaminya bertugas mengantar pesanan. Namun, untuk pesanan dengan jumlah yang besar, Anna juga menggunakan pekerja tambahan.
Ketika mendapat pesanan yang harus diantar pada pagi hari, pekerjaan Anna dimulai sejak hari sebelumnya. Setelah pekerjaan rumah selesai, sekitar pukul 10.00 ia mulai menyiapkan bahan, kemasan, dan kebutuhan lainnya. Pekerjaan kemudian berlanjut dari sore menuju malam hingga waktu pengantaran tiba.

Mata mulai terasa berat ketika malam semakin larut. Namun, tangannya tetap bergerak menyelesaikan pesanan. Sesekali, lagu diputar untuk menemani pekerjaan.
Setelah menyelesaikan pesanan untuk satu hari, Anna terkadang hanya sempat beristirahat satu hingga dua jam sebelum kembali menyiapkan pesanan berikutnya. Kondisi tersebut dapat berlangsung ketika pesanan datang untuk beberapa hari berturut-turut.
Malam-malam panjang dan waktu istirahat yang terbatas tidak membuat Anna berpikir untuk berhenti. Usaha yang berawal dari hobi kini ikut menopang kebutuhan keluarga.
Suaminya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan pendapatan yang tidak menentu. Sebelum menjalankan usaha, uang untuk kebutuhan sehari-hari terbatas. Kini, hasil usaha membuat keadaan ekonomi keluarga menjadi lebih baik. Anna dapat membeli sepeda motor untuk menunjang usaha dan menyisihkan sebagian uang untuk ditabung.
Hasil usaha itu juga digunakan untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya sudah menikah, sedangkan anak keduanya masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
“Saya sangat senang dan bersyukur. Ternyata, lelahnya saya membuahkan hasil dengan melihat anak-anak bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang perkuliahan,” tutur Anna.
Bagi Anna, keberhasilan usaha tidak lepas dari menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan. Pesanan harus sesuai permintaan dan selesai tepat waktu. Kritik dan saran dari pelanggan juga menjadi bahan untuk memperbaiki menu dan mencoba hal baru. Ketika hasilnya belum sesuai, Anna mencoba membuatnya kembali sampai menemukan hasil yang lebih baik.
“Jangan takut untuk mencoba dan tekun terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan. Jangan merasa cepat putus asa apabila mengalami kegagalan,” ujarnya.
Kini, Anna berharap anak-anaknya suatu hari nanti dapat melanjutkan dan memperbesar usaha yang sudah dirintisnya.
Dapur sederhana yang dimilikinya menjadi saksi bagaimana sebuah usaha kecil dapat membantu mengubah kehidupan keluarga.
Bagi Anna, setiap malam yang dilewati dengan lelah adalah bagian dari perjalanan untuk melihat keluarganya hidup lebih baik.
Penulis: Restina Diniati Cantika
