SudutNalar.com, 22 September 2026

(Foto: Dokumentasi Pribadi)
CILACAP, SudutNalar β Butuh waktu 16 tahun bagi Eko Hermanto untuk benar-benar merasakan hasil dari cita-citanya menjadi guru. Perjalanan itu dimulai pada 2005 sebagai guru honorer dengan honor yang sangat minim di SD Panimbang V. Ia kemudian pindah mengajar ke SD Muhammadiyah. Pada 2022, ia akhirnya dinyatakan lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan kini mengajar kelas 5 di SD Negeri Cibalung 2, Cilacap. Di balik status kepegawaian yang lebih mapan itu, tersimpan kisah panjang tentang kegigihan mempertahankan passion di tengah keterbatasan ekonomi.
Keinginan Eko menjadi guru sudah tumbuh sejak kecil, bukan muncul belakangan. Ketika anak-anak seusianya bercita-cita menjadi pilot atau dokter, ia justru bersikeras ingin menjadi guru. Cita-cita itu bahkan pernah ia tulis di lemari kaca kamarnya. βPengen jadi guru, sampai sekarang belum diapus, padahal itu ditulis pakai kapur,β kenangnya.
Namun, jalan menuju cita-cita itu tidak mudah. Keterbatasan biaya membuat Eko tidak bisa langsung melanjutkan kuliah setelah lulus dari SMK Negeri 1 Cilacap jurusan Mesin Produksi. Untuk mengumpulkan biaya kuliah, ia bahkan sempat membantu seorang tukang jahit memasang kancing baju.
Untuk bisa kuliah di Universitas Terbuka, Eko harus lebih dulu mengantongi Surat Keputusan (SK) sebagai guru bakti, syarat yang mengharuskannya lebih dulu mengajar. Pada 2005, ia diterima mengajar di SD Panimbang V dengan honor yang jauh dari layak untuk kebutuhan sehari-hari. Karena belum memiliki kendaraan bermotor, setiap hari ia harus naik transportasi umum, lalu berjalan kaki sekitar 15 menit untuk sampai ke sekolah.
Lima tahun mengajar di Panimbang, Eko kemudian pindah ke SD Muhammadiyah pada 2011 atas ajakan rekannya, Farid, setelah ada kekosongan guru karena salah satu gurunya pensiun. Di sekolah baru itu, honornya pun masih jauh dari cukup, meski secara bertahap terus mengalami kenaikan hingga ia keluar pada 2020.
Bagian tersulit dalam perjalanan Eko justru datang setelah ia menikah, saat gajinya sebagai guru honorer masih sangat kecil. Ia mengaku sempat dihantui keraguan apakah ada perempuan yang mau menerima kondisi ekonominya saat itu. βMau nerima dari minus, bukan dari nol,β ujarnya, mengibaratkan situasi keuangannya kala itu jauh dari kata cukup.
Untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, Eko merintis sejumlah usaha sampingan, mulai dari berjualan bibit pohon bidara dalam polybag, berjualan keripik ubi, hingga mengumpulkan barang bekas. Meski dibayangi kesulitan ekonomi, Eko mengaku tidak pernah mengurangi totalitasnya sebagai pengajar. Baginya, guru yang baik bukan sekadar guru yang pandai, melainkan guru yang pernah merasakan sulitnya menjadi murid yang tertinggal. βGuru yang bagus itu justru guru yang dulu sekolahnya paling bodoh, karena dia paham rasanya didiskriminasi,β ujarnya. Prinsip itulah yang membuatnya berusaha tidak menciptakan suasana kelas yang menakutkan bagi murid-muridnya.
Eko juga meyakini bahwa relasi guru dan murid berjalan dua arah. βBukan anak-anak yang lebih banyak belajar dari pak guru, tapi pak guru yang lebih banyak belajar dari anak-anak,β katanya. Menurutnya, kedekatan itu membuat murid-muridnya kerap terbuka bercerita tentang kesehariannya, layaknya bercerita kepada orang tua sendiri.
Setelah 16 tahun mengajar, Eko menilai tantangan terbesar guru justru datang dari perubahan karakter murid akibat paparan media sosial sejak usia dini. Ia mencontohkan murid kelas 5 yang diajarnya cenderung memiliki emosi tidak stabil dan cara berpikir yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian orang tua yang mudah bersikap negatif terhadap guru saat anaknya dimarahi di sekolah, tanpa terlebih dahulu mengklarifikasi duduk persoalannya. Menurut Eko, tantangan ini tidak bisa diselesaikan guru sendirian, melainkan membutuhkan kerja sama semua pihak, termasuk keluarga di rumah.
Setelah dua kali gagal dalam seleksi PNS, Eko akhirnya dinyatakan lulus seleksi PPPK pada 2022 dan langsung ditempatkan di SD Negeri Cibalung 2. Kini dengan status kepegawaian yang lebih jelas dan penghasilan yang lebih layak, ia mengaku bisa lebih tenang memenuhi kebutuhan keluarganya. Eko menegaskan bahwa passion tetap menjadi fondasi utama yang membuatnya bertahan selama belasan tahun sebagai guru honorer dengan penghasilan jauh dari cukup. Ia berpesan agar calon guru tidak berorientasi pada besaran gaji maupun tunjangan sertifikasi semata. βPassion dulu, bahagia bertemu anak-anak dulu. Jangan sampai berpikir ke sana duluan,β ujarnya.
Di penghujung ceritanya, Eko mengaku bersyukur bisa bertahan hingga mencapai cita-citanya sebagai guru. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada dirinya sendiri karena mampu bertahan melewati masa-masa sulit, serta kepada orang tuanya yang terus mendukung meski ia sempat meragukan pilihan hidupnya.
Eko menutup kisahnya dengan sebuah keyakinan yang terus dipegangnya sejak awal memilih profesi ini: βYang memutus rantai kemiskinan itu bukan makan, tapi pendidikan.β
Oleh: Khalisa Anti Meilani
Editor: Nesa Aprilia
