
BANYUMAS, SudutNalar — Aktivitas tidak hanya terlihat dari pembeli yang datang untuk makan. Di balik etalase berisi aneka lauk dan makanan, ada mahasiswa yang singgah untuk mengerjakan tugas, hingga berbincang bersama teman-temannya. Bagi mereka, kedai milik Bu’e ini bukan sekadar tempat untuk mengisi perut, tetapi juga tempat untuk melepas penat setelah menjalani kesibukan kuliah.
Sejak pagi hingga malam, Bu’e sibuk melayani pembeli dan menata makanan di etalase. Kedai mulai buka pukul 08.00 hingga 23.00 WIB itu menjadi tempat yang dapat didatangi mahasiswa ketika ingin berkumpul. Di antara kesibukan tersebut, interaksi sederhana tumbuh dan membuat warung terasa lebih dari sekadar tempat jual beli.
Bagi mahasiswa, mengerjakan tugas bersama atau sekadar berbincang tidak selalu harus dilakukan di kampus. Sebagian memilih datang ke kedai Bu’e karena dapat menikmati makanan sambil menyelesaikan pekerjaan kuliah. Ada pula yang datang untuk bertukar cerita setelah seharian mengikuti kegiatan perkuliahan.
Bu’e memberikan ruang bagi mahasiswa untuk merasa nyaman selama berada di kedainya. Ketika mereka masih berbincang hingga malam, ia tidak langsung meminta mereka pulang, selama tetap menjaga ketertiban dan kenyamanan. Hubungan yang terjalin pun tidak selalu sebatas penjual dan pembeli.
“Saya senang kalau anak-anak mahasiswa bisa merasa nyaman di sini. Kedai ini bukan cuma untuk makan, tetapi juga bisa menjadi tempat mereka berkumpul, mengerjakan tugas, atau berdiskusi,” ujar Bu’e.
Obrolan di kedai itu pun beragam. Selain membicarakan tugas kuliah dan kehidupan kampus, mahasiswa terkadang berdiskusi mengenai persoalan sosial hingga politik. Dari percakapan sederhana tersebut, kedai menjadi tempat untuk saling bertukar pikiran di luar kegiatan formal perkuliahan.
Dalam perjalanan hidupnya, Bu’e pernah menghadapi pilihan untuk melanjutkan pendidikan atau mendahulukan kebutuhan keluarga. Meski mendapat dorongan dari dosen untuk melanjutkan studi, saat itu ia memilih mengutamakan pendidikan adik-adiknya. Pilihan tersebut menjadi bagian dari perjalanan keluarganya. Pengalaman itu turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berkembang.
Bu’e memiliki filosofi hidup yang diibaratkan seperti pohon pisang. Tanaman tersebut dapat dimanfaatkan melalui berbagai bagiannya, mulai dari buah hingga daunnya. Baginya, filosofi itu menggambarkan harapan agar keberadaan seseorang juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Saya ingin selama masih mampu, keberadaan saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Tidak harus melakukan sesuatu yang besar, yang penting ada manfaat yang bisa dirasakan,” ujar Bu’e.
Keinginan untuk berbagi tidak hanya ditujukan kepada keluarga dan mahasiswa. Bu’e juga berupaya membantu masyarakat melalui kegiatan pemeliharaan bebek dengan sistem bagi hasil. Bebek-bebek tersebut dipelihara untuk menghasilkan telur yang dapat dijual atau diolah menjadi telur asin.
Kegiatan itu diharapkan dapat memberikan manfaat bagi warga yang terlibat. Bu’e juga berharap mahasiswa yang mempelajari bidang peternakan maupun perikanan dapat menerapkan pengetahuan mereka secara langsung untuk membantu masyarakat.
Harapan Bu’e untuk kedepannya kedai ini tidak hanya tempat untuk makan saja tetapi dapat digunakan untuk diskusi buku, seminar kecil, dan kegiatan berdampingan dengan masyarakat.
Kedai itu mungkin terlihat sederhana dari luar, dengan etalase makanan dan meja yang digunakan pengunjung. Namun, di sana ada interaksi yang tumbuh setiap hari, mulai dari mahasiswa yang mengerjakan tugas hingga percakapan mengenai kehidupan di luar kampus.
Bagi Bu’e, kedai bukan hanya tempat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Ia ingin tempat itu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar bersama dan masyarakat untuk berkembang. Seperti pohon pisang yang menjadi filosofi hidupnya, ia berharap sesuatu yang dimiliki dapat memberikan manfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.
Penulis: Yuliyastin Gebi Saputri
