
PURWOKERTO, SudutNalar — Dua puluh empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengabdikan diri dalam pendidikan anak usia dini. Bagi Dwi, menjadi guru TK bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan pilihan yang tumbuh dari keinginan dan kecintaannya terhadap anak-anak sejak masa kuliah.
Dwi mulai mendarmabaktikan diri di dunia pendidikan anak usia dini pada 22 Januari 2002. Meskipun jurusan yang ditempuhnya ketika kuliah tidak berkaitan dengan pendidikan anak usia dini, keinginannya menjadi guru TK tetap dijalani hingga sekarang. Perjalanan panjang dan pengalaman yang dimilikinya mengantarkan Dwi dipercaya menjadi Kepala Sekolah pada 2011.
Bagi Dwi, menjadi pendidik anak usia dini bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi membutuhkan keteladanan. Anak-anak usia TK berada dalam masa emas (golden age) dan memiliki kemampuan meniru yang kuat. Perilaku guru menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Guru harus mampu menjadi contoh bagi mereka.
“Anak-anak di usia emas itu peniru andal. Jadi, kami sebagai guru harus memberi contoh dan keteladanan, seperti menunjukkan semangat akhlak yang baik dan kesabaran,” ujar Dwi.
Pandangan tersebut dipengaruhi oleh sosok yang menjadi inspirasinya, yakni Kak Seto. Dwi melihat Kak Seto sebagai pribadi yang sabar, pandai bergaul, mampu merangkul anak, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan anak.
Prinsip tersebut ia terapkan dalam kesehariannya. Sebagai kepala sekolah, Dwi tidak hanya berkutat di balik meja administrasi. Berbekal sertifikasi guru kelas, ia turun langsung mengajar di kelas setiap hari.
Sekitar 2010, Dwi dan timnya memperkenalkan metode pembelajaran membaca melalui buku “Bacalah”. Inovasi ini berdampak positif. Minat masyarakat terhadap sekolah meningkat dan jumlah murid bertambah pesat. Melalui metode ini, anak-anak dilatih untuk berani membaca di depan umum, termasuk dalam kegiatan pentas perpisahan TK.
Perjalanan panjang tidak selalu mulus. Tahun 2013 menjadi masa paling berat dalam kariernya. Sekolah pernah mengalami masa sulit ketika jumlah murid menurun drastis hingga tersisa 11 anak. Kondisi tersebut sempat membuatnya minder ketika berinteraksi dengan sekolah lain.
“Waktu itu saya sempat minder ketika bertemu sekolah lain di acara tertentu,” ujar Dwi.
Alih-alih menyerah, pengalaman pahit itu justru menjadi pemantik semangatnya untuk terus meningkatkan kualitas sekolah hingga akhirnya membuahkan hasil. Baginya, masa sulit merupakan dorongan untuk bangkit dan memberikan yang terbaik.
Di sisi lain, ada momen sederhana yang berkesan bagi Dwi. Saat yang paling menyentuh baginya adalah ketika ia kembali ke sekolah setelah absen karena sakit atau keperluan lainnya. Sambutan anak dan pelukan hangat menjadi kebahagiaan tersendiri.
Menjaga kekompakan guru bukanlah hal yang mudah. Dwi menerapkan refleksi, rapat kecil, dan evaluasi bersama. Ia juga menanamkan pentingnya kesabaran, keikhlasan, dan penyelesaian masalah secara damai. Nilai-nilai tersebut diharapkan bisa menjadi bagian dari pendidikan karakter anak.
“Ketika ada anak yang sedang berselisih, guru harus segera melerai dan mengajak anak-anak untuk saling memaafkan,” ucapnya.
Kolaborasi dengan orang tua adalah kunci keberhasilan dalam membimbing murid. Sejak awal tahun ajaran, sekolah aktif merangkul orang tua dengan mengadakan rapat rutin dan program kolaboratif, seperti keterlibatan orang tua dalam kegiatan peringatan hari besar dan perlombaan.
Orang tua perlu memahami bahwa pendidikan utama dimulai dari rumah, sedangkan sekolah berperan untuk mengulang dan mengembangkan nilai-nilai yang sudah ditanamkan kepada anak.
“Kami selalu menyampaikan kepada orang tua, pembelajaran utama itu berasal dari rumah. Sekolah hanya tempat untuk mengulang,” tuturnya.
Dua puluh empat tahun mengabdikan diri, Dwi tidak menempatkan jabatan sebagai tujuan utama. Ia justru berharap dapat meninggalkan kesan yang baik bagi orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan kariernya.
Ia ingin terus dikenang oleh para murid, rekan kerja, dan orang tua murid bukan sebagai sosok yang sempurna, melainkan sebagai guru yang baik, menyenangkan, dan berkesan.
“Saya ingin dikenang sebagai guru yang baik, menarik, menyenangkan, dan tidak terlupakan,” pungkasnya.
Menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang kesabaran, keteladanan, dan ketulusan dalam mendampingi pertumbuhan anak. Pengabdian seorang guru yang dilakukan dengan sepenuh hati mungkin tidak selalu terlihat dalam bentuk penghargaan, tetapi akan tumbuh menjadi kenangan dan kesan baik yang dibawa sepanjang hidup.
Penulis : Nailah Fiza Imania
Editor : Nur Alya Nabila
