Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

BERTAHAN DI BAWAH TERIK, PETANI SALAK MENANTI HUJAN

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Dok. (Fajriati Fatwa Islamiyati)

Penulis : Fajriati Fatwa Islamiyati

BANJARNEGARA, SUDUTNALAR — Daun-daun salak yang biasanya tampak hijau rimbun kini sebagian menguning dan menggulung di ujungnya. Beberapa tandan buah tampak lebih kecil dari biasanya, tidak sebesar saat musim hujan. Dari pengamatan langsung di lokasi, tanah di sekitar perkebunan tampak mengeras akibat terik musim kemarau yang sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Bagi Sidik Riyanto (51), musim kemarau tahun ini berdampak langsung pada penurunan produktivitas kebun salaknya.

Sidik sudah 10 tahun lebih mengelola kebun salak ini. Dalam pengalaman satu dekade itu, ia melihat dampak nyata dari cuaca panas yang berkepanjangan. “Biasanya kalau musim hujan bisa 1 ton, sekarang 5 kuintal,” ujarnya. Produksi turun hingga 50%. Batang-batang salak yang biasanya kokoh kini terlihat layu dan kekurangan suplai air dari tanah yang mengering.

Dok. (Fajriati Fatwa Islamiyati)

Meskipun tanaman salak dikenal cukup tahan terhadap cuaca kering, dampaknya tetap terasa nyata pada hasil panen. “Tanaman salak kuat dari pengaruh kemarau, tapi produksinya berkurang,” jelas Sidik. Perubahan fisik mulai terlihat di kebun seperti batang pohon mengering dan pasokan air berkurang drastis karena tidak adanya hujan. Di musim kemarau, produktivitasnya anjlok separuh dari biasanya.  

Di tengah lahan yang semakin kering ancaman yang dihadapi bukan sekadar penurunan jumlah panen, melainkan risiko pohon salak yang bisa mengering dan mati. “Para petani khawatir pohon salaknya pada mengering jadi enggak berbuah, produksinya berkurang,” ungkap Sidik. Kekhawatiran itu beralasan karena salak adalah tanaman menahun yang bisa bertahan hingga 20 tahun. Sekali tanam, petani berharap bisa memanen berkali-kali. Tapi jika pohonnya mati, artinya investasi 10 tahun lebih bisa hilang dalam sekejap. Dalam kondisi normal, kebun salak bisa dipanen dua kali dalam sebulan setelah memasuki usia produktif 3 tahun. Tapi di musim kemarau ini, siklus panen terganggu. 

Untuk mengurangi dampak kekeringan, petani terpaksa mengalirkan air melalui paralon ke lahan mereka. Air itu diambil dari sumber yang masih tersisa, lalu dialirkan sedikit demi sedikit ke pangkal pohon. “Biar nggak kering,” kata Sidik singkat. Upaya itu membantu mencegah pohon mengering sepenuhnya, meski belum mampu mengembalikan produktivitas seperti musim hujan.

Di tengah penurunan volume panen tersebut, harga salak di pasaran justru mengalami kenaikan. Di musim hujan, harga salak berkisar Rp2.000 per kilogram. Saat kemarau, harga naik menjadi Rp5.000 per kilogram. “Harganya naik karena buahnya tidak melimpah seperti di musim hujan,” jelasnya. Namun, kenaikan harga ini tidak sebanding dengan volume panen yang berkurang drastis. Bagi petani, yang terpenting adalah kepastian — kepastian bahwa pohon akan tetap hidup, kepastian bahwa ada panen berikutnya, kepastian bahwa mereka bisa terus bertahan.  

Salak menjadi pilihan utama karena siklus hidupnya yang panjang. “Tidak seperti padi kan tanam lagi, potong lagi, tanam lagi, kalau salak kan sekali tanam umurnya sampai 20 tahunan,” ujar Sidik. Tapi di tengah kemarau yang ekstrem, tanaman menahun ini pun mulai goyah. Petani tahu mereka tidak bisa bergantung pada tanaman lain. Ini adalah satu-satunya sumber penghidupan yang mereka punya. 

Saat ditanya mengenai harapan untuk kebun salaknya, Sidik menyampaikan permintaannya secara sederhana. “Mengharap hujan segera turun sehingga pohon-pohon salak tidak kekeringan dan buahnya bisa berproduksi normal kembali,” katanya pelan. Harapan serupa juga dirasakan oleh ratusan petani salak lainnya di Banjarnegara. 

Bagi Sidik dan petani lainnya, hujan bukan sekadar fenomena cuaca. Itu adalah kepastian yang mereka tunggu untuk tetap bisa bertahan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme