Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Bermula Sebagai Honorer, Henny Saraswati Mengabdi Dua Dekade di SMA N 2 Purbalingga

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by zulfa izaz

Penulis: Zulfa Nur Auliya

Potret Henny Saraswati, guru Ekonomi SMA N 2 Purbalingga. (Dok. Zulfa Nur Auliya)

Purbalingga, SudutNalar – Di ruang tamu berdinding putih, sebuah foto keluarga tertata rapi. Sesekali deru kendaraan dari jalan raya di depan rumah menyelinap masuk. Di ruangan itu, Henny Saraswati bercerita tentang perjalanan hidupnya, dan ketika pertanyaan tentang masa lalu dilontarkan, matanya berkaca-kaca.

Perempuan yang sudah lebih dari dua dekade berprofesi sebagai guru ini ternyata tidak memulai kariernya dari dunia pendidikan. Henny awalnya lulusan jurusan ekonomi murni. Setelah lulus, ia bekerja sebagai tenaga administrasi di Batam dan Jakarta selama empat tahun, hingga kontraknya berakhir. Saat itulah ia melihat peluang menjadi guru dan memutuskan kembali kuliah untuk menempuh Akta Mengajar selama satu tahun. 

Pada Februari 2004, ia mulai mengajar mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Purbalingga sebagai guru honorer. Status itu ia jalani selama empat tahun. Honor pertamanya Rp220.000, ditambah tunjangan Rp120.000 per bulan karena jam mengajarnya melebihi 18 jam seminggu. Dari penghasilan pertama itu, tak sepeser pun ia belikan barang pribadi, melainkan ia gunakan untuk mengajak keluarganya makan bersama.

“Sebagai wujud syukur atas rezeki yang diberikan Allah,” tuturnya.

Karena belum berkeluarga, penghasilan selanjutnya ia gunakan untuk kebutuhan pribadi, membantu keluarga, serta membeli buku dan peralatan mengajar.

“Rasanya senang dan bangga karena bisa mengajar di salah satu sekolah favorit di Purbalingga,” ujarnya.

Di balik rasa bangga itu, langkahnya sempat tertahan di depan pintu kelas pada hari pertama mengajar, dengan catatan materi tergenggam erat di tangan. Kelas pertama riuh dan saling bersahutan. Kelas berikutnya hening, tak ada satu pun tangan yang terangkat. Ia pun harus belajar menyesuaikan diri dengan setiap kelas.

Pada tahun 2005, Henny mengikuti tes CPNS jalur honorer. Namun, ia dinyatakan tidak lolos. Tak lama setelah itu, ada kabar baik. Di masa pemerintahan Presiden SBY, honorer yang mengabdi sebelum 2005 dan memiliki SK bupati dapat diangkat menjadi PNS tanpa tes, dan Henny termasuk salah satunya.

“Saya adalah honorer yang diberi anugerah luar biasa oleh Allah SWT,” ucapnya. 

Kini ia masih mengajar di sekolah yang sama dan telah menjadi seorang ibu, sehingga harus menjaga dua prioritas sekaligus, yaitu pekerjaan dan keluarga. Walaupun tenaganya banyak terkuras untuk mengajar, ia merasakan hal sebaliknya begitu tiba di rumah.

“Alhamdulillah, rasa lelah saat di sekolah hilang jika sudah sampai rumah,” tuturnya.

Suasana belajar di kelas yang diampu Henny Saraswati. (Dok. Pribadi)

Namun, tidak semua hari berjalan ringan. Ada kalanya ia masuk kelas dengan beban pikiran pribadi atau kondisi tubuh yang kurang sehat. “Tentu saja merasa berat,” akunya. Meski begitu, bertemu dan mengajar para murid menjadi hiburan tersendiri yang membuatnya sejenak melupakan apa yang terjadi. 

Bagi Henny, guru adalah sosok dengan kesabaran luar biasa yang tak kenal lelah untuk terus belajar dan belajar. Setelah bertahun-tahun mengajar, ada satu hal dari awal kariernya sebagai guru yang paling ia rindukan. 

“Saat anak datang ke rumah untuk belajar atau bertanya tentang pelajaran yang belum dimengerti,” ucapnya, suaranya melembut.

Menurut Henny, kebiasaan murid memang sudah berubah. Kini mereka lebih sering mencari jawaban lewat internet atau bertanya lewat pesan singkat. 

Dua dekade lebih telah ia lewati di ruang kelas, dari honorer hingga menjadi guru yang tak pernah ingin berhenti mengajar.

Seandainya bisa membisikkan satu kalimat kepada dirinya di masa lalu, saat pertama kali memutuskan menjadi guru, ia hanya ingin berkata,

“Terima kasih sudah menjadi seorang guru, walaupun terlambat.”

Henny menunduk, matanya kembali berkaca-kaca.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme