Penulis: Zulfa Nur Auliya

Purbalingga, SudutNalar – Di ruang tamu berdinding putih, sebuah foto keluarga tertata rapi. Sesekali deru kendaraan dari jalan raya di depan rumah menyelinap masuk. Di ruangan itu, Henny Saraswati bercerita tentang perjalanan hidupnya, dan ketika pertanyaan tentang masa lalu dilontarkan, matanya berkaca-kaca.
Perempuan yang sudah lebih dari dua dekade berprofesi sebagai guru ini ternyata tidak memulai kariernya dari dunia pendidikan. Henny awalnya lulusan jurusan ekonomi murni. Setelah lulus, ia bekerja sebagai tenaga administrasi di Batam dan Jakarta selama empat tahun, hingga kontraknya berakhir. Saat itulah ia melihat peluang menjadi guru dan memutuskan kembali kuliah untuk menempuh Akta Mengajar selama satu tahun.
Pada Februari 2004, ia mulai mengajar mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Purbalingga sebagai guru honorer. Status itu ia jalani selama empat tahun. Honor pertamanya Rp220.000, ditambah tunjangan Rp120.000 per bulan karena jam mengajarnya melebihi 18 jam seminggu. Dari penghasilan pertama itu, tak sepeser pun ia belikan barang pribadi, melainkan ia gunakan untuk mengajak keluarganya makan bersama.
“Sebagai wujud syukur atas rezeki yang diberikan Allah,” tuturnya.
Karena belum berkeluarga, penghasilan selanjutnya ia gunakan untuk kebutuhan pribadi, membantu keluarga, serta membeli buku dan peralatan mengajar.
“Rasanya senang dan bangga karena bisa mengajar di salah satu sekolah favorit di Purbalingga,” ujarnya.
Di balik rasa bangga itu, langkahnya sempat tertahan di depan pintu kelas pada hari pertama mengajar, dengan catatan materi tergenggam erat di tangan. Kelas pertama riuh dan saling bersahutan. Kelas berikutnya hening, tak ada satu pun tangan yang terangkat. Ia pun harus belajar menyesuaikan diri dengan setiap kelas.
Pada tahun 2005, Henny mengikuti tes CPNS jalur honorer. Namun, ia dinyatakan tidak lolos. Tak lama setelah itu, ada kabar baik. Di masa pemerintahan Presiden SBY, honorer yang mengabdi sebelum 2005 dan memiliki SK bupati dapat diangkat menjadi PNS tanpa tes, dan Henny termasuk salah satunya.
“Saya adalah honorer yang diberi anugerah luar biasa oleh Allah SWT,” ucapnya.
Kini ia masih mengajar di sekolah yang sama dan telah menjadi seorang ibu, sehingga harus menjaga dua prioritas sekaligus, yaitu pekerjaan dan keluarga. Walaupun tenaganya banyak terkuras untuk mengajar, ia merasakan hal sebaliknya begitu tiba di rumah.
“Alhamdulillah, rasa lelah saat di sekolah hilang jika sudah sampai rumah,” tuturnya.

Namun, tidak semua hari berjalan ringan. Ada kalanya ia masuk kelas dengan beban pikiran pribadi atau kondisi tubuh yang kurang sehat. “Tentu saja merasa berat,” akunya. Meski begitu, bertemu dan mengajar para murid menjadi hiburan tersendiri yang membuatnya sejenak melupakan apa yang terjadi.
Bagi Henny, guru adalah sosok dengan kesabaran luar biasa yang tak kenal lelah untuk terus belajar dan belajar. Setelah bertahun-tahun mengajar, ada satu hal dari awal kariernya sebagai guru yang paling ia rindukan.
“Saat anak datang ke rumah untuk belajar atau bertanya tentang pelajaran yang belum dimengerti,” ucapnya, suaranya melembut.
Menurut Henny, kebiasaan murid memang sudah berubah. Kini mereka lebih sering mencari jawaban lewat internet atau bertanya lewat pesan singkat.
Dua dekade lebih telah ia lewati di ruang kelas, dari honorer hingga menjadi guru yang tak pernah ingin berhenti mengajar.
Seandainya bisa membisikkan satu kalimat kepada dirinya di masa lalu, saat pertama kali memutuskan menjadi guru, ia hanya ingin berkata,
“Terima kasih sudah menjadi seorang guru, walaupun terlambat.”
Henny menunduk, matanya kembali berkaca-kaca.
