
Es brasil, sumber : dokumentasi pribadi.
PURWOKERTO—BANYUMAS Indonesia memang tak diragukan lagi tentang kekayaan kulinernya. Setiap sudut wilayah Indonesia menghadirkan cita rasa khas yang menggugah selera. Di tengah banyaknya pilihan tersebut, ada kuliner legendaris yang tak lekang oleh waktu dan selalu menjadi favorit masyarakat. Salah satunya adalah Es Brasil yang sudah eksis sejak tahun 1968 dan masih menjadi makanan favorit banyak orang hingga masa kini. Berawal dari listrik yang tak terpakai, sang pendiri awal, Winawati Wangsaputri, memanfaatkannya untuk membuat es yang awalnya ditawarkan secara keliling. Di balik kesuksesannya, nama “Brasil” sendiri merupakan singkatan dari kata “berhasil” yang memiliki tujuan sebagai doa agar usaha tersebut dapat berjalan lancar dan membawa keberhasilan. Kini, usaha legendaris tersebut sudah diteruskan hingga generasi ke-3 oleh Kak Tata dan bahkan telah memiliki dua cabang di Jakarta dan Bogor.
Berpusat di kota Purwokerto, Es Brasil menjadi pilihan oleh-oleh khas Purwokerto karena cita rasa yang khas dan harga yang ramah di kantong, yaitu dimulai dari harga Rp 1.500 hingga Rp 15.000. Meskipun harganya terjangkau, es krim ini memakai bahan alami, seperti santan, tanpa pemanis buatan, tanpa pengawet, dan menggunakan resep turun-temurun demi menjaga cita rasa yang sama sejak dulu dan inilah yang membuat Es Brasil mampu bertahan selama 56 tahun lamanya. Es Brasil hadir dalam beragam jenis seperti es kotak, es lilin, es puter, es krim, dan es rujak. Salah satu yang paling ikonik adalah jenis es kotak, terutama varian rasa kacang hijau yang paling diminati pembeli karena tekstur lembut dan manis alaminya.
Kedainya pun masih mempertahankan suasana tradisional yang terdapat dua lantai. Di tengah maraknya persaingan kafe modern, alih-alih mengikuti tren kekinian, Es Brasil memilih untuk tetap menjaga cita rasa tradisional yang turun-temurun sejak dulu kala. Hal ini membuktikan bahwa kuliner lokal mampu bersaing dengan tren saat ini, sekaligus menghadirkan kenikmatan, kesegaran, dan rasa nostalgia yang memikat hati para pelanggan.
Reporter: Muhammad Yayan Maulana | Editor: Fara Aulia Fadilah
