Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Berawal dari Pencak Silat, Kuda Lumping Sekar Budaya di Jangraga Kian Digandrungi Generasi Muda

Posted on September 16, 2026September 16, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Reporter : Damia Sifa Aulia Romansyah | Editor :Cintya Auliyanti

 Sudutnalar.com, 12 September 2026

Para penari dan pengurus Paguyuban Seni Kuda Lumping “Sekar Budaya” di Desa Jangraga 
(Foto: Damia Sifa Aulia Romansyah)

JANGRAGA, Sudutnalar.com – Kesenian tradisional kuda lumping terbukti belum kehilangan pesonanya. Di Desa Jangraga, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, pertunjukan seni ini justru menjadi magnet hiburan yang terus disesaki penonton dari berbagai kalangan.

​Di balik riuhnya alunan gamelan tersebut, ada nama Paguyuban Sekar Budaya. Berdiri sejak 2015, kelompok ebeg ini lahir dari rahim kegiatan olahraga bela diri pencak silat setempat.

Herman, pemilik sekaligus pimpinan Sekar Budaya, menceritakan bahwa ide membentuk kelompok kuda lumping ini murni datang dari aspirasi para pemuda yang gemar berlatih silat.

​“Awal mulanya dari pencak silat. Anak-anak mengusulkan ingin ada seni ebeg,” ujar Herman.

​Meskipun istilah ebeg lebih erat dengan budaya Jawa, masyarakat Jangraga lebih akrab menyebutnya kuda lumping. Uniknya, daya tarik pertunjukan ini justru makin menguat di mata generasi muda.

​“Sekarang lebih banyak anak muda, terutama ABG, yang menonton kuda lumping,” ungkap Herman saat menggambarkan antusiasme penonton masa kini.

​Magnet pertunjukan ini diakui langsung oleh Hernawan, salah seorang penonton setia di lokasi. Ia mengaku sudah jatuh cinta pada pementasan kuda lumping sejak masih berstatus anak-anak.

​“Dari kecil, suka sama barongan,” tutur Hernawan.

Bagi Hernawan, suguhan kuda lumping saat ini terasa jauh lebih segar dan adaptif. Kehadiran para penari perempuan kini menjadi warna baru yang membuat pementasan makin dinamis dibandingkan era terdahulu.

​Selain rutin diundang dalam hajatan warga dan peringatan kemerdekaan, Sekar Budaya juga kerap menggelar pentas mandiri pada bulan Muharam. Guna menjangkau audiens yang lebih luas, pementasan mereka kini rutin diunggah ke media sosial seperti TikTok dan YouTube.

​Meski harus memutar otak terkait biaya operasional pementasan mandiri, Herman dan Hernawan menaruh harapan besar agar pemerintah desa serta masyarakat terus memberikan dukungan penuh demi kelestarian seni tradisi ini.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme