
BANYUMAS, SudutNalar – Perjalanan menjadi seorang pendidik tidak selalu dimulai dari sebuah cita-cita yang sudah direncanakan. Hal itu dialami oleh Turisah, guru di RA Al Muhajirin yang telah mengabdi di dunia pendidikan anak usia dini sejak tahun 1997. Berawal dari sebuah kesempatan yang tidak disengaja, ia akhirnya menemukan jalan hidupnya sebagai seorang guru.
Awalnya, Turisah tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang pendidik. Setelah menikah muda dan sempat bekerja di salon, ia mendapat kesempatan mengajar di TK untuk menggantikan guru yang harus pulang kampung. Meski belum memiliki pengalaman, ia mencoba menjalani kesempatan tersebut.
“Awalnya saya belum punya pengalaman, jadi sempat merasa bingung, nanti mau bicara apa di depan anak-anak.” ungkap Turisah.
Keinginan untuk terus berkembang mendorongnya menempuh pendidikan anak usia dini pada tahun 2003-2005 dan berhasil mendapat SK PNS pada tahun 2007.
Bagi Turisah, pengangkatan tersebut membawa perasaan yang campur aduk. Kebahagiaan bercampur dengan kesedihan, sebab kabar tersebut datang bersamaan dengan kelahiran anaknya dan musibah kecelakaan yang dialami suaminya.
“Rasanya senang, tapi juga sedih karena waktu itu bersamaan dengan beberapa kejadian dalam keluarga.” tuturnya.
Perjalanan karier Turisah semakin berkembang ketika dipercaya menjadi kepala TK. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat memimpin TK di Gancang. Ia berusaha memberikan kesempatan kepada guru-guru muda untuk mengembangkan kemampuan dan kepercayaan dirinya.
Dalam menjalankan kepemimpinannya, Turisah menerapkan sistem kekeluargaan. Ia berusaha memberdayakan para guru sesuai dengan kemampuan masing-masing dan memperhatikan kesejahteraan mereka.
“Kalau manajemen sekolah bagus, guru jangan sampai terbebani mengeluarkan biaya sendiri, apalagi guru honorer yang penghasilannya masih terbatas.” ujarnya.
Bagi Turisah, mendidik anak usia dini bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi bagaimana proses anak berkembang. Ia percaya bahwa penanaman moral, agama, dan akhlak menjadi hal penting dalam pendidikan.
“Yang penting itu proses, bukan hanya hasil. Bagaimana anak-anak berproses dan berkembang.” katanya.
Setelah melewati berbagai perjalanan hidup, Turisah memandang bahwa setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Baginya, perjalanan hidup dapat digambarkan dengan sebuah kalimat sederhana.
“Badai pasti berlalu, indah pada waktunya.” katanya.
Kini, ia berharap dapat terus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar serta mencapai kesuksesan dunia dan akhirat.
Penulis : Yulia Avriani
Editor : Zulfa Kamila Oktafiani
