
Pelantikan dan Pembekalan Duta Anti Kekerasan 2025-2026 Universitas Jenderal Soedirman (Dok. Pribadi Salwa Putri Meilyana)
Purwokerto – Sudutnalar.com, Salwa Putri Meilyana, mahasiswi Agroteknologi angkatan 2025, sempat pesimis ketika mengikuti pemilihan Duta Anti Kekerasan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Minimnya pengalaman organisasi saat SMA membuatnya merasa minder. Namun, ia tetap memberanikan diri mendaftar hingga akhirnya terpilih sebagai Duta Anti Kekerasan Unsoed periode 2025–2026.
Keputusan Salwa mengikuti pemilihan tersebut berawal dari kepeduliannya terhadap isu kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. “Saya ingin mencoba organisasi yang lebih besar dan ingin menjadi relawan yang peduli dengan isu-isu kekerasan, terutama kekerasan seksual,” ujar Salwa. Ia juga melihat Duta Anti Kekerasan sebagai wadah untuk membantu menyampaikan persoalan kekerasan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan.
Rasa minder sempat muncul karena Salwa melihat peserta lain memiliki pengalaman yang lebih banyak. “Awalnya saya pesimis karena waktu SMA tidak ada pengalaman organisasi, saya hanya ikut olimpiade online,” katanya. Untuk menghadapi seleksi, Salwa mempersiapkan berbagai kemungkinan pertanyaan yang akan muncul saat wawancara. Menurutnya, seleksi tidak hanya melihat curriculum vitae (CV), tetapi juga cara peserta menjawab pertanyaan saat wawancara.
Setelah terpilih sebagai duta, Salwa mulai mencoba berbagai kegiatan di luar perannya. Ia bergabung sebagai anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran dan Riset (UKMPR) serta organisasi eksternal internasional Rotaract Aksakarsa. Ia juga mengikuti Duta Aksa Mengajar dengan mengunjungi panti asuhan, berbagi kebahagiaan bersama anak-anak, sekaligus memberikan edukasi.
Berbagai kegiatan tersebut membuat Salwa mendapat pengalaman baru, terutama dalam membangun relasi. Setelah terpilih menjadi duta, ia mendapat kesempatan menjadi narasumber dan menyampaikan materi mengenai kekerasan. Kesempatan tersebut membuatnya lebih sering bertemu dengan orang baru sekaligus menambah pengalaman dalam menyampaikan materi kepada orang lain.
Dalam menjalankan perannya sebagai Duta Anti Kekerasan, Salwa mengatakan bahwa salah satu tantangan muncul ketika pelaku tidak diketahui keberadaannya dan tidak mau bertanggung jawab. Kondisi tersebut membuat persoalan perlu ditelusuri lebih dalam agar dapat ditangani. Meski demikian, Salwa tetap melihat pentingnya dukungan bagi orang-orang yang mengalami kekerasan, terutama perempuan yang menjadi salah satu kelompok yang banyak mengalami kekerasan.
Dari perjalanan tersebut, Salwa memegang prinsip untuk berani keluar dari zona nyaman. “Kalau kita mau berkembang dan punya relasi atau ingin ikut lomba-lomba, maka kita harus berani mencoba untuk keluar dari zona nyaman,” tuturnya. Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak terlalu mengikuti perkataan orang lain ketika ingin mencoba sesuatu. “Jangan pernah ikutin apa kata orang, lakukan saja apa yang diri kamu inginkan,” pesan Salwa.
Penulis : Salamah
Editor : Saniya Rahma
