Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

(Dokumentasi: Prajnya Aulia Patria Legawa)
PURWOKERTO, SudutNalar β Suara mesin jahit terdengar bersahutan ketika memasuki kios jahit milik Leman. Di beberapa sudut, tumpukan kain dan pakaian yang belum selesai dijahit terlihat menunggu giliran. Di tengah suasana tersebut, terdengar musik mengalun menemani aktivitas Leman dan rekan kerjanya yang tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Sudah 25 tahun Leman menjalankan usaha jahit tersebut. Usaha jahit itu bukan warisan keluarga, melainkan usaha pertama yang ia bangun sendiri sejak awal. Sebelum memiliki usaha seperti sekarang, Leman terlebih dulu mengikuti seorang penjahit sebagai kernet angkot selama sekitar dua hingga tiga tahun. Dari sana, ia mulai mengenal pekerjaan menjahit hingga akhirnya mampu menjadi penjahit secara mandiri.
βDulu ikut penjahit, jadi kernet sekitar dua sampai tiga tahun. Setelah itu saya belajar menjahit sendiri, bisa dikatakan autodidak,β ujar Leman.
Pada awal membuka usaha, Leman bekerja seorang diri tetapi terkadang dibantu oleh sang istri. Seiring usahanya yang terus berkembang, ia mulai merekrut rekan kerja sekitar 20 tahun lalu. Jika dahulu terdapat lebih dari satu orang yang membantunya, kini hanya tersisa satu orang rekan kerja yang masih mendampinginya menyelesaikan pesanan pelanggan.
Bagi Leman, menjadi penjahit bukan sekadar menjalankan mesin dan menyatukan potongan kain. Tetapi pakaian memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Salah satu pekerjaan yang menurutnya membutuhkan ketelitian dan kesabaran lebih adalah saat membuat jas khusus. Untuk menyelesaikan satu jas, ia bahkan membutuhkan waktu hingga dua hari.
Kesabaran itu juga dibutuhkan ketika menghadapi kesalahan dalam proses pengerjaan. Selama 25 tahun menjalankan usaha, Leman menyadari bahwa perjalanan sebagai pengusaha tidak selalu berjalan mulus. Kesalahan seperti salah mengukur atau memotong kain pernah terjadi dan membuat konsumen kurang puas lalu mengatakan keluhannya.
Namun, ia bertanggung jawab atas pekerjaannya. Ketika terjadi kesalahan, Leman bersedia mengganti pakaian atau memperbaiki hasil jahitan sesuai kebutuhan pelanggan. Baginya, penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan dalam mempertahankan usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Kesibukan di tempat jahit biasanya meningkat ketika memasuki musim tahun ajaran baru. Pesanan pakaian sekolah membuat aktivitas di kios menjadi lebih padat dibandingkan hari-hari biasanya. Dalam sehari, Leman dapat menyelesaikan sekitar dua setel seragam sekolah. Jika pesanan sedang menumpuk, waktu bekerja yang biasanya berlangsung pukul 09.00 hingga 16.30 harus diperpanjang hingga sekitar pukul 21.00.
Di tengah perubahan zaman dan berbagai pilihan pakaian siap pakai, pelanggan lama masih menjadi bagian penting dari perjalanan usaha Leman. Ada pelanggan yang masih datang dan mempercayakan pakaian mereka kepadanya sejak gadis hingga kini cucunya sudah bersekolah.
βDia dari zaman gadis sampai punya cucu masih setia jahit di tempat saya,β ujarnya.
Kesetiaan pelanggan itu yang mejadi salah satu bukti bahwa usaha yang dibangun dari keterampilan dan ketekunan dapat bertahan melewati waktu. Selama 25 tahun, Leman tidak hanya menjahit kain menjadi pakaian, tetapi juga membangun hubungan dengan orang-orang yang datang dan kembali mempercayakan pakaian mereka kepadanya.
Di antara suara mesin jahit yang terus berputar dan tumpukan kain yang menunggu diselesaikan, Leman tetap bekerja seperti biasa. Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak ia pertama kali menjadi kernet hingga bisa menjahit. Kini, setiap jahitan yang selesai bukan hanya menyatukan potongan kain, tetapi menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah usaha yang ia bangun dengan tangan sendiri.
