
Β (Dok:Instagram@begalan.glogokseok)
BANYUMAS β Tradisi Begalan merupakan salah satu kesenian khas Banyumas yang hingga kini masih terus dilestarikan. Menurut pelaku seni Begalan, Bayu Ardiansyah, tradisi ini mulai disebarluaskan kepada masyarakat pada 1850. Seiring perkembangan zaman, Begalan tidak hanya ditampilkan dalam upacara pernikahan adat Banyumas, tetapi juga hadir dalam berbagai kegiatan, termasuk di lingkungan pendidikan.
Salah satu pertunjukan Begalan ditampilkan oleh komunitas Glogok Seok dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman. Kehadiran Begalan di lingkungan kampus menjadi salah satu bentuk pengenalan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Menurut pelaku seni Begalan, Bayu Ardiansyah, tradisi Begalan memiliki beberapa versi sejarah. Salah satu versi menyebutkan bahwa Begalan berkaitan dengan perjalanan Adipati Wirasaba yang mengalami peristiwa pembegalan di tengah perjalanan. Seiring perkembangan zaman, Begalan tidak lagi terbatas pada upacara pernikahan adat, pertunjukan Begalan juga digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti acara pendidikan, peresmian gedung, dan pembukaan acara.
βBegalan sekarang tidak hanya untuk pernikahan. Sudah bisa digunakan dalam berbagai acara, seperti kegiatan pendidikan, peresmian gedung, maupun pembukaan acara,β ujar Bayu.
Dalam penyajiannya, Begalan terus mengalami penyesuaian agar dapat menarik perhatian generasi muda. Meski demikian, penyesuaian tersebut tetap dilakukan dengan mempertahankan pakem dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Bayu mengatakan bahwa perkembangan zaman menjadi tantangan sekaligus peluang bagi keberlangsungan Begalan. Pengaruh budaya luar dan perkembangan media sosial dapat menyebabkan terjadinya percampuran budaya yang tidak selalu memperhatikan kearifan lokal.
Meski menghadapi tantangan tersebut, respons masyarakat terhadap pertunjukan Begalan, terutama dari kalangan generasi muda, dinilai cukup positif. Hal ini karena Begalan tidak hanya menghadirkan unsur hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan filosofi kehidupan.
Selain itu, pertunjukan Begalan juga mengedepankan nilai-nilai yang dapat diterima oleh berbagai kalangan serta menghindari unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Keberadaan Begalan di lingkungan kampus menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang di tengah perkembangan zaman. Melalui pertunjukan dan pengenalan kepada generasi muda, Begalan diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyumas. Dengan demikian, Begalan dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Penulis :Yuliyastin Gebi Saputri
Editor :Septia Berliana
