Penulis: Cahya Anggraeni / Editor: Dania Anggita Nirmalaningtyas

BANYUMAS, SudutNalar — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan panjangnya antrean di SPBU menurunkan pendapatan harian pengemudi ojek online asal Karangpucung, Budi Rahyono, hingga 15%. Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara di Purwokerto, Senin (28/9/2026). Menurut Budi, penurunan tersebut disebabkan oleh biaya operasional yang membengkak dan waktu kerja produktif yang terbuang.
Kendala utama Budi adalah antrean Pertalite yang rata-rata memakan waktu hingga 30 menit setiap kali pengisian. Hal ini berdampak pada peluang mendapatkan penumpang, terutama pada waktu krusial.

“Otomatis, Mbak. Kalau jam sibuk, saat anak sekolah berangkat atau pulang, peluang untuk mendapatkan order berkurang banget,” ujarnya.
Untuk mengatasinya, Budi beralih ke Pertamax saat sedang terburu-buru. Biayanya pun membengkak, dari sekitar Rp35.000 untuk pengisian Pertalite menjadi Rp50.000. Meski demikian, ia menilai kerugian terbesar justru datang dari waktu yang terbuang di antrean, bukan dari selisih harga BBM.
“Yang paling berat itu antre, Mbak. Saya mending ke Pertamax,” tegasnya. Sejak harga bahan bakar naik, pendapatan bersih yang dibawanya pulang setiap hari turun drastis.
Budi berharap ketersediaan BBM dan kelancaran antrean di SPBU segera diperbaiki. Dengan begitu, waktu mereka di jalanan kembali efektif dan pendapatan harian kembali stabil.
